Waktu Tepat Ajarkan Anak Konsep Perkawinan

Ilustrasi parenting/orangtua dan anak.
Sumber :
  • Freepik/freepik.diller

VIVA Lifestyle – Di beberapa daerah di Indonesia, angka perkawinan anak masih sangat tinggi. Di sinilah peran keluarga dibutuhkan agar kasus ini bisa berkurang.

img_title Bukan di Tungku! Polisi Ungkap Lokasi Sebenarnya Dwi Bagus Bakar Jasad Istri Siri dan Anak di Madiun

Hal ini bisa dimulai dengan memberikan pemahaman pada anak mengenai perkawinan. Lantas, kapan orangtua bisa mengajarkan ini kepada anak?

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Psikolog anak dan keluarga Ayank Irma mengatakan, pembelajaran bisa dimulai dari kegiatan sehari-hari. Misalnya, ketika mengajak anak ke resepsi pernikahan.

img_title IQ di Atas Rata-rata, Dwi Bagus Pembunuh Istri Siri dan Anak di Madiun Diduga Habiskan 2 Hari untuk Hilangkan Jejak

Ilustrasi parenting/orangtua dan anak.

Photo :
  • Freepik/senivpetro

"Di sana orangtua bisa mengajarkan bahwa ini lho perkawinan," kata Ayank saat mengisi acara edukasi di SMPN 1 Cibeber, Cianjur, Jawa Barat, belum lama ini.

img_title Heboh! Pengelola Panti Asuhan di Gorontalo Dipolisikan Lakukan Kekerasan Seksual ke 4 Anak Asuh Berstatus Pelajar

Selain itu, orangtua juga harus mengajarkan mengenai bagaimana merawat tubuh, bagian apa yang boleh dan tidak boleh disentuh.

Kemudian di usia 7-8 tahun, di mana anak perempuan sudah lebih cepat mengalami pubertas dan sudah mulai muncul tanda-tanda pubertas, ini adalah usia yang tepat untuk pendidikan seksualitas dan kurikulum pernikahan.

"Mengenai hubungan pertemanan, pernikahan itu bagaimana," tambah Ayank.

Lalu, di usia 10-14 tahun adalah usia yang tepat untuk mengulang-ulang lagi mengenai konsep tersebut. Karena, di usia ini anak mulai mencari identitas diri. Rangsangan seksual juga sudah mulai dirasakan.

Ilustrasi ibu dan anak/parenting.

Photo :
  • Freepik/bristekjegor

Maka, anak perlu diajarkan bagaimana mengalihkan atau memindahkan energinya keluar ke kegiatan yang lebih positif agar tidak membayangkan mengenai seksualitas. Bahwa ada hal lain yang bisa dikerjakan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Jadi dari sedini mungkin konsep perkawinan diperdengarkan, diulang, di-review, bahwa menikah itu ada waktu dan kesiapan," jelas Ayank.

Ilustrasi Pembunuhan

Dijerat Pasal Pembunuhan Berencana, Dwi Bagus yang Habisi Istri Siri dan Anak di Madiun Terancam Hukuman Mati

Dwi Bagus Martono alias Bagus (40) diduga menyusun skenario untuk menutupi pembunuhan terhadap istri sirinya, Dini Hardiyanti (30), dan anaknya, AGF (4).

img_title
VIVA.co.id
28 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut