Sembuh COVID-19 Rasa Lelah Tak Hilang, Bagaimana Mengatasinya?

Ilustrasi Kelelahan, Ngantuk, bekerja
Ilustrasi Kelelahan, Ngantuk, bekerja
Sumber :
  • Pixabay/ Concord90

VIVA – Bagi para penyintas COVID-19, keinginan untuk pulih sepenuhnya terkadang perlu perjuangan, karena masih mengintainya kondisi post-COVID syndrome. Salah satu gejala yang kerap dirasakan adalah kelelahan/fatigue.

Post-COVID syndrome adalah kumpulan gejala, tanda, dan parameter klinis yang masih dirasakan lebih dari 2 minggu sesudah terkena COVID-19. Kondisi ini tidak kembali ke keadaan awal sebelum sakit. Ada 5 gejala paling sering terjadi pada penyintas COVID-19, yaitu: Kelelahan/fatigue (58%), Sakit kepala (44%), Gangguan fokus (27%), Rambut rontok/hair loss (25%), Sesak napas (24%), Gejala lainnya, seperti batuk, perasaan tidak nyaman di dada, gangguan kardiovaskular (aritimia, miokarditis), neurologis (demensia, depresi, gangguan kecemasan, attention disorder, obsessive compulsive disorders).

Mengenai hal ini, Dokter Spesialis Penyakit Dalam- RS Pondok dr. Hikmat Pramukti, Sp.PD mengatakan, Kelelahan/fatigue adalah gejala yang paling sering ditemukan pada post-COVID syndrome. Beberapa studi menyatakan keluhan ini masih dirasakan penyintas COVID-19, bahkan setelah 100 hari sejak terkena COVID-19. Pada pasien yang sempat mengalami kondisi gangguan paru berat saat terkena COVID-19, seperti acute respiratory distress syndrome (ARDS), dua pertiga dari mereka merasakan keluhan fatigue yang signifikan setelah setahun terkena COVID-19. 

"Keluhan yang dirasakan sangat mirip dengan sindroma chronic fatigue/kelelahan kronis, yakni terdiri dari kelelahan yang menjadikan tubuh tidak berdaya, nyeri, mengalami disabillitas neurokognitif, gangguan tidur, gejala disfungsi otonom, serta perburukan kondisi fisik dan kognitif," ujar dr  Hikmat Pramukti lewat rilis yang dikirimkan pada VIVA.co.id

RSPI - dr. Hikmat Pramukti, Sp.PD

RSPI - dr. Hikmat Pramukti, Sp.PD

Photo :
  • Dokumentasi RSPI

Dijelaskan pula oleh dr Hikmat, kondisi hipertensi, obesitas, serta gangguan kesehatan mental menjadi beberapa faktor risiko seseorang mengalami post-COVID syndrome. Sementara itu, penyebab pasti terjadinya post-COVID
syndrome masih terus diobservasi. Ada pula yang menyebutkan bahwa post-COVID syndrome terjadi akibat kerusakan organ-organ yang disebabkan oleh virus dan sisa peradangan yang masih berlangsung walaupun virus sudah tidak ada.

Mengatasi kelelahan/fatigue