SOROT 490

Jatuh Bangun Putri Konglomerat

CEO Sintesa Group Shinta Widjaja Kamdani
Sumber :
  • VIVA/Muhamad Solihin

VIVA –  Wanita berusia setengah abad itu tampak elegan dalam balutan busana dua potong bernuansa biru dan abu-abu. Sosoknya bersahaja dan ramah ketika menerima tim VIVA di ruang kerjanya, di lantai 3 Gedung Menara Duta, Jalan H.R Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan.

Pertama Kali, Wanita Saudi Bangga Bisa Jogging di Jalanan

Ruang eksklusif berdesain formal yang menghadirkan elemen kayu itu dihiasi lukisan seni serta sejumlah foto yang tertata rapi. Sementara di atas meja kerja, tersusun setumpuk dokumen yang menanti keputusannya.

Ruang sunyi ini telah menjadi saksi sebagian perjalanan Shinta Widjaja Kamdani sebagai Presiden Direktur atau Chief Executive Officer (CEO) Grup Sintesa. Sebelum berada di posisi itu, kegagalan demi kegagalan sudah tak terhitung jumlahnya menempa wanita kelahiran Jakarta, 9 Februari 1967, namun dia selalu berhasil bangkit dan menjadi lebih kuat dari ke hari, hingga kini.

11 Korban Serangan Cairan Asam Jadi Model Catwalk

Sebelum bernama Grup Sintesa, perusahaan itu bernama NV Handelsbouw en Cultuur Maatschappij. Perusahaan yang fokus di bisnis perkebunan karet ini didirikan oleh kakek Shinta yang keturunan Tionghoa bernama Oey Kim Tjiang di zaman penjajahan Belanda pada 1919. Tepat 40 tahun setelahnya atau tahun 1959, namanya bertransformasi menjadi PT Tigaraksa dengan perdagangan sebagai inti bisnis mereka.

Dan entah kebetulan atau tidak, membutuhkan waktu yang sama, 40 tahun kemudian untuk 'melahirkan' Grup Sintesa, sebuah induk perusahaan alias holding dari sejumlah bisnis usaha PT Tigaraksa yang menggurita. Perubahan pada 1999 terjadi di bawah kepemimpinan Shinta dan menandai era baru perusahaan keluarganya.

Pantaskah Hari Perempuan Internasional Dirayakan

CEO Sintesa Group Shinta Widjaja Kamdani

Karier dari Bawah

Untuk sampai ke puncak, memimpin sebuah holding tentu tak mudah. Meski sebagai seorang pewaris perusahaan besar, dia tak mendapat privilage (keistimewaan) sama sekali sejak kali pertama terjun di bisnis keluarga.

Shinta langsung bekerja di salah satu anak perusahaan yang bergerak di bidang produk konsumer usai lulus dari Barnarad College Columbia University, New York, Amerika Serikat pada tahun 1989. Bukan posisi atas, tapi dia memulainya dari posisi paling bawah, seorang sales yang harus keliling Indonesia.

"Saya memulai posisi yang paling bawah, posisi sales. Jadi pada saat itu, (anak perusahaan) joint venture sama (perusahaan) asing, di-manage oleh perusahaan asing dan bos saya adalah orang asing, yang enggak peduli kamu siapa. Pokoknya kamu bisa kerja, ya saya promosi kamu," kata dia kepada VIVA.

Namun bekerja di anak perusahaan milik keluarganya bagi lulusan Harvard Business School, Executive Education, Massachusets, Amerika Serikat ini bukan kali pertama. Lama sebelum lulus kuliah, dia sudah akrab dengan bisnis keluarga dan mulai bekerja magang sejak usia 13 tahun di perusahaan keluarga atau menjual buku door to door. Di saat remaja lain masih senang main, Shinta justru mengisi waktu luangnya dengan menyibukkan diri berbisnis.

Tak hanya bekerja di perusahaan keluarga tapi juga perusahaan lain, termasuk bekerja paruh waktu saat kuliah di luar negeri. Pembicaraan soal bisnis pun sudah menjadi 'santapan' setiap digelar acara keluarga lantaran menjadi salah satu topik yang tidak pernah absen dibahas. Karena itu, bekerja atau bisnis adalah sesuatu yang sudah sangat biasa baginya.

Berkat itu, meski darah bisnis sudah mengalir dalam dirinya, namun pengalaman bekerja membuat bakat bisnis putri sulung konglomerat Johnny Widjaja itu makin terasah hebat. Alhasil, banyak jabatan penting pernah disandangnya, di antaranya Wakil Presiden Direktur PT Menara Duta dan Direktur PT Menara Peninsula.

Menjadi anak pemilik perusahaan, tantangan terbesar bagi Shinta adalah keluar dari bayang-bayang orangtuanya yang sudah tersohor sebagai pebisnis handal. Karena itu, Shinta memiliki jati diri sendiri agar dikenal sebagai pribadi, bukan sebagai anak pemilik perusahaan.

Selain itu, dia membuktikan diri mampu memimpin perusahaan dengan disiplin waktu yang sangat baik. Apalagi sebagai seorang perempuan, Shinta yang menempatkan keluarga dalam daftar puncak prioritasnya itu harus mengimbangi waktu antara karier dan keluarga sehingga membutuhkan jaringan dan sistem pendukung yang kuat lantaran tak bisa melakukannya sendiri.

Dan setelah 10 tahun berkarier dan membuktikan diri mampu membesarkan perusahaan keluarga, wanita yang namanya pernah mejeng di daftar 50 pebisnis wanita Asia paling berpengaruh versi Forbes itu pun akhirnya bekerja dengan ayahnya di PT Tigaraksa. "Sampai sekitar 10 tahun bekerja (di perusahaan keluarga), saya baru benar-benar bekerja bersama ayah saya," katanya.

Saat itu, dia mengatakan tak ingin menjadi karyawan biasa dan seorang anak pemilik perusahaan. Shinta memilih menjadikan ayahnya sebagai partner karena dia memiliki keahlian berwirausaha yang mumpuni.

Shinta pun melakukan sejumlah transformasi di internal perusahaan dari bisnis keluarga menjadi bisnis dengan manajemen profesional, menerapkan sistem pengawasan jelas dan key perfomance indicator (KPI) serta pengambilan keputusan melalui komite eksekutif, bukan lagi terserah pada pemilik perusahaan.

Shinta juga mengonsolidasikan semua anak usaha di bawah Grup Sintesa pada 1999. Sintesa sendiri memiliki makna penggabungan, sintesis atau terintegrasi.

Satu dari 13 warga Indonesia yang bisa berdiskusi dengan Barrack Obama saat menjabat sebagai presiden Amerika Serikat bersama para wirausaha lainnya di negara berkembang ini pun mengembangkan empat pilar bisnis: properti, energi, industri dan produk konsumer. Dia juga menerapkan 4E untuk meningkatkan nilai perusahaan, yaitu empowerment, entrepreneurship, excellent dan empathy.

Dan di bawah kepemimpinannya, Grup Sintesa kini memiliki sekitar 4.000 karyawan dari 18 perusahaan, dua di antaranya adalah emiten atau perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), yakni PT Tigaraksa Satria Tbk dan PT Tira Austenite Tbk. Sementara nilai aset Grup Sintesa dan anak usahanya saat ini sekitar Rp6 triliun. Ke depan, dia menargetkan Grup Sintesa menjadi sustainable excellent company.

Terlatih sebagai Pemimpin

Dengan transformasi yang dilakukan dan capaian yang diraihnya, membuktikan bahwa Shinta adalah satu dari perempuan paling sukses di dunia bisnis Tanah Air. Statusnya sebagai anak konglomerat di Indonesia justru memacunya menjadi sosok yang lebih hebat.

Yono Reksoprodjo, VP Corporate Affairs Grup Sintesa menuturkan bahwa gaya kepemimpinan Shinta terus berkembang dengan bertambahnya usia dan pengalamannya. Menurut dia, Shinta kini jauh lebih dewasa dan bijaksana.

"Bu Shinta juga come up untuk membangun ide yang namanya corporate culture. Nah, ini juga muncul sejalan dengan umur beliau. Kalau dahulu kita ngerjain segala macam, sifat-sifat seperti itu enggak dominan seperti sekarang," katanya.

Sebagai sosok yang suka membaur dan mudah berbicara serta memahami orang dengan baik, dia tak kaget Shinta mencapai keberhasilan dalam kariernya, terlepas dari kesempatan yang dimiliki sebagai anak seorang pengusaha sukses.

Ibu empat anak itu pun dikenal sebagai pribadi yang kokoh, kuat dan terlatih sebagai seorang pemimpin sejak usia dini. Menurut Endang Erarini, Sekretaris Pribadi CEO Grup Sintesa, Shinta mewariskan jiwa entrepreneur dari ayahnya yang sudah terkenal pada zamannya.

Shinta tahu apa misi dan visinya dan caranya menyampaikan kepada bawahan. Dia juga bisa bekerja dan dekat dengan bawahannya. Shinta pun selalu terbuka mengenai keadaan, perkembangan dan keberhasilan perusahaan.

Bahkan, sebelum memimpin Grup Sintesa, Endang sudah sangat yakin bahwa Shinta akan menjadi perempuan sukses karena merupakan pribadi yang sangat energik dan selalu ingin naik kelas. "Waktu beliau menjadi Direktur PT Menara Duta, beliau pesan ke saya, 'Enggak mungkin Mbak selamanya saya di sini. Saya harus naik kelas'," kata perempuan berusia 60 tahun ini.

CEO Sintesa Group Shinta Widjaja Kamdani

Shinta juga dikenal sebagai sosok yang tegas, disiplin dan selalu ingin berkembang. Tak cuma itu, Shinta juga tak pelit berbagi ilmu kepada bawahannya. Namun yang membuat Endang yang telah menjadi sekretaris Shinta sejak 1994 itu kagum karena Shinta bisa mengurus karier sekaligus keluarganya dengan sangat baik. Saat ini, dua anaknya sudah bekerja, satu lulus kuliah dan terakhir masih SMA.

