Kanker Paru Sering Terlambat Dideteksi, Ini Solusinya
- www.medis.web.id
LDCT merupakan salah satu teknologi skrining yang terbukti efektif mendeteksi kanker paru pada tahap awal. Metode ini memungkinkan identifikasi kelainan pada jaringan paru bahkan sebelum gejala muncul. Dua studi besar mendukung efektivitas metode ini. National Lung Screening Trial (NLST) di Amerika Serikat mencatat penurunan angka kematian sebesar 20% dengan penggunaan LDCT dibandingkan rontgen dada biasa. Sementara itu, NELSON Trial di Eropa menunjukkan penurunan kematian hingga 24% pada pria dan 33% pada wanita dalam rentang waktu 10 tahun.
Dr. Jamal Zaini, Ph.D, Sp.P.K.R, Subsp. Onk.T. (K)
- ist
Dr. Jamal Zaini, Ph.D, Sp.P.K.R, Subsp. Onk.T. (K), menjelaskan bahwa, “Mengenali faktor risiko kanker paru sangat penting. Beberapa faktor tersebut meliputi riwayat merokok, paparan zat karsinogenik, usia, serta riwayat kanker dalam keluarga. Bagi individu dengan faktor-faktor risiko ini, disarankan untuk melakukan skrining rutin sedini mungkin guna mendeteksi kanker paru pada tahap awal.”
Ia juga menambahkan bahwa LDCT sangat efektif untuk mendeteksi kanker dalam ukuran kecil sebelum gejala muncul.
“Salah satu metode skrining yang direkomendasikan adalah Low-Dose Computed Tomography (LDCT), yang dapat membantu menurunkan angka kematian akibat kanker paru, terutama pada kelompok berisiko tinggi. LDCT mampu mendeteksi kelainan pada paru sejak dini dan dalam ukuran sangat kecil, bahkan sebelum munculnya gejala, sehingga memungkinkan intervensi lebih cepat dan peluang kesembuhan lebih besar," ujarnya.
Ilustrasi gambar paru-paru.
- Pixabay
Skrining saja belum cukup. Setelah terdeteksi adanya indikasi kanker paru, pasien perlu menjalani serangkaian pemeriksaan lanjutan termasuk biopsi dan tes biomolekuler, seperti tes EGFR, terutama pada kasus kanker paru tipe Non-Small Cell Lung Cancer (NSCLC).
“Jika hasil skrining menunjukkan indikasi kanker, pasien akan disarankan menjalani biopsi untuk memastikan keganasan dan jenis kankernya. Jika teridentifikasi sebagai NSCLC adenokarsinoma, maka tes biomolekuler seperti EGFR sangat dianjurkan untuk menentukan terapi yang paling efektif,” ujar dr. Jamal.
Tes EGFR menjadi sangat relevan di Indonesia karena prevalensi mutasi gen ini tergolong tinggi. Berdasarkan meta-analisis dari 57 studi, prevalensi mutasi EGFR mencapai 49,1% pada pasien NSCLC stadium lanjut di Asia, jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah Eropa yang hanya 12,8%.