2 Metode Canggih Tanpa Operasi Atasi Kebotakan, Rambut Makin Tebal

Ilustrasi kebotakan.
Ilustrasi kebotakan.
Sumber :
  • U-Report

VIVA Lifestyle – Di seluruh dunia, sekitar 60 persen pria dan 50 persen wanita mengalami beberapa bentuk kerontokan rambut. Meski terlihat sepele, ternyata kondisi tersebut memicu sebagian besar masyarakat mengalami penurunan kepercayaan diri dalam beraktivitas serta sosialisasi dengan orang lain.

Dokter Ahli Transplantasi Rambut, dr. Cintawati Farmanina, Mbio (AAM) menjelaskan bahwa rambut rontok seringkali menjadi masalah yang nyata pada setiap orang. Sayangnya, kondisi itu kurang dibicarakan karena adanya stigma yang mengakibatkan dampak emosional dan sosial yang mendalam. 

"Padahal, rambut merupakan aspek penting dari penampilan manusia dan memiliki dampak signifikan pada daya tarik dan kepercayaan diri seseorang. Berdasarkan penelitian, satu dari enam orang akan merasa tidak nyaman melakukan kontak fisik dengan seseorang yang mengalami kebotakan atau kerontokan rambut," ujar dokter ahli bersertifikasi internasional tersebut dalam acara virtual Hair Loss Awareness Month bersama Farmanina Aesthetic & Hair Clinic, Selasa 16 Agustus 2022.

Secara umum, seseorang kehilangan 60 hingga 100 helai rambut per hari. Bila jumlahnya di atas rata-rata, maka perlu melakukan konsultasi dengan ahlinya untuk mendapatkan diagnosa dan perawatan yang lengkap. Rambut rontok memengaruhi pria dan wanita dari segala usia, dan banyak orang merasa sulit untuk berbicara atau mencari bantuan. 

"Maka dari itu, Farmanina Aesthetic & Hair Clinic mendukung Hair Loss Awareness Month di Indonesia agar semakin banyak pasien yang mendapatkan bantuan, dukungan dan pengobatan rambut rontok," tuturnya.

Khusus untuk pria, kebotakan pola (androgenetic alopecia) yang disebabkan oleh faktor genetik menyumbang lebih dari 95% kerontokan rambut. Menurut American Hair Loss Association, sekitar 25 persen pria mulai kehilangan rambut mereka sebelum usia 21 tahun.

Pada usia 35, sekitar 66 persen pria akan mengalami beberapa tingkat kerontokan rambut. Pada usia 50, sekitar 85 persen pria akan memiliki rambut yang jauh lebih tipis. 

"Sementara pada wanita, kerontokan rambut lebih sering terjadi karena pengaruh hormonal, seperti menyusui, faktor usia dan menopause, serta gaya hidup tidak sehat pada rambut seperti terlalu sering di cat, atau memakai hijab dan menyisir di saat rambut basah," kata dokter Farmanina.

Ilustrasi botak

Ilustrasi botak

Photo :

Kondisi tersebut membutuhkan penanganan khusus, seperti perawatan plasma darah (PRP – Platelet Rich Plasma) dan transplantasi rambut. Dokter Farmanina, menambahkan bahwa perawatan PRP dan Transplantasi rambut menjadi pilihan terbaik untuk membantu orang mendapatkan kembali kepadatan, cakupan, dan kesehatan rambut dan kulit kepala. 

"PRP merupakan perawatan yang mengolah dan memisahkan darah dan plasma darah pasien itu sendiri. Setelah itu, plasma darah disuntikkan ke kulit kepala untuk mengatur pertumbuhan rambut yang lebih cepat, lebih panjang, dan tidak mudah rontok. Dalam perawatan PRP juga ditambahkan nutrisi untuk rambut seperti vitamin D, biotin, dan zink untuk memaksimalkan pertumbuhan rambut," tutur Cintawati Farmanina,.

Pada PRP, fase tumbuhnya rambut dipercepat serta fase bertahan diperpanjang, namun fase kerontokan rambut diperlambat atau bahkan dihilangkan. Akan tetapi, PRP hanya bisa dikerjakan bila pasien memiliki akar rambut sehingga akan tumbuh dengan lebih baik.

"Ketika nggak ada akar rambut, jangan pernah berharap rambut tumbuh lagi. Karena ini diambil dari darah sendiri, jauh dari kata infeksi. Minimumnya dikerjakan 6 bulan, hasil sudah bagus, nantinya bisa selesai," jelasnya.

Untuk kasus lain dengan kebotakan yang lebih luas tanpa akar rambut, maka transplantasi rambut merupakan jalan terbaik dengan menggunakan teknologi DHI (Direct Hair Implant). Metode DHI merupakan metode transplantasi rambut terbaik dunia yang memiliki tingkat keberhasilan hingga 97% dengan hasil rambut yang lebih natural, estetik dan sesuai dengan keinginan pasien. Dalam metode DHI, kedalaman dan arah penanaman terukur sehingga memberikan angle yang baik.

"Kalau mau lakukan transplantasi, cek lab dulu, skrining semua. Konsul dulu kalau ada sakit jantung. Pada pasien yang waktu perdarahan panjang, treatment dulu agar tidak terjadi bleeding, kondisi lainnya oke. Waktu terberat transplantasi ketika tengkurap, perlu waktu 3-4 jam. Kalau orang terlalu gemuk, ada asma, harus siap dengan keadaan tengkurap itu," ujar Cintawati Farmanina,.