- ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
"Tanpa publik melihat pun, dari tahun 2017 kita menggandeng Genius Sport itu bukan barang murah dan hal mudah juga. Tapi, kita bekerja untuk sepakbola. Apa itu artinya? Di kala seluruh headlines tidak lagi bicara pemain harapan kita, Egy (Maulana Vikri) yang lain, Ezra (Walian) yang lain. Tapi, PSSI sejak 2017 tidak terhitung berapa banyak kasus yang diinvestigasi dan keputusan Komite Disiplin yang telah dikeluarkan. Tapi, hal itu menurut saya tidak memerlukan sesuatu yang wah, karena PSSI bekerja untuk memperbaiki sepakbola," kata Ratu Tisha kepada VIVA.
Soal stigma buruk dari masyarakat tentang PSSI, menurut Ratu Tisha, pihaknya bisa terima. Namun, pada saat yang sama, dia juga meminta kepada publik agar bisa memberikan kepercayaan lagi serta waktu buat federasi untuk berbenah.
"Menurut saya tidak ada gading yang tak retak. Tidak ada orang hebat yang tidak melewati masa sulit yang sangat ekstrem. Ini adalah proses pendewasaan diri bagi organisasi kita sendiri. Sekian banyak hal yang telah kita lakukan di 2018 hingga November kemarin kita diapresiasi oleh FIFA, bahkan melalui Presidennya sendiri yang menyampaikannya," katanya.
"PSSI punya 853 member, kita punya pekerjaan rumah besar untuk mengedukasi, menata regulasi, dan mensosialisasikan regulasi kepada setiap anggota. Memberi tahu best practice-nya di luar seperti apa, bahkan ketika Indonesia disanksi (FIFA) saja tidak ada pemanggilan terlebih dulu, langsung saja dijatuhkan.
Itu yang harus kita terus-menerus beri pemahaman. Itu yang saya bilang tidak ada gading yang tak retak. Masih banyak yang harus kita benahi dan perbaiki.
PSSI cuma butuh dua hal saja, waktu dan kepercayaan. Kita tidak lagi tidur," tegas Ratu Tisha. (one)
Baca Juga
Sanksi Seumur Hidup bagi Mafia Bola