Anak Dipukul Teman Harus Bisa Membalas? Ini Saran Psikolog

Ilustrasi anak emosi.
Ilustrasi anak emosi.
Sumber :
  • U-Report

VIVA Lifestyle – Tak sedikit pola asuh yang berpengaruh terhadap cara anak bersikap saat beranjak besar sehingga membuat orangtua harus bijak dalam membangun pola pikir yang baik sejak dini.

Sayangnya, banyak orangtua yang menganggap bahwa ketika anak mendapatkan tindakan kasar dan buruk dari temannya harus dibalas dengan hal serupa, yang sebenarnya memberi pola asuh yang salah pada si kecil.

Hal itu dipaparkan oleh Psikolog Anak, Elly Risman saat hadir di Indonesia Morning Show, dikutip dari akun Instagram Parentinganaku. Yuk lanjut scroll artikel selengkapnya berikut ini.

Banyak pertanyaan di benak orangtua mengenai sikap tepat dan saran yang diberikan pada anak ketika ada teman sebayanya yang memberi perlakuan kasar dan buruk. Tindakan paling pertama dari orangtua adalah menyalurkan emosi anak.

"Yang bener begini. Anak itu selesaikan dulu urusan emosinya. Karena dia nggak bisa berpikir nanti dia akan bekerja dengan emosi, tidak dengan kemampuan berpikirnya. Itu kan otak kita dibagi-bagi, ya. Jadi ada pusat emosi, ada pusat berpikir, jadi kita selesaikan dulu. 'Ya ampun jadi kamu sakit ya nak, mananya sakit, apa yang kamu rasakan', Itu alirin dulu tuh," tuturnya.

Anak emosi.

Anak emosi.

Photo :
  • U-Report

Setelah emosinya tersalurkan, orang tua patut membuat anak berpikir kritis dengan mencoba berdiskusi akan perilaku teman sebayanya pada dirinya. Hal itu dianalogikan saat orangtua bersikap buruk pada anak dan membuat anak sebaiknya bertanya-tanya alasan sikap itu dilakukan.

"Bagaimana baiknya, 'kok kamu digituin', gitu ya. Oke, sekarang kita peragain ya. 'Tadi kamu diapain, tadi dicubit, ya misal tadi ditonjok, oke kamu dipukul, terus kamu gimana?'. 'Kamu ngelak, terus kamu samperin ya'. 'Sekarang mama pukul kamu, terus kamu bilang apa, mama kenapa pukul aku'. Bagus gitu," kata Elly Risman.

Halaman Selanjutnya
img_title