Aturan Ngaco BWF dan Nasib Bulutangkis RI
- PP PBSI
VIVA – Lapangan bulutangkis di Istora Senayan Jakarta dipastikan akan menganggur selama 7 tahun ke depan di 2019 hingga 2025 dari gelaran kejuaraan dunia bulutangkis level utama.
Dan pastinya, dalam 7 tahun ke depan, masyarakat Indonesia tak dapat lagi menyaksikan piala-piala kejuaraan dunia level utama direbut atlet Indonesia di tanah kelahiran sendiri. Mulai dari Piala Thomas, Piala Uber, Piala Sudirman, Piala Kejuaraan Dunia, Piala Kejuaraan Dunia Junior, Piala Kejuaraan Dunia Juniar Junior atau Suhadinata.
Selama 7 tahun ini, pebulutangkis Indonesia dipastikan hanya akan berlaga di kandang lawan. Sebab, dari keputusan hasil penawaran Federasi Bulutangkis Dunia, tak ada nama kota di Indonesia yang masuk dalam daftar 18 kota penyelenggara 18 kejuaraan dunia level utama ini
Dalam hasil penawaran yang digelar BWF di markas mereka di Kuala Lumpur, Malaysia, Kamis malam 29 November 2018, 18 kejuaraan itu akan digelar di 11 negara dunia, masing-masing 5 negara Benua Asia, yaitu China, Korea Selatan, Thailand, Jepang, India. 5 negara di Benua Eropa, yakni Denmark, Rusia, Prancis, Spanyol, Selandia Baru. Dan Amerika Serikat.
![]()
FOTO: Tropi Piala Juara Dunia, Piala Thomas Uber dan Piala Sudirman.
Raibnya nama Indonesia sebagai tuan rumah dalam keputusan BWF tentang 18 kota tuan rumah 18 kejuaraan dunia bulutangkis level utama ini sontak membuat gempar dunia.
Masyarakat dan pegiat bulutangkis di berbagai belahan dunia sangat terkejut dengan absennya Indonesia sebagai tuan rumah. Mereka bertanya-tanya kenapa tak ada nama Indonesia sebagai salah satu tuan rumah.
Diketahui, selama ini Indonesia merupakan negara pencetak juara-juara dunia bulutangkis. Dan karena itulah pebulutangkis dunia selalu berlomba-lomba agar bisa lolos ke kejuaraan dan turnamen yang digelar di Indonesia.
Sebenarnya, Indonesia bisa saja mendapatkan jatah menjadi tuan rumah dari 18 kejuaraan yang bakal digelar BWF di tahun 2019 sampai 2025 itu. Tapi, kesempatan itu tak diambil.
Karena Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia, memutuskan untuk absen dan bidding alias penawaran gelaran kejuaraan dunia yang digelar BWF. Alasannya, aturan komersil yang diterapkan BWF ngaco, dianggap PBSI tidak adil dan cuma merugikan negara penyelenggara saja.