Perkembangan Terbaru Pengobatan TBC Resisten Obat, Bikin Cepat Sembuh dengan Obat Ini!

Ilustrasi batuk.
Sumber :
  • Freepik/drobotdean

Semarang – Pengobatan untuk Tuberkulosis Resisten Obat (TB RO) seringkali mengalami kendala karena pasien kesulitan mempertahankan konsistensi dalam menjalani pengobatan. Beberapa pasien TB RO bahkan menghentikan pengobatan karena durasi yang terlalu panjang, bisa mencapai 20-24 bulan. 

Minta Aturan Tembakau Dipisah dari RPP Kesehatan, Ekosistem Tembakau Beri Penjelasan

Namun, perkembangan terbaru dalam pengobatan TB memberikan harapan baru dengan penggunaan obat jenis BPaL (Bedaquiline, Pretomanid, dan Linezolid) yang disarankan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Obat ini memungkinkan pengobatan yang lebih singkat daripada sebelumnya.

Acara NGOPI (Ngobrol Pagi) Kesehatan di radio Gajahmada FM

Photo :
  • Istimewa
Sri Mulyani Rancang Anggaran Kesehatan 2025 Rp 217,8 Triliun, Termasuk Buat Gizi Anak-Ibu Hamil

Dalam sebuah acara “NGOPI (Ngobrol Pagi) Kesehatan” di radio Gajahmada FM, dr. Dinda Saraswati Ratnaningsih dari RSUP dr. Kariadi, Semarang, menjelaskan bahwa penggunaan BPaL telah membawa perubahan signifikan dalam pengobatan TB RO. Durasi pengobatan yang lebih singkat diharapkan dapat meningkatkan motivasi pasien untuk tetap konsisten dalam minum obat.

Yayasan Mentari Sehat Indonesia turut berperan dalam inisiasi dan implementasi penggunaan BPaL bagi pasien TB RO di Jawa Tengah. Mereka bekerja sama dengan Dinas Kesehatan di berbagai daerah untuk melakukan screening terhadap suspek pasien TB. 

Ruben Onsu Dilarikan ke RS, Jordi Onsu Panik dan Didesak Baikan oleh Netizen

Ilustrasi menutup batuk dengan siku

Photo :
  • times of india

Yayasan MSI juga aktif melibatkan Kader dalam proses pemantauan dan pendampingan pengobatan, serta berkolaborasi dengan Bakrie Center Foundation untuk program penanggulangan TBC lintas sektor.

Menurut Ketua Yayasan Mentari Sehat Indonesia, Dr. Supriyanto, Indonesia memiliki peringkat kedua tertinggi di dunia dalam kasus TB. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah untuk mengambil langkah serius dalam percepatan eliminasi TB pada tahun 2030. 

“Sebagai peringkat kedua di dunia, Indonesia harus menyikapi peningkatan kasus TB sebagai hal yang positif mengingat tanpa ada penemuan kasus, pengobatan untuk TB tidak akan berjalan,” jelas Dr. Supriyanto. 

Salah satu langkahnya adalah dengan menyebarkan informasi tentang TB melalui media sosial resmi agar masyarakat lebih memahami pentingnya pencegahan dan pengobatan TB.

Tantangan terbesar dalam upaya penanggulangan TB adalah stigma negatif yang masih melekat pada penyakit ini. Masyarakat sering kali takut untuk memeriksakan diri saat mengalami gejala TB. Oleh karena itu, edukasi masyarakat tentang TB menjadi kunci untuk mengurangi stigma dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya pencegahan dan pengobatan.

“Kunci untuk mengurangi stigma adalah masyarakat harus diberikan informasi yang cukup tentang TBC. Kita lihat saat ini, informasi tentang TB masih cukup terbatas, bahkan bisa saja satu tahun sekali tergantung akan momen seperti sekarang ini,” pungkasnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya