Benteng Fort de Kock, Saksi Sejarah Perang Padri
- VIVA.co.id/Andri Mardiansyah
VIVA – Selain Ngarai Sianok, Jam Gadang dan sejumlah objek wisata menarik lainnya, Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, juga dikenal dengan kota perjuangan bangsa dan merupakan tempat kelahiran beberapa tokoh pendiri Republik Indonesia. Bukittinggi yang sempat mendapat julukan sebagai Parijs van Sumatera pada masa Pemerintahan Kolonial Belanda ini memiliki satu objek wisata sejarah yang tak kalah menarik untuk dikunjungi.
Objek wisata sejarah itu adalah Fort de Kock. Benteng Fort de Kock yang berlokasi di Nagari Benteng Pasar Atas, Kecamatan Guguk Panjang, Kota Bukittinggi didirikan oleh Kapten Johan Heinrich Conrad Bauer pada tahun 1830.
Benteng Fort de Kock yang pada masa itu dibangun saat Baron Hendrik Merkus de Kock menjadi Komandan Der Troepen dan Wakil Gubernur Jenderal Hindia Belanda, difungsikan sebagai benteng pertahanan dari serangan rakyat Minangkabau yang melakukan perlawanan atas penindasan dan bentuk kesewenang-wenangan Belanda, terutama sejak pecahnya Perang Padri pada tahun 1821-1837.
Bagi masyarakat Sumatera Barat, khususnya di Bukittinggi, keberadaan benteng Fort de Kock tidak hanya sebatas bangunan tua, namun menjadi daya tarik wisatawan baik lokal maupun asing. Lebih dari itu, benteng yang berada di puncak Bukit Jirek tersebut memiliki catatan sejarah penting bagi masyarakat Bukittinggi dan menjadi saksi bisu kegigihan pasukan Padri yang dikomandoi Imam Bonjol dalam melawan dan mengusir pasukan Hindia Belanda di tanah Minang.
Nama Benteng Fort de Kock diambil dari nama Letnan Gubernur Jenderal Hindia-Belanda pada masa itu, yang sekaligus menjabat sebagai Komandan Militer (commandant der troepen), yakni Hendrik Merkus Baron de Kock. Bauer memberikan nama benteng itu dengan sebutan Benteng Fort de Kock sebagai bentuk dedikasi kepada Hendrik Merkus Baron de Kock.
Saat ini, bangunan benteng Fort de Kock di lokasi ini secara fisik sudah tidak ada. Bangunan yang masih tersisa hanya bangunan bak air dengan denah persegi empat. Areal bekas benteng, dibatasi oleh parit melingkar sedalam 1 meter dan lebar sekitar 3 meter.
Salah satu peninggalan yang masih berhubungan dengan benteng adalah delapan buah meriam besi yang dipasang di sekeliling area bekas benteng dengan panjang antara 116 hingga 280 sentimeter. Salah satu meriam tersebut terdapat inskripsi yang menunjukkan angka tahun 1813.