- Abror Rizki
“… bahwa di koalisinya Pak Jokowi kan ada partai yang tidak menginginkan Demokrat berada bersama koalisi Pak Jokowi, yaitu PDIP,” kata Kepala Divisi Advokasi dan Bantuan Hukum Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean, Kamis, 2 Agustus 2018.
Bagi Demokrat, tak mungkin berkoalisi ketika tidak ada kesesuaian pandangan. Maka Demokrat memutuskan bergabung dengan Gerindra dan memastikan koalisinya dengan PKS.
Selaras dengan yang disampaikan Salim saat bertemu SBY, masalahnya sekarang, kata Ferdinand, tinggal penentuan calon wakil presiden. Demokrat memang sedang menggadang-gadang AHY, seperti halnya saat berupaya bergabung dalam kubu Jokowi, namun bukan itu yang didesakkan kepada Prabowo.
Sebagaimana dikatakan SBY saat bertemu Prabowo, Demokrat menyerahkan sepenuhnya penentuan calon wakil presiden kepada sang calon presiden. Paling banter Demokrat hanya menyampaikan kepada Prabowo tentang elektabilitas AHY berdasarkan riset sejumlah lembaga survei. Tetapi, pada akhirnya dipilih atau tidak, semua berpulang pada Prabowo.
“Dan kita tidak jadikan AHY sebagai bargaining politic kita dengan partai-partai lain, ‘pokoknya kita ingin AHY jadi cawapres; kalau tidak, kita tidak mau, kita mundur dari koalisi’—tidak sama sekali seperti itu,” kata Ferdinand.
![]()
Pertemuan SBY, AHY dan Prabowo
PKS diyakini akan keberatan jika Prabowo memilih AHY sebagai pendampingnya. Sebab, partai itu telah sejak lama membangun hubungan dengan Gerindra, bahkan sejak Pemilu Presiden 2014 dan dalam sejumlah pemilihan kepala daerah.
PKS jauh-jauh hari juga sudah mengumumkan sembilan kader yang diusulkan sebagai calon presiden maupun calon wakil presiden. Seorang di antara sembilan kader itu ialah Salim Segaf Al Jufri, tokoh yang direkomendasikan pula oleh forum Ijtima Ulama. PKS masih berkukuh mengajukan satu di antara sembilan nama itu.
Belum terpikir sedikit pun bagi PKS untuk mengubah keputusannya. “Sembilan nama kader PKS yang diusulkan untuk menjadi capres atau cawapres merupakan amanat Majelis Syuro yg harus diperjuangkan secara maksimal oleh pengurus partai saat ini,” kata Direktur Pencapresan PKS, Suhud Alynudin kepada VIVA.
Bahkan, menurut Suhud, sama sekali belum dipikirkan opsi lain andai usulan-usulan PKS tak diterima dan ternyata Prabowo memilih orang di luar kesembilan nama itu. Satu hal yang pasti, mustahil bagi PKS untuk menyeberang ke kubu Jokowi dan meninggalkan Prabowo. “Hingga saat ini PKS tidak membuka opsi bergabung ke Pak Jokowi,” katanya menambahkan.