- VIVA/Muhamad Solihin
Aktivis 98, Wahab Talaohu mengatakan, menjelang reformasi 1998 pelajar merupakan salah satu kelompok masyarakat yang diorganisir mahasiswa. Menurut dia, melawan kekuasaan Presiden Soeharto yang sudah berkuasa selama 32 tahun membutuhkan people power. Dan pelajar menjadi salah satu people power yang bisa digerakkan.
“Kawan-kawan 98 melakukan yang namanya bunuh diri kelas. Mereka cuti dari kampus kemudian live in, turun ke petani, nelayan, buruh, kaum miskin kota dan pelajar,” ujarnya kepada VIVAnews, Rabu, 2 Oktober 2019.
Pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago mengaku tidak kaget melihat tren meningkatnya dan massifnya pelajar turun ke jalan dan menjadi kekuatan politik ekstra parlementer. Sebab menurut dia, dari dulu pelajar sudah sangat peduli dengan rakyat. Pelajar adalah kelompok masyarakat yang berperan dalam sejarah Indonesia.
“Seperti kontribusi tentara pelajar dalam kemerdekaan Indonesia, tahun 1966 pelajar ikut dalam peristiwa tersebut, termasuk tahun 1998,” ujarnya kepada VIVAnews Rabu, 2 Oktober 2019.
Sejarah mencatat, pelajar memang terlibat dan berperan pada gerakan Angkatan 1966. Di bawah panji Kesatuan Aksi Pelajar dan Pemuda Indonesia (KAPPI) dan Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI), mereka melawan kebijakan Presiden Soekarno yang dinilai tidak demokratis. Bersama Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), mereka terus turun ke jalan menyuarakan sejumlah tuntutan yang dikenal dengan Tiga Tuntutan Rakyat (Tritura) yakni Pembubaran PKI, Pembersihan kabinet dari unsur G30S/PKI dan penurunan harga atau perbaikan ekonomi.
Perjuangan Kemerdekaan
Sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia telah mencatat peranan para pemuda pelajar. Tampilnya para pelajar dalam perjuangan telah dimulai sejak awal pergerakan nasional, dimana tokoh-tokoh pemimpin yang mempelopori Pergerakan Nasional lahir dari pemuda pelajar.
Yang disebut pelajar pejuang adalah para pemuda pelajar Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas sampai Mahasiswa. Di mana usia mereka rata-rata 15 hingga 20 tahun tetapi mempunyai kesadaran bahwa tenaganya diperlukan untuk perjuangan bangsa.
Para pelajar sudah terlibat aktif dalam perjuangan kemerdekaan. Sartono Kartodirjo dalam bukunya Pengantar Sejarah Indonesia Baru, Sejarah Pergerakan Nasional menulis, pada tahun 1926 para pelajar sudah terlibat dalam perjuangan kemerdekaan. Mereka membentuk organisasi bernama Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI). Wadah ini sengaja dibentuk guna merekatkan berbagai wadah perjuangan yang bercorak kebangsaan.