Ditemukan di Sejumlah Negara, Seberapa Bahaya Varian Baru Virus Corona Pirola?

Ilustrasi COVID-19/Virus Corona.
Sumber :
  • pexels/Edward Jenner

JAKARTA – Varian baru virus corona yakni BA.2.86 atau disebut Pirola ditemukan di empat negara pada Agustus lalu. Awalnya virus tersebut ditemukan oleh ilmuan Israel di pertengahan Agustus. Kemudian Denmark melaporkan hal serupa menyusul Amerika Serikat dan Inggris tentang temuan varian ini.

Kemenkes: COVID-19 Tidak Sepenuhnya Hilang, Masih Ada Potensi Muncul Varian Baru

Hingga minggu ketiga di Agustus lalu Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) masih menetapkan Pirola sebagai varian dalam pemantauan. Namun awal September ini, dua tim ilmuan dari Amerika Serikat melakukan eksperimen terkait varian ini.

Eksperimen ini dilakukan dengan melihat antibodi dari penduduk Amerika Serikat yang telah divaksinasi dan terinfeksi. Para peneliti menemukan bahwa sistem kekebalan tubuh kita dapat mengenali dan melawan Pirola sebaik, dan mungkin bahkan sedikit lebih baik daripada, varian COVID XBB lain yang saat ini beredar. 

Kemenkes: Tetap Terapkan Protokol Kesehatan Waspadai COVID-19 Varian KP.1 dan KP.2

Ilustrasi COVID-19/virus corona

Photo :
  • Freepik

Studi tersebut juga mengungkapkan bahwa orang yang memiliki respons paling kuat terhadap BA.2.86 adalah mereka yang berada dalam waktu enam bulan setelah terinfeksi subvarian XBB.

7 Fakta COVID-19 Melonjak di Singapura, Sepekan Capai 25 Ribu Kasus

"Dua laboratorium independen pada dasarnya menunjukkan bahwa BA.2.86 pada dasarnya bukanlah pelarian kekebalan lebih lanjut dibandingkan dengan varian saat ini," kata direktur Pusat Penelitian Virologi dan Vaksin di Beth Israel Deaconess Medical Center dan pemimpin salah satu dari laboratorium,  Dr. Dan Barouch, mengatakan kepada CNN seperti dikutip Times of India. 

Hasil laboratorium menunjukkan bahwa Pirola mungkin tampak lebih menakutkan daripada yang sebenarnya. Namun, dalam penelitian lainnya. Ditemukan varian COVID, FL.1.5.1, yang menyebabkan sekitar 15 persen infeksi baru COVID-19 di AS, merupakan varian yang paling kebal terhadap imunitas dalam uji laboratorium. 

Varian ini memiliki konstelasi mutasi yang membuat para pelacak varian terkejut, lapor CNN.

Di laboratorium lain, seorang profesor mikrobiologi dan imunologi di Universitas Columbia, Dr. David Ho dan timnya menggunakan plasma darah dari 61 orang dewasa: 17 orang yang telah mendapat tiga dosis vaksin monovalen dan dua vaksin bivalen, 25 orang yang telah pulih dari penyakit. Infeksi terobosan BA.2 dan 19 orang yang pulih dari infeksi terobosan XBB.

Ilustrasi COVID-19/virus corona

Photo :
  • Pixabay/Tumisu

Hasilnya juga bagus di sini, yang mana di berbagai profil kekebalan, antibodi dalam darah mampu mengenali BA.2.86 sama kemampuannya dengan varian lain yang beredar.

Terlepas dari temuan yang meyakinkan, tetap waspada dan tetap penting karena banyak pasien rawat inap dan kematian terjadi selama gelombang Omicron, yang secara teknis merupakan versi virus yang lebih jinak. Gelombang Omicron mengajarkan kita betapa cepatnya virus Corona dan betapa rapuhnya pertahanan kita dalam menghadapi perubahan besar seperti ini.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya