- ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra
Sani mengatakan, karakteristik milenial yang multitasking dan sangat tergantung pada teknologi juga bisa memberi pengaruh besar dalam cara mereka memandang agama. "Karena mereka itu asik dengan dunianya, jadi mereka gak ada waktu untuk belajar agama. Bisa juga mereka saat ini multitasking tapi ke arah yang mereka inginkan, jarang ke agama. Interest-nya ke agama kurang," ujar Sani.Â
Generasi milenial memang berkembang secara teknologi, memiliki banyak kegiatan, tapi karena itulah, akhirnya interest mereka akhirnya bersifat duniawi. Tapi di atas itu semua, Sani merujuk pada budaya keluarga. Menurutnya, budaya keluarga sangat penting untuk membentuk karakter mereka.Â
"Apa yang menjadi budaya di rumah akan diikuti anak milenial. Meski di luar belum tentu bisa terpantau, tapi setidaknya mereka ikut menjalankan apa yang dilakukan di rumah. Harapannya, setelah terbiasa, mudah-mudahan bisa terinternalisasi ke jiwanya."Â
Milenial dan Ramadan
Dua hari menjelang puasa, ternyata generasi milenial juga bersiap menyambutnya. Penuturan Sani, bahwa apa yang mereka dapatkan dari budaya di rumah bisa dibuktikan. Bagi milenial, meski mereka hidup dalam situasi yang berbeda dengan generasi sebelumnya, tapi kenangan ramadan punya arti bagi mereka. Bulan suci umat Islam ini mereka sambut dengan suka cita dan sederet kegiatan yang rutin mereka lakukan.Â
Ardita Pitaloka, seorang siswi kelas XI SMA 91 Jakarta menyambut ramadan sebagai bulan berkah dan penuh ibadah. Ia mengaku tak melakukan persiapan khusus menyambut ramadan, kecuali mempersiapkan mental dan hati untuk beribadah dengan khidmat, dan memperbanyak silaturahmi. Ardita mengaku selalu membuat acara setiap ramadan, yaitu kegiatan amal. Biasanya dia bagian pengumpul dana dari teman-temannya.Â
"Banyak kegiatannya. Buka bareng, kadang ke Panti Asuhan untuk berbagi dan buka puasa bareng mereka," ujarnya kepada VIVA.  Ardita mengakui, ramadan adalah kesempatan untuk berkumpul dengan keluarga juga teman-temannya.Â
![]()
Remaja lainnya, Revy Aprilia yang juga kelas XI di SMA yang sama mengakui ramadan adalah momentum untuk dirinya belajar menahan diri. "Bukan hanya untuk makan dan minum, tapi juga menahan diri enggak ghibahin orang." ujarnya sambil tergelak.Â