"Beban di pundaknya begitu berat untuk menjaga usaha yang sudah dirintis keluarga beliau. Beliau sangat strong, komitmen, disiplin, dan juga satu yang beliau tanamkan ke anak buahnya adalah kejujuran," katanya.

Tak cuma sebagai CEO sebuah perusahaan besar dan ibu rumah tangga yang tangguh, Shinta ternyata juga aktif dalam sejumlah kegiatan sosial. Keterlibatannya dalam kegiatan sosial sudah dimulai sejak belia, di mana dia aktif ikut kegiatan ibunya di lembaga sosial soal isu HIV/AIDS.

Selain itu, Wakil Ketua Kamar Dagang Indonesia dan Industri (Kadin) serta Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) itu juga peduli kepada lingkungan dengan mendirikan Council Indonesia Bisnis untuk Pembangunan Berkelanjutan (IBCSD). Menurut Endang, Shinta memiliki jiwa sosial tinggi dan sangat memperhatikan hal-hal terkait kemasyarakatan, sehingga banyak lembaga sosial kemasyarakatan yang dikelolanya.

"Saat ada kerusuhan 1998, beliau turun langsung ke lapangan dan mendirikan Yayasan Pengembangan Wiraswasta Indonesia. Beliau turun sampai banjir-banjir, ke pasar-pasar dan membantu mereka yang saat itu kehilangan mata pencaharian karena kerusuhan saat itu," tuturnya.

Perempuan Tangguh

Terlepas dari kariernya yang gemilang dan kepedulian sosialnya yang tinggi, sepertinya perempuan yang pernah ditunjuk sebagai penasihat Wakil Presiden Republik Indonesia pada awal 2015 silam dan mendapat banyak penghargaannya atas kiprahnya itu layak disebut sebagai perempuan tangguh.

Namun sayangnya, tak banyak perempuan sekaligus pebisnis setangguh Shinta di Indonesia. Soal minimnya jumlah perempuan sukses dan memimpin perusahaan, menurut dia, lantaran masih adanya diskriminasi gender di dalam negeri. Contoh sederhana saja, dia pernah mendapat pengalaman kurang menyenangkan ketika menjadi peserta sebuah acara ketika didampingi suaminya. Saat itu, dia justru dikira mendampingi suaminya, bukan peserta.

Tapi tak cuma diskiriminasi gender yang menghambat perempuan mendaki tangga kesuksesan, karena banyak perempuan yang justru tidak memiliki keinginanan untuk meningkatkan kariernya sebab khawatir sulit membagi waktu antara karier dan keluarga. Selain itu, takut akan kehilangan privacy atau tidak adanya dukungan dari keluarga, terutama suami.

"Saya rasa sangat penting untuk kita merasa menjaga bagaimana kita menyeimbangkan role kita sebagai ibu rumah tangga karena itu kodrat kita. Tapi juga kita sebagai wanita karier, orang publik juga sosial," ucapnya.

Namun, bagi dia, jika perempuan cukup progresif, dengan meningkatkan kemampuan maka mereka memiliki kesempatan yang sama seperti kaum Adam. Soal membagi waktu antara karier dengan keluarga, disiplin adalah kuncinya.

Misalnya, jangan pernah membawa masalah bisnis ke rumah, jadikan harga mati akhir pekan sebagai waktu kumpul dengan keluarga dan pantang diganggu dengan urusan bisnis. Komunikasi dengan keluarga juga harus sering terjalin.

"Masing-masing anak itu punya kebutuhan, di mana seorang ibu harus bisa memperhatikan. Dan betapa pun sibuknya kita, keluarga itu tetap prioritas kita," kata Shinta, menyarankan.

CEO Sintesa Group Shinta Widjaja Kamdani

Soal pemimpin perempuan, dalam beberapa studi disebutkan bahwa mereka lebih detail dan sensitif dibanding laki-laki. Hal ini dipertegas dengan pengakuan Yono yang telah bekerja sejak kepemimpinan ayah Shinta. Menurutnya, perempuan lebih teliti dan detail.

Selain itu, perempuan memiliki multi tasking yang hebat. "Kalau laki kan, kita konsentrasi ngerjain apa, langsung hilang semua, bisa ada yang lupa. Kalau dia (Shinta) enggak. Itu kelebihannya," ujarnya.

Namun kekurangannya, perempuan lebih emosional daripada laki-laki. Laki lebih melihat sesuatu secara logis dibanding perempuan yang lebih melihat secara emosional. (umi)

Baca Juga:

Kehilangan Membuatnya Semakin 

Perempuan Bisa Kuasai Teknologi

Sri Wahyuni, ‘Wonder Women’ di Pentas Olimpiade

Silvia Halim Pendekar Wanita Infrastruktur 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya