Muncul Subvarian BA.4.6, Picu Kasus COVID-19 Melonjak?

Ilustrasi COVID-19/virus corona.
Ilustrasi COVID-19/virus corona.
Sumber :
  • Pixabay/mattthewafflecat

VIVA Lifestyle – Kasus COVID-19 akibat Omicron masih meningkat, termasuk juga pasien di rawat inap dan kematian. Namun, belum reda tingginya kasus akibat subvarian BA.5 dan BA.4, kini para ahli kembali mendeteksi subvarian baru yakni BA.4.6. Akankah lebih menular?

Dikutip dari laman Deseret News, subvarian omicron BA.5 diduga menjadi pemicu sebagian besar kasus baru. Sementara BA.4, subvarian saudara, saat ini menyumbang 7,7 persen dari kasus baru, menurut data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC).

Para ahli dan pejabat mendesak individu yang berusia di atas 50 tahun atau mereka yang kekebalannya sangat lemah untuk segera divaksinasi. Dr. Ashish Jha mengatakan dalam konferensi pers Koordinasi Respons COVID-19 baru-baru ini bahwa vaksin dapat membantu mencegah keparahan.

"Vaksin yang ada terus memberikan perlindungan yang kuat terhadap penyakit serius, rawat inap, dan kematian. (Karena) perlindungan berkurang seiring waktu, sangat penting bagi orang untuk dapatkan booster untuk tetap up to date," tuturnya.

Ilustrasi vaksinasi anak.

Ilustrasi vaksinasi anak.

Photo :
  • Istimewa

Menurut sebuah penelitian, yang diterbitkan dalam jurnal medis JAMA Network Open, para peneliti di Israel menemukan bahwa, di antara hampir 30.000 petugas kesehatan, “tingkat infeksi terobosan di antara mereka yang menerima 4 dosis adalah 6,9 persen dibandingkan dengan 19,8 persen pada mereka yang menerima 3 dosis,” menunjukkan bahwa dosis keempat efektif.

Varian omicron baru BA.4.6 sudah menyebar di empat negara bagian

Meskipun BA.5 saat ini merupakan 85,5 persen dari penyebab kasus, varian baru atau spin-off dari BA.4, muncul. Chief officer CDC men-tweet bahwa subvarian baru mulai muncul.

"Telah beredar selama beberapa minggu. membuat 4,1% kasus untuk minggu lalu," jelasnya.

Badan kesehatan menganggapnya sebagai varian perhatian, sebutan yang diberikan CDC ketika ada kemungkinan penularan dan keparahan yang lebih besar, atau karena berkurangnya efektivitas pengobatan dan netralisasi oleh antibodi.

Ilustrasi COVID-19/virus corona

Ilustrasi COVID-19/virus corona

Photo :
  • Pixabay/Tumisu

Menurut Fortune, subvarian baru sudah lazim di empat negara bagian antara lain Lowa, Kansas, Missouri, dan Nebraska. Subvarian itu menyumbang 10 persen kasus lokal dan telah terdeteksi di 43 negara lain.

Varian lain yang menjadi perhatian adalah BA.4, BA.2 dan BA.2.12.1. CDC juga mencantumkan BA.1.1.529 dan BA.1.1 dalam kategori itu, meskipun mereka merupakan 0 persen dari kasus.

Apa saja gejala omicron teratas yang harus diwaspadai?

"Seperti yang saya laporkan sebelumnya, subvarian omicron memiliki masa inkubasi yang lebih pendek, itulah sebabnya gejalanya mungkin muncul lebih awal. Gejala terburuk adalah tenggorokan terbakar," kata Dr. Peter Chin-Hong dari UCSF.

Gejala terkait omicron yang paling umum adalah batuk, kelelahan, hidung mampet, dan hidung meler.