SOROT 520

Pelajaran Mahal Hooligan

Kerusuhan suporter sepakbola di Stadion Heysel pada 1985
Sumber :
  • reuters

VIVA – 29 Mei 1985 menjadi salah satu hari paling kelam dalam sejarah sepakbola dunia. Sebanyak 39 nyawa melayang di Stadion Heysel, Brussels, Belgia. Kala itu tengah digelar pertandingan final Liga Champions, duel paling bergengsi bagi klub di seantero Eropa.

Mohamed Salah Kirim Sinyal Positif untuk Suporter Liverpool

Pada partai puncak tersebut dua tim besar Eropa, Juventus yang merupakan raja Italia menghadapi jawara Inggris, Liverpool. Tidak heran bila penonton tumpah ruah di venue yang sekarang sudah berganti nama menjadi King Baudouin Stadium itu.

Seperti diberitakan Daily Mail, atmosfer jelang laga memang sudah panas dari awal. Panitia sendiri sudah membuat langkah preventif dengan memisahkan kedua kubu suporter.

2nd Nika Kalila Master Swimming Championship 2024: Semangat Sportivitas yang Membara di Bintaro

Satu jam sebelum kick off, Kopites, sebutan fans Liverpool, mencoba merangsek ke area Tifosi Juventus. Para suporter fanatik itu, yang dikenal dengan julukan hooligan,  ternyata juga datang dengan berbalut kebencian atas suporter klub pesaing. Kerusuhan pun pecah. Malang pun tidak dapat ditolak, tembok pembatas sektor stadion roboh karena tidak kuat menahan beban akibat banyaknya pendukung Liverpool yang merangsek masuk.

Ratusan orang tertimpa reruntuhan tembok stadion. Sebanyak 39 tewas, kebanyakan dari fans Juventus. Sementara 600 orang lain mengalami luka-luka berat dan ringan.

Kerja Kolektif Mengembalikan Lagi Kepercayaan Jakmania kepada Persija

Tato Hooligan, suporter timnas Inggris di Piala Dunia 2018

Suporter Inggris

Lepas dari kemenangan Juventus dalam pertandingan itu melalui gol tunggal Michel Platini, Tragedi Heysel adalah yang paling dikenang sampai sekarang. Dan akibat ulah dari fans, pihak klub, bahkan seantero Inggris ikut bertanggung jawab sekaligus menerima konsekuensi.

Pihak UEFA setelah menggelar investigasi menyatakan pihak Liverpool bersalah. Tak segan-segan, otoritas tertinggi sepakbola Eropa itu menghukum seluruh tim Inggris dilarang tampil di semua kompetisi Eropa. Tak tanggung-tanggung, larangan itu diberlakukan selama lima tahun.

Pemerintah Inggris, lewat perdana menteri kala itu, Margaret Thatcher juga mengambil tindakan tegas. Dia meminta federasi sepakbola Inggris, FA, tidak memberikan izin bagi semua klub untuk bermain di level Eropa.

Tragedi  Hillsborough
Bukan cuma Tragedi Heysel peristiwa memilukan akibat ulah suporter yang dialami negeri asal sepakbola tersebut. 15 April 1989 kembali banyak nyawa melayang dalam kerusuhan antar-suporter yang dikenal dengan Tragedi  Hillsborough.

Stasiun berita BBC mengungkapkan, korban tewas dalam kejadian tersebut jauh lebih banyak, 96 orang. Penyebab utama dari peristiwa mengenaskan tersebut adalah membludaknya penonton dan melebihi kapasitas stadion di laga semifinal Piala FA antara Liverpool melawan Sheffield Wednesday.

Mereka yang tewas kebanyakan karena terhimpit dan terinjak-injak. Pihak Liverpool, khususnya fans, sempat dijadikan kambing hitam atas kejadian ini. Namun belakangan hasil penyelidikan yang diumumkan pada 2016 lalu menyatakan polisi dan panitia lokal yang bersalah karena lalai mengatur mobilitas penonton di dalam dan luar stadion.

Kejadian berulang yang membuat banyak orang meninggal sia-sia membuat pemerintah Inggris serta seluruh pihak terkait dalam sepakbola di sana bertindak serius. Parlemenn Inggris pun menyusun undang-undang yang mengizinkan pengadilan untuk melarang suporter datang ke stadion, atau dikenal dengan The Public Order Act pada 1986.

Setelah itu muncul undang-undang Football Spectators Act 1989, yang melarang hooligans terhukum menghadiri pertandingan internasional. Dua tahun kemudian muncul The Football Offences Act 1991, yang secara khusus melarang suporter melempar barang ke dalam lapangan, dan nyanyian rasial. Namun, rentetan undang-undang itu tidak membuat hooligans kapok.

Pada perhelatan Piala Eropa 2000, hooligans kembali membuat ulah di Charleroi, Belgia. Ketika itu ratusan perusuh itu ditangkap polisi sebelum dan setelah laga Inggris melawan Jerman. Pasca-kerusuhan itu, pemerintah Inggris mengeluarkan undang-undang Football (Disorder) Act 2000.

Dalam undang-undang Football (Disorder) Act 2000, pemerintah Inggris benar-benar mengontrol hooligans. Bahkan dalam salah satu pasal di undang-undang itu disebutkan, hooligans yang bermasalah harus menyerahkan paspor mereka selama jadwal pertandingan internasional, agar tak bisa pergi ke luar negeri. Hasilnya, Inggris mampu mengontrol hooligans hingga kini.

Suporter klub Inggris Liverpool

Suporter Liverpool

Untuk mengontrol suporter di Premier League, klub-klub juga membantu Asosiasi Sepakbola Inggris (FA). Klub-klub Premier League akan menghukum penonton atau melarang mereka ke dalam stadion jika membuat kerusuhan. Kontrol itu bisa dilakukan melalui dicabutnya kartu anggota klub dan tiket musiman sang suporter.

Perbaiki Sistem Pengamanan
Berangkat dari pengalaman pahit di masa lalu, Inggris pun menyusun sistem pengamanan baku untuk laga sepakbola. Pada 2011 lalu The Guardian memuat keterangan dan penjelas dari salah satu aparat polisi senior yang sudah berpengalaman menangani pertandingan.

Di awal, bisa atau tidaknya pertandingan digelar akan ditentukan oleh Safety Advisory Group (SAG) yang beranggotakan perwakilan klub, polisi, pemadam, layanan ambulans dan pemerintah setempat. Mereka akan membahas segala risiko yang mungkin dihadapi. Jika salah satu pihak tidak bisa memberikan jaminan, maka keputusan akan diambil oleh chairperson yang biasanya merupakan pejabat senior dari pemerintah lokal.

Dalam hal pengamanan, Kepolisian Inggris membagi dalam beberapa kategori, dimulai dari yang paling ringan yakni level A dengan tingkat risiko rendah. Dalam ketegori ini bahkan polisi biasanya tidak dibutuhkan kehadirannya di dalam stadion, dimana hanya stewards yang bertugas.

Baik polisi maupun stewards yang bertugas di pertandingan atau dalam stadion biasanya sudah terlatih. Mereka paham bagaimana menangani permasalahan secara spesifik, termasuk membantu mengosongkan venue bila ada ancaman serius seperti bom dan lain-lain.

Untuk stewards, setidaknya dalam stadion ada sekitar 700 personel. Perhitungannya, setidaknya ada satu orang yang bertugas buat mengawal 250 suporter.

Buat penanganan di luar stadion, pihak kepolisian lebih fokus. Mereka mulai melakukan pengamatan dari mulai arus transportasi, khususnya kereta yang menjadi pintu utama bagi suporter untuk datang ke stadion. Ada kalanya polisi pun melakukan pengawalan terhadap fans tandang ketika pertandingan yang digelar berada dalam level risiko tinggi. (ren)

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya