Jangan Asal, Ini Aturan Tepat Konten Anak Untuk Edukasi dan Fun

Ilustrasi anak dan ibu
Sumber :
  • Pexels/Ketut Subiyanto

VIVA Lifestyle – Puluhan ribu konten di media sosial menyasar pada tontonan untuk anak-anak sehingga para orang tua patut menyaringnya dengan jeli. Di sisi lain, pada pembuat konten anak dan untuk anak juga tak bisa asal dalam memberikan karya yang terkesan seru tapi sebenarnya tak mendidik.

Atta Halilintar Bocorkan Teka-teki Bayi Adopsi Raffi Ahmad, Berasal dari Palestina?

Psikolog (Psikolog Anak & Keluarga), Anna Surti Ariani, S.Psi.,M.Si, menjelaskan banyak hal yang harus dipertimbangkan mengenai konten pada anak baik sisi teknologi, kognitif maupun emosional anak. Dari sisi teknologi, anak sudah mampu mengenali berbagai fitur di media sosial alias tak lagi gagap teknologi (gaptek).

Sementara secara kognitif, anak diasah dalam membuat konten secara tepat dengan berbagai tahapannya. Serta secara emosional, kesabaran anak dibangun selama proses pembuatan konten tersebut. Namun, dalam membuat konten di Youtube perlu aturan yang harus dipahami anak. Apa saja?

Teuku Rifnu Wikana Ungkap Keponakan yang Jadi Korban Tabrak Lari adalah Anak Berprestasi

Ilustrasi anak pakai kacamata/main gadget.

Photo :
  • Pixabay.

"Persiapan sebuah konten. Muncul seperti apa, pakai pakaian apa, setting gimana, skenario bagaimana, siapa yang pas untuk tontonan seperti itu. Dari persiapan bisa membuat anak-anak berstrategi dan berfikir panjang," kata Nina, sapaan akrabnya, dalam webinar Mydoremi, baru-baru ini.

Hal Ini Buat Rossa Disangka Segera Nikah

Nina menegaskan bahwa anak-anak harus memahami berbagai aturan tersebut sebelum bisa tampil di publik karena akan tersebar luas di dunia maya. Dengan begitu, anak bisa memahami bahwa membuat konten itu membutuhkan proses panjang sehingga konten tersebut bisa awet dan bukan hanya dikenal dalam jangka pendek.

"Tidak hanya terkenal tapi anak paham. Ke depan anak bisa jadi edukator," kata Nina.

Lebih dalam, Nina tak menyarankan dalam pembuatan konten tersebut terlalu membatasi anak sehingga ide yang keluar pun tak membuahkan hasil yang baik. Batasan yang terlalu berlebihan justri menekan anak sehingga tak ada motivasi untuk membuat karya yang luar biasa.

"Usahakan tidak dilakukan membatasi anak untuk secara kaku. Nggak boleh buka YouTube buat konten ini itu. Terlalu banyak batasan kalau tidak didiskusikan akan membuat anak tertekan dan tidak tahu yang akan dilakukan," tambahnya.

Selain itu, Nina tak menganjurkan pembuatan konten yang dilakukan secara spontan tanpa memahami konsep. Sebab, hal itu justru membahayakan anak dari para penonton yang bisa bertujuan buruk. 

Ilustrasi anak belajar.

Photo :
  • Pexels/Julia M Cameron

"Apa yang muncul secara spontan langsung dipublikasikan begitu saja. Kadang ada hal yang tidak bisa dikonsumsi secara umum," tambah Nina 

Senada, Youtuber cilik dan anak dari Ryan The Masiv Ralia Rules yang memulai youtuber channelnya di umur 4 tahun menyatakan bahwa sangat menikmati proses dirinya bisa berkreasi apapun dari hobinya. Kesehariannya untuk bisa mewujudkan ekspresi dirinya di dunia digital Youtube channelnya dan menjadikan Ralia lebih percaya diri, mempunyai banyak kesempatan berkenalan dengan banyak orang saat melakukan kolaborasi untuk pembuatan channelnya. Tentunya, hal itu diimbangi dengan pendidikan sekolah.

"Hal negatif, tidak ada (dari buat konten). Namun waktu dibatasi. Waktu main hanya Sabtu Minggu. Senin sampai Jumat waktu sekolah," kata dia.

Psikolog Anna Surti turut menambahkan hal hal yang perlu disupport orang tua adalah orang tua juga ikut belajar tehnologi sehingga bisa mengetahui fitur fitur yang baik untuk anak dan mendukung anak anak dari sisi emosinya untuk jangan gampang menyerah , melakukan semua proses bisa bersabar , dan dari sisi kognitif bisa diekplor sisi kreatif untuk mencari ide ide . 

Maka, menjawab keresahan orang tua yang bingung bagaimana membimbing anak anak untuk eksis didunia digital melalui proses yang positif, Mydoremi Co-founder, Cisca Chang menyatakan bahwa Mydoremi membuat kegiatan pembelajaran yang fun (edutainment).

Ilustrasi anak main gadget.

Photo :
  • Pexels/Ron Lach

"Melalui Mydoremi Youtuber Class, dimana anak anak diajarkan bagaimana bisa memulai membuat youtube channelnya sendiri dengan mengasah kreativitasnya , dilatih percaya diri dan kemampuaan berbicara didepan umum serta melakukan shooting pembuatan video atau kontennya sendiri," tambahnya.

Konten yang dibuat bisa disesuaikan dengan bakat ataupun hobby dari anak anak. Setelah melalui proses edukasi di Mydoremi Youtuber Class, anak anak akan mendapatkan kesempatan untuk bisa ikut dalam performance Mydoremi Kids On Stage Lagu Anak Anak yang akan tayang setiap Sabtu jam 4 sore di Mydoremi Musical Garden Youtube Channel.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya