4 Fakta Baru Virus Langya, Seberapa Bahaya?

Ilustrasi tikus.
Ilustrasi tikus.
Sumber :
  • Pixabay.

VIVA Lifestyle – Selang beberapa tahun setelah COVID-19 pertama kali terdeteksi dan menguasai dunia, para ilmuwan telah memperingatkan tentang virus lain yang sama sekali baru. Langya henipavirus (LayV), atau dikenal sebagai virus Langya, sejauh ini hanya menginfeksi beberapa lusin orang di China timur. Lalu, seberapa bahayakah virus ini?

Dikutip dari The Sun, Kamis 11 Agustus 2022, sejauh ini, tidak ada pasien yang terinfeksi virus Langya yang baru meninggal, dan tidak ada yang sakit parah atau meninggal. Lantas, apa saja fakta-faktanya?

Virus LayV
Virus Langya adalah bagian dari famili henipavirus, yang dua spesiesnya telah diidentifikasi sebelumnya - virus Hendra dan virus Nipah. Ini sering menghasilkan penyakit parah dan fatal pada manusia dan saat ini tidak ada vaksin atau perawatan. Henipavirus diklasifikasikan sebagai biosafety Level 4 dengan tingkat kematian kasus antara 40 dan 75 persen, menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Dideteksi di China
Virus ini pertama kali terdeteksi di dua provinsi timur laut di China, Shandong dan Henan. Penemuan ini pertama kali disorot dalam sebuah surat yang ditulis oleh para peneliti dari China, Singapura dan Australia dan diterbitkan di New England Journal of Medicine bulan ini.

Ilustrasi  virus.

Ilustrasi virus.

Photo :
  • Pixabay/geralt

Deretan gejalanya
Mereka yang tertular virus ini dilaporkan mengalami gejala mirip flu seperti demam, kelelahan, batuk, kehilangan nafsu makan, nyeri otot, mual, sakit kepala, dan muntah. Dari 35 orang yang diidentifikasi tertular virus, sembilan di antaranya tidak menunjukkan gejala.

Penularan hewan ke manusia
Virus “Langya” adalah virus zoonosis, penyakit yang dapat menyebar dari hewan ke manusia. Para peneliti telah mendeteksi virus terutama pada tikus. Mereka percaya bahwa setiap orang yang tertular virus dianggap tertular dari hewan. Tidak ada bukti sejauh ini bahwa Langya dapat diturunkan antar manusia.