Cita Rasa Sulawesi Tenggara pada Kabuto, Si Ubi Fermentasi

Kabuto, kuliner khas Sulawesi Tenggara.
Kabuto, kuliner khas Sulawesi Tenggara.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Kamarudin Egi (Sulawesi Tenggara)

VIVA – Sulawesi Tenggara punya empat suku adat, yaitu Muna, Buton, Tolaki dan Moronene. Masing-masing memiliki beragam kuliner khas yang disajikan dalam kehidupan sehari-hari. Khusus Muna, ada kuliner yang dikenal dengan sebutan kabuto.

Sepintas namanya seperti dalam bahasa Jepang, tapi kabuto ini kuliner Indonesia asli. Bahan dasarnya ubi yang telah melewati proses fermentasi lama dengan cara dijemur.

Kabuto adalah ubi kayu fermentasi yang dikukus dan memiliki rasa khas, bertekstur lembek dan lentur saat dihidangkan. Biasa disajikan berbentuk potongan mirip ubi kayu segar. Kadang juga dipotong kecil sebesar ukuran dadu.

Proses pengolahannya yang harus diperam dan dijemur satu hingga dua minggu sebelum dimakan, menyebabkan perbedaan warna dan rasa yang jauh berbeda dengan ubi segar yang biasa diperoleh di pasar.

Setelah difermentasi, ubi ini juga kemudian berubah warna dan nama menjadi ubi kabuto. Sesuai namanya, kabuto dalam masyarakat adat Muna sering diartikan dengan kata ‘rusak’ atau ‘jelek’. Mengapa demikian? Karena dasarnya, kabuto memang adalah ubi yang rusak dan menghitam di beberapa bagiannya.

Kadang juga berwarna kuning kecoklatan, coklat kuning kehitaman atau putih bercampur kuning dan coklat.  Meskipun terbuat dari ubi kayu segar, tetapi rasanya jauh berbeda dari singkong atau ketela rebus pada umumnya.

Di daerah asalnya, Pulau Muna, kabuto sangat nikmat saat disantap bersama sayur bening dan ikan asin yang digoreng atau dibakar. Namun, di Kota Kendari dan sekitarnya, makanan ini juga biasa disantap bersama ayam, ikan basah bahkan lauk berbahan dasar daging sapi.