6 Hal yang Harus Diketahui Tentang Caca Monyet
- pixabay
VIVA – Otoritas Kesehatan telah mengkonfirmasi bahwa cacar monyet, penyakit menular yang biasanya ditemukan di beberapa bagian Afrika telah tiba di AS setelah beberapa kasus dilaporkan di seluruh Eropa.
Kasus pertama yang terkait dengan wabah saat ini dilaporkan di Inggris pada 7 Mei pada seseorang yang baru-baru ini bepergian ke Nigeria, di mana mereka diyakini telah tertular penyakit tersebut. Lima kasus monkeypox telah dikonfirmasi di Portugal, sementara Spanyol memiliki tujuh kasus.
Kanada sedang menyelidiki 13 kasus dugaan penyakit tersebut, dengan pasien AS dilaporkan baru-baru ini bepergian ke negara itu. Apa itu penyakit cacar monyet? Dan dari mana asalnya? Simak ulasan selengkapnya berikut ini yang melansir dari fortune.
Penyakit cacar monyet
Cacar monyet adalah penyakit zoonosis yang langka, artinya penyakit ini disebabkan oleh kuman yang menyebar antara hewan dan manusia. Ini adalah virus yang terutama disebarkan oleh hewan liar di bagian barat dan tengah Afrika, menurut WHO penularan dari manusia ke manusia juga dapat terjadi, dan kadang-kadang diekspor ke bagian lain dunia ketika orang yang terinfeksi bepergian.
Ada dua varian virus, yakni strain Afrika Barat dan strain Afrika Tengah. Kasus-kasus yang diidentifikasi di Inggris semuanya merupakan jenis virus Afrika Barat, yang dianggap lebih ringan daripada jenis Afrika Tengah.
Apa saja gejalanya?
cacar monyet
- stat news
Menurut Layanan Kesehatan Nasional Inggris (NHS), gejala pertama cacar monyet termasuk demam, sakit kepala, nyeri otot, kelelahan, dan kelenjar bengkak. Ruam muncul satu hingga lima hari setelah gejala pertama, seringkali dimulai pada wajah sebelum menyebar ke bagian tubuh lainnya. NHS mengatakan, ruam yang dimulai sebagai bintik-bintik terangkat yang berubah menjadi lecet sebelum jatuh, sering disalahartikan dengan cacar air.
Professor Neil Mabbot, ketua pribadi imunopatologi di Institut Roslim Universitas Edinburgh mengatakan jika di negara-negara seperti Inggris atau AS gejalanya ringan. Dia juga mengatakan, saat ini tidak ada cukup data untuk menentukan apakah demografi tertentu beresiko tinggi mengembangkan gejala yang lebih parah.Â