- http://ai.eecs.umich.edu
VIVAnews – WAJAH ayu itu tampak tegang menunggu palu hakim jatuh, pada satu sidang di Pengadilan Negeri Batang, Jawa Tengah, 22 Desember 2009. Ini pengadilan menentukan bagi tubuh pemilik nama Agus Wardoyo itu. Dia segera mengubah status kelaminnya di meja hijau.
Begitu palu diketok, Agus Wardoyo tertawa. Dia bahagia. Sambil menyibak rambutnya, Agus kini resmi memakai nama Nadia Ilmira Arkadea. Dia tak lagi dipanggil Agus. Nama barunya, Dea. Pengadilan Negeri Batang, Jawa Tengah memutuskan statusnya kini adalah perempuan.
"Penetapan tepat pada Hari Ibu, momennya tepat sekali,” ujar Dea, sesaat setelah persidangan. Dia mengatakan ingin menjadi perempuan seperti kaum ibu lain.
Terlahir sebagai lelaki, pada 16 Agustus 1979, Agus berperilaku seperti anak lelaki sampai dia lulus SD. Orang tuanya Bambang Sugianto dan Witem, memanggilnya dengan nama kecil Doyo. Ketika SMP, Doyo mulai suka berpenampilan feminin. Makin dewasa, dia kian mirip perempuan. Suaranya nyaring, geraknya gemulai.
“Saya tidak nyaman menjadi laki-laki,’’ kata aktivis LSM Omah Perempuan itu saat diwawancara tvOne. Dengan restu orang tua, pada 2005 Doyo menjalani operasi ganti kelamin di rumah sakit Dr Sutomo, Surabaya.
Ganti kelamin sebetulnya bukanlah cerita baru. Kita ingat kisah hidup entertainer serba bisa, Dorce Gamalama. Bernama asli Dedi Yuliardi Ashadi, Dorce ganti kelamin pada 1983 di RS Dr Sutomo, Surabaya. Melalui Pengadilan Negeri Surabaya, Dedi resmi berkelamin perempuan. Nama barunya, Dorce Ashadi.
Sama seperti Dea, Dorce merasa terperangkap di tubuh laki-lakinya. Keperempuan, bagi dia, adalah sesuatu yang menggeliat dari dalam. Dia gelisah siang dan malam. Pada buku biografinya ‘Aku Perempuan: Jalan Berliku Seorang Dorce’, dia ‘berteriak’ setelah ganti kelamin: “Aku perempuan. Sungguh-sungguh perempuan. Tak lagi kutemukan bagian yang bukan diriku, yang dulu selalu terasa asing sebab tak punya arti apa-apa. Bagian itu sudah hilang,” tulis Dorce.
Dia lalu menulis surat wasiat. Jika meninggal kelak, Dorce minta jenazahnya dimakamkan sebagai perempuan. Hanya tangan-tangan perempuan boleh memandikan dan mengurus jasadnya.
Tapi adakah ganti kelamin itu urusan mudah? Setelah lewat 27 tahun, Dorce memilih tak mengungkit masa lalunya itu. “Itu sangat pribadi sekali. Lebih baik jangan diutak atik,” kata dia kepada VIVAnews, Rabu 12 Mei 2010.
Menurut dia, jagad batin seorang transseksual tak gampang dipahami awam. “Mungkin orang hanya tahu luarnya kita, tidak tahu dalamnya. Kadang ini menjadi cobaan buat aku,” ujar dia. Dia membiarkan orang lain menilai jahat atau baik. Dia percaya, seperti katanya berulangkail, “Surga dan neraka milik Tuhan.”
Meski bukan kali pertama, perjuangan ganti kelamin penuh kontroversi. Dorce menuai makian. Padahal dia bukan pertama, ada Vivian Rubianti, pelaku transseksual pertama di Indonesia. Pada 1973, Vivian bertukar kelamin di Singapura, sekaligus mensahkan dirinya sebagai perempuan di Pengadilan Negeri Jakarta Barat-Selatan.
Tapi di balik kontroversi itu, karir Dorce pasca operasi kelamin justru makin berkilau. Dia kian dikenal, dan dibayar mahal. Sampai kini, ketika banyak bintang muda berdatangan, Dorce tetap laku.
Dia pernah menikah dengan lelaki asal Surabaya, meski akhirnya kandas karena soal keturunan. Pada 2009 lalu, Dorce kembali menjalin hubungan dengan lelaki lebih muda darinya. “Aku tak pernah percaya cinta seutuhnya. Cinta sampai buat orang bunuh diri. Cinta yang utama adalah cinta kepada Tuhan,” ujar Dorce, yang kerap menyebut dirinya Bunda Dorce.
TAK mudah menjalani kehidupan sebagai seorang transgender—mereka yang terperangkap oleh tubuh dan alat kelaminnya. Atau transseksual –yang memutuskan berganti jenis kelamin. Mereka lebih suka bersembunyi, atau mengingkari identitasnya.
Dunia mereka adalah dunia pinggiran. Tak banyak, misalnya, yang bisa menembus jejaring birokrasi negara. Kecuali Paulus Prabowo. Dia pegawai negeri sipil di Pemerintah Kota Pekalongan, Jawa Tengah, yang berganti nama jadi Wiwik Praboziwi. Setelah resmi ganti kelamin, Wiwik menikah dengan lelaki asal Belanda pada 1996.
Pada umumnya, kaum transseksual ditolak oleh lingkungannya, bahkan orang-orang terdekat. Tak jarang mereka jadi obyek kekerasan. Ada yang dikejar-kejar, digebuk, bahkan dibunