SOROT 522

Nostalgia Melawai

Kawasan Melawai Blok M pada tahun 80an
Sumber :
  • www.kaskus.co.id

VIVA –  Hai ku lihat remaja berkacamata lenggang di sana
Asik dengan lagak dan gayanya, ku terpesona karena dia
Di lintas melawai muda-mudi selalu pasang aksi
Pakaian, jam tangan, persaingan antar Eropa digemarinya

Mereka asyik bercanda ria, saling senyum tegur dan sapa
Glamourmu para remaja tanpa dibebani problema

Di Lintas Melawai, remaja-remaja dalam dunianya
Asyik ngeceng pakai mobil mewah, senyum genit yang dibuatnya ...

Di akhir 80-an siapa yang tidak kenal penggalan lagu yang dipopulerkan almarhum Hari Moekti di atas. Bisa jadi ini yang membuat Novariantika cekikikan. Sesekali ia tertawa lepas, lalu buru-buru menutup mulutnya dengan telapak tangan. Sepertinya, kenangan masa remaja di Melawai begitu merasuk. Binar di kedua mata dan senyum semringah yang tak pernah lepas dari bibirnya sudah menjadi jawaban, seperti apa Melawai mencipta kenangan dalam hidupnya.

"Gue kenal Blok M dan Melawai sejak masih SD," ujarnya memulai kisah. "Dulu nyokap selalu ngajak gue ke Pasar Blok M. Belanja sayuran, buah, sampai baju seragam atau pakaian dalam. Segala kebutuhan rumah tangga ada di situ. Jadi, Blok M dan sekitarnya termasuk Melawai, bukan wilayah asing buat keluarga kami," celotehnya kepada VIVA, Kamis, 11 oktober 2018.

Semasa sekolah dasar, nyaris setiap hari Minggu, Nova mengantarkan sang ibu berbelanja ke Pasar Blok M. Dari rumah mereka di kawasan Menteng, ibu dan anak ini berangkat ke Blok M naik Metromini. Tak sampai setengah jam perjalanan, surga kecil buat Nova sudah di depan mata. Ia mengaku selalu bersemangat setiap diajak ke Blok M. Baginya, wilayah itu selalu menyenangkan.

Kawasan Melawai Blok M pada tahun 80anMelawai Blok M tahun 1980 an

Selain Pasar Blok M, ada juga Sarinah yang kini menjadi Pasaraya Blok M, lalu Melawai Plaza, dan Aldiron Plaza. Empat tempat itu menjadi pusat belanja favorit warga Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat. Di situ, penjual barang-barang bermerek, juga barang-barang impor bertebaran. Parfum, sepatu, tas, arloji, dan pakaian dari luar negeri tersedia di sana. Bahkan jaket, koper, hingga mantel musim dingin untuk mereka yang akan bepergian ke luar negeri juga banyak penjualnya.

Menginjak remaja, ia mulai pergi sendiri. Hanya butuh satu kali naik bus PPD dari sekolahnya di kawasan Gambir, Jakarta Pusat untuk menuju terminal Blok M. Karena suka membaca, maka toko buku Gramedia menjadi tempat favoritnya. Nova muda betah menghabiskan waktu berjam-jam di toko buku tersebut dan menikmati berbagai buku tanpa membelinya. Gramedia hanya salah satu spot legenda di Melawai, spot lainnya adalah disco skate Lipstick dan Happy Day.

Lipstick berlokasi di pertokoan sebelah Aldiron Plaza. Sementara Happy Day berlokasi di lantai enam Aldiron Plaza. Pengunjung Happy Day wajib naik lift, karena tangga plaza tak mencapai lantai enam. Hanya membayar tiga hingga lima ribu rupiah, pengunjung mendapat sewa roller skate, dan bebas bermain sampai puas. Sayangnya kedua tempat hiburan tersebut sudah lama tutup.

"Saya tahu ada disco skate Happy Day dan Lipstick. Tapi saya nggak terlalu sering ke sana. Pernah sih sempat suka banget ke Happy Day, tapi enggak lama. Rasanya seru main roller skate diiringi musik yang lagi nge-hits, lalu main kereta-keretaan dengan roller skate, dan kenalan dengan berbagai teman sebaya dari mana-mana," celotehnya.

Ia mengaku bisa dua hingga tiga kali dalam sepekan mendatangi Blok M dan Melawai. Tak hanya ke Gramedia atau main roller skate di Happy Day, Nova juga mulai menikmati keramaian saat sore hari di Jalan Melawai Raya. Di jalanan itu, ratusan anak remaja berkumpul mulai sore hingga malam hari. Mereka berkerumun, memamerkan mobil terbaru dengan sound system yang sengaja diputar kencang dan memutar lagu-lagu Top 40.

Di sudut yang lain, ada kerumunan yang menyetel musik lalu melakukan aksi break dance, sebuah tarian jalanan yang juga sangat populer di masa itu. Bermodal kardus bekas yang dibuka untuk menjadi alas, dan tape recorder berukuran besar yang mereka tenteng, kelompok ini menari bergantian dan melakukan berbagai gerakan break dance.

Tak semua remaja yang datang punya aktivitas tertentu. Ada juga yang hanya duduk-duduk atau nongkrong di tangga, persis di pintu masuk Aldiron Plaza. Sementara sebagian lainnya berseliweran sekadar cuci mata atau berbelanja di Melawai Plaza. Remaja yang datang menjejali Blok M dan Melawai juga banyak penggila mode. Sehingga, kebanyakan pakaian yang dikenakan adalah model terbaru, mengikuti perkembangan mode. Begitu pula sepatu, tas, dan jam tangannya. Apa yang sedang hits di Melawai saat itu, dipastikan akan segera diikuti remaja di berbagai kota besar lain di Indonesia.

Kemeriahan Masa Lalu

Tahun 1980-1990an adalah masa keemasan Blok M dan Melawai. Wilayah tersebut nyaris tak pernah tidur. Nova yang kini bekerja sebagai staf administrasi di sebuah parpol mengakui bagaimana meriahnya kehidupan Blok M dan Melawai di tahun tersebut. Di masa SMA, sekitar tahun 1988 hingga 1991, dua wilayah itu adalah wilayah favorit yang ia tuju jika bolos sekolah.

"Gue bisa di sana dari pagi, sampai malam ya ramai terus. Kalau pagi Pasar Blok M dan kaki lima di sekitarnya sudah bikin ramai, jam 11-an giliran Melawai Plaza dan Aldiron Plaza yang buka dan dipenuhi pengunjung, menjelang sore Jalan Melawai Raya mulai dipenuhi teman-teman, dan tengah malam, giliran gudeg lesehan yang menggelar dagangan," ujarnya.

Begitu populernya Melawai saat itu, sehingga ada adagium yang terkenal di anak muda Jakarta, "belum sah jadi anak gaul Jakarta kalau belum nongkrong di Melawai". Nova membenarkan adagium itu. Apalagi kemeriahan Melawai juga kerap ditulis secara khusus di majalah remaja favorit. Sebut saja Hai, Mode, Gadis, juga majalah Anita Cemerlang, yang meski spesifik berisi cerita pendek, tapi banyak kisah dengan latar belakang Melawai dan Blok M. Radio Prambors, yang menjadi kiblatnya anak muda juga kerap siaran langsung dari Melawai, Blok M, dan Happy Day.

Break Dance di kawasan Melawai Blok M pada tahun 80an

Break dance di kawasan Melawai pada tahun 1980 an

Di lokasi itu juga berkumpul anak muda dari berbagai kalangan, akar rumput hingga anak pejabat. Berbeda dengan wilayah Menteng, yang cenderung menjadi tempat nongkrong anak muda menengah atas, maka Melawai dan Blok M lebih ramah.

"Dulu Bucek Depp juga sering nongkrong. Nama Bucek itu kan singkatan dari kami, Bule Ceking. Soalnya dia kan keturunan bule, tapi orangnya kurus banget. Dia jadi artis ketika ada shooting film di situ, lupa judulnya apa, dan Bucek pas ada di sekitar lokasi. Wajarlah, dia memang ganteng sejak dulu," ujar Nova sambil terkekeh.

Seluruh kebutuhan anak muda Jakarta juga tersedia di Melawai. Baju dengan merek terkenal seperti Hammer, Country Fiesta atau C&F, juga kaos putih bermerek Street Wear dengan ciri khas gambar karikatur dan warna sablon mencolok,  celana Levi's, Lea, atau tas bermerek Alpina, arloji bermerek Benetton dan Swatch, juga sepatu bermerek Nike, Adidas, New Balance, Lotto, Kickers dan benda-benda lain yang sedang hits di kalangan remaja mudah ditemukan di sana.

Nova juga mengingat tempat jajan favorit saat itu. Perempuan berusia 46 tahun itu mengaku paling senang makan di 'ah,'  akronim dari American Hamburger, dibaca 'Aha'. Bagi anak tongkrongan di Melawai, belum sah status 'anak Melawai' kalau belum makan di Aha. Resto yang berdiri sejak tahun 1977 ini menjadi spot favorit masa itu karena menyediakan aneka menu ala Barat, dengan harga yang sangat terjangkau bagi kantong ABG. Ada spaghetti, fried chicken, french fries, salad, burger juga steak. Restoran ini juga menyediakan cake potong. Menu favorit yang melegenda di Aha adalah choco milk shake dan black forest cake.

Blok M Sorot

Restoran ah di Blok M

Tempat makan favorit lainnya makanan cepat saji Kentucky Fried Chicken atau KFC.  Gerai ayam goreng ini berdiri di Melawai pada tahun 1979. Masa itu, menikmati ayam goreng di KFC tak ada nasi. Cukup ayam goreng, kentang, dan saos tomat. Dulu KFC juga masih menyediakan  menu jagung rebus yang wangi, manis, dan renyah. Sayang, menu itu sekarang hilang dari berbagai gerainya. KFC masa itu juga selalu bersisian dengan gerai es krim Swensen. Es krim gelato dengan berbagai rasa yang lezat dengan topping khusus.  Dua lokasi makan itu juga menjadi tempat favorit anak muda untuk nongkrong sambil mengisi perut.

Masuk tahun 2000-an, Nova mulai mengurangi kunjungannya ke Blok M. Tapi, saking cintanya pada Melawai dan Blok M, ketika api besar melalap Pasar Blok M tahun 2005, Nova mengaku segera mendatangi lokasi. Di depan pasar yang terbakar, ia menangis tersedu-sedu. Ia merasa api sudah membakar separuh masa remajanya.

Kenangan manis Melawai juga diingat Hendra Setiawan. Wirausahawan yang kini berusia 45 tahun itu mengaku pernah menjadi bagian dari mereka yang kerap memarkir mobil terbaru di pinggir jalan Melawai Raya, lalu menyetel musik menggunakan tape mobil yang volumenya diputar hingga angka maksimal. Hendra mengingat, masa itu adalah masa yang asyik.

Ia dan rekan sejawatnya bisa duduk bareng dan akhirnya berkenalan dengan banyak orang hanya karena membicarakan sound sistem mobil, modifikasi mobil, atau hal-hal lain tentang otomotif. "Berantem-berantem ada-lah, namanya juga anak muda. Tapi berantemnya one by one, enggak pakai tawuran. Selebihnya ya berteman saja," ujarnya.

Jika Nova kerap jajan di Aha, Hendra dan teman-temannya lebih memilih jajanan kaki lima. Siomay, ketoprak, bakso, kue cubit, kue ape, dan jajanan lainnya menjadi favorit mereka. "Minuman ngetop saat itu cuma teh botol," ujarnya sambil tergelak.

Lain Hendra dan Nova, lain pula kenangan yang diingat Asiantoro, Plt Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta. Asiantoro mengaku Melawai dan Blok M juga menjadi tempat nongkrongnya. "Tahun 1988 itu kan saya SMA. Saya ingat, itu masa kejayaan break dance," ujarnya sambil tak bisa menahan tawa.

Tak hanya nongkrong dan bergaul di Melawai, Asiantoro juga kerap melanjutkan kongkow ke Parkit alias Parkir Timur, Senayan.

"Jadi dari situ ke Parkir Timur, nongkrong sambil dengerin musik dan lihat break dance kala itu," celotehnya. Asiantoro mengakui masa itu sangat menyenangkan. Ia bisa berkenalan dengan remaja lain dari berbagai wilayah.

Kemeriahan Melawai begitu populer hingga penyanyi rock saat itu, almarhum Hari Moekti, yang belakangan hijrah menjadi dai, merekamnya dalam sebuah lagu bertajuk "Lintas Melawai". Penyanyi lain yang ikut merekam kemeriahan Melawai adalah Denny Malik. Lagu "Jalan-Jalan Sore" yang ngetop itu juga terinspirasi meriahnya Melawai.

Di syair lagunya, Denny Malik mengutip istilah "Ngeceng" atau "Mejeng," istilah populer bagi remaja tahun 80-90an untuk  menyebut nongkrong di Melawai. Mejeng merupakan bahasa slank, dari asal kata "Majang". Sedangkan ngeceng adalah sebutan lainnya dari mejeng. Tampil modis, trendi, dan berada di Melawai adalah bagian dari aksi mejeng dan ngeceng.

Mobil BMW yang digunakan di film Catatan Si Boy dipajang di kawasan Melawai Blok M

Mobil BMW yang digunakan dalam shooting film Si Boy

Tak hanya lagu, sejumlah film juga merekam aktivitas nongkrong di Melawai. Salah satunya adalah film "Catatan Si Boy", sebuah film yang diadopsi dari kisah drama di Radio Prambors. Film yang dibintangi Onky Alexander ini bercerita tentang kehidupan seorang anak muda yang tajir melintir, tapi tetap soleh. Nongkrong di Melawai jadi salah satu bagian dalam cerita Catatan Si Boy.

Menjaga Memori dan Menepis Sepi

Tapi kemeriahan Melawai kini meredup. Wilayah yang dulu gemerlap, nyaris tak pernah sepi dan hidup 24 jam itu seperti kehilangan ruhnya. Restoran Aha dan toko buku Gramedia masih ada. Tapi pengunjungnya bisa dihitung jari. Kawasan yang dulu biasa penuh, bahkan hingga berjejalan kini lengang. Pedagang kaki lima jauh berkurang, dan pengunjung di wilayah tersebut juga terasa minimnya.

Wali Kota Jakarta Selatan Marullah Matali mengakui, Melawai sekarang lebih sepi, tapi bukan berarti mati. Menurutnya, saat ini publik punya banyak pilihan tempat untuk nongkrong. Beda dengan masa lalu, di mana Blok M dan Melawai seperti menjadi pusat keramaian.

"Jangan samakan dulu dan sekarang. Dulu itu enggak ada tempat lain kecuali Melawai, karena Blok M jadi terminal dan semua orang naik bus.  Rata rata yang ngumpul di situ, yang paling enak ke situ. Dahulu itu enggak ada Kemang, Kemang itu dulu jangkaunya susah sekali, yang paling gampang digapai Melawai," ujarnya.

3 Tewas Akibat Kebakaran di Hotel F2 Melawai, Satu Orang Belum Teridentifikasi

Blok M Sorot

Melawai Plaza di Blok M

Hal Ini yang Buat Helmy Yahya dan Denny Malik Kangen Daerah Melawai Era 90-an

Menurutnya, sekarang sudah terlalu banyak tempat mirip Melawai di zaman dulu, sehingga generasi sekarang punya banyak pilihan tempat untuk nongkrong. "Dulu mungkin seluruh Jakarta tumplek di Melawai. Itu bukan  punya Jakarta Selatan lho dulu, tapi juga punya Jakarta. Orang Indonesia bahkan. Dulu mungkin sampai sekarang, tamu dari Korea suka ke sana, sangat fanatik dengan Melawai. Nah, kalau sekarang kan pilihannya sangat banyak sekali," tuturnya.

Assisten Marcom Manager Plaza Blok M Hermawan Harun membantah Blok M dan Melawai sepi. Menurutnya tempat ini tidak sepi, dan masih tetap menjadi lokasi favorit muda mudi di Jakarta Selatan. Tapi Harun mengakui, proses pembangunan MRT berimbas pada menurunnya jumlah pengunjung.

Penembakan Terkait dengan Budi Gunawan? Kapolres Jaksel: Enggak Ada

"Letaknya masih menjadi magnet untuk berkunjung ke sini. Wilayah ini sudah ada selama 30 tahun. Masih ada Plaza Blok M yang bisa menjadi daya tarik," ujarnya.

Tapi ia mengakui, pembangunan jalur Mass Rapid Transit atau MRT berimbas pada pengunjung kawasan Blok M. Lalu lintas ke arah Blok M dan sekitarnya terganggu.

Tapi Harun yakin, jika pembangunan MRT sudah rampung, kawasan itu akan kembali ramai. "Di sini adalah simpul terakhir kemacetan, dan di sini menjadi meeting point," ujarnya optimis.

Optimisme Harun bisa menjadi nyata. Wali Kota Jakarta Selatan mengatakan, Gubernur DKI Anies Baswedan sudah bersiap untuk menghidupkan kembali Blok M dan Melawai. Menurut Marullah Matali, gubernur sudah menekankan agar setiap wilayah di DKI ada tempat ketiga, third place, yaitu tempat di mana warga bisa menghibur diri. Bahkan Anies akan melibatkan ahli arsitektur untuk mengembalikan Melawai menjadi pusat kumpul warga Jakarta.

"Tentang bentuk dan modelnya masih didiskusikan. Semoga lebih inovatif, menarik dan praktis. Jadi pusat ngumpul, kuliner dan hiburan. Apalagi sekarang ada kantor Gojek di Pasaraya, silicon valley-nya. Mudah-mudahan bisa berkembang terus," ujarnya.

Marullah menjelaskan, bagian dari penataan nantinya akan mengintegrasikan antarlokasi ruang terbuka untuk mengurangi crowded. Meski belum bersedia menjelaskan detil, namun Marullah memastikan, perubahan wilayah tersebut sudah akan bisa dirasakan dua hingga tiga tahun ke depan. "Ini memang program jangka panjang, tapi mungkin dalam dua atau tiga tahun ke depan sudah bisa dirasakan perubahannya," tuturnya.

Asiantoro juga menyampaikan hal yang sama. Menurutnya, Gubernur DKI Anies Baswedan menginginkan agar semakin banyak tempat terbuka yang bisa menjadi pusat aktivitas warga. "Pemda akan terus mencari ruang terbuka," ujarnya kepada VIVA, Kamis, 11 Oktober 2012.  

Blok M Sorot

Ruang terbuka itu diminta Anies Baswedan untuk dimanfaatkan sebagai ruang ekspresi warga, untuk interaksi, berkesenian, juga olahraga. "Masyarakat Jakarta sudah stres. Membuat ruang-ruang kebahagiaan kita, menyenangkan, dan memberikan manfaat untuk masyarakat. Bagaimana membuat masyarakat bahagia ya itu di ruang-ruang interaktif, tempat ngumpul canda gurau, yang manula dan anak muda bisa berbagi pengalaman," ujarnya menambahkan.

Asiantoro juga belum bisa memastikan seperti apa penataannya kelak. Tapi faktor kekinian akan menjadi pertimbangan. Ia merujuk area Kali Jodo, di mana ada lokasi skate board di sana. "Jadi kita melihat, bagaimana hingga 10 tahun ke depan, sehingga yang kita buat itu bisa mengikuti zaman kekinian. Pemda adalah fasilitator, dan akan memberikan fasilitas agar warganya berbahagia," ujarnya.

Melawai memang legenda. Kisah sebuah wilayah di selatan Jakarta yang menjadi pusat kumpul remaja, juga keluarga. Ceritanya tak akan usai karena terus diwariskan. Keinginan Gubernur DKI untuk menciptakan 'tempat ketiga' sebagai lokasi interaksi warga sangat layak diwujudkan. Melawai masa itu, mewakili ruang terbuka yang gratis, penuh aktivitas, dan menjadi tempat interaksi sosial siapa saja. Semoga keinginan Pemerintah DKI kembali mewujud, dan Melawai tak hanya menjadi kisah masa lalu. (umi)

Baca Juga

Melawai, Dulu dan Sekarang

Melawai, Blok M dan Budaya Pop Indonesia

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya