Tingginya Pernikahan Anak Jadi Penyumbang Stunting Terbesar

Pernikahan dini/anak.
Sumber :
  • Pixabay

VIVA – Upaya penanggulangan stunting harus dimulai jauh ke belakang, yaitu dengan memberi perhatian pada kesehatan remaja dan terutama calon ibu.

img_title Bukan Cuma Telur dan Ikan, Bekicot Kini Dilirik untuk Cegah Stunting

Sebab, stunting bukan hanya persoalan saat anak mengalami persoalan gizi, tapi pencegahan stunting harus diawali dengan memastikan calon ibu benar-benar siap menghadapi 1000HPK (Hari Pertama Kehidupan).

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain itu, perkembangan kesehatan saat remaja juga sangat menentukan kualitas seseorang untuk menjadi individu dewasa. Masalah gizi yang terjadi pada masa remaja akan meningkatkan kerentanan terhadap penyakit di usia dewasa serta berisiko melahirkan generasi yang bermasalah gizi.

img_title BKKBN Dan Astra Pede Angka Stunting Bisa Berkurang Berkat Program Genting

Ketua TP PKK Jawa Timur, Arumi Bachsin mengungkapkan, penanganan stunting di wilayahnya adalah prioritas yang langsung dipimpin oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.

"Intervensi stunting memang harus saat dalam kandungan, namun itu saja sudah telat. Momen yang paling tepat adalah ketika remaja, sehingga mereka siap untuk menjadi ibu," ujarnya dalam webinar yang diselenggarakan PP Muslimat NU dan Yayasan Abhipraya Insan Cendikia Indonesia (YAICI), baru-baru ini.

img_title Gak Cuma Bikin Kurus, Ketahui Dampak Stunting Pada Masa Depan Anak

Arumi juga mengakui, saat ini penyumbang terbesar stunting adalah tingginya pernikahan di usia anak. Penyebabnya adalah kemiskinan, putus sekolah, kurangnya pendidikan baik formal maupun non formal.

Oleh karena itu, ia mengingatkan pentingnya edukasi tentang gizi harus disampaikan secara gamblang. Salah satunya adalah edukasi mengenai konsumsi kental manis yang masih jamak diberikan masyarakat sebagai minuman untuk anak-anak.

"Terkait kental manis menjadi salah satu faktor penyebab stunting, kita harus kedepankan fakta dan disampaikan dengan gamblang. Orang tua dalam hal ini ayah dan ibu harus bekerja sama menjaga anak dan mendidik orang tua (nenek) untuk tidak memberi kental manis kepada anak," tegas Arumi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Mendukung pernyataan Arumi, Dokter Spesialis Gizi Klinis UI, Dr. dr. Fiastuti Witjaksono, MSc, MS, SpGK(K), pun mengatakan, karakteristik perilaku konsumsi masyarakat Indonesia adalah senang mengonsumi manis, asin dan mengandung lemak.

"Asupan lemak rata-rata orang Indonesia memang hanya 32 persen, tidak lebih tinggi dibanding negara lain. Namun asupan lemak jenuhnya 2 kali lipat dari negara lain, dan ini adalah sumber dari segala penyakit," ungkap dia.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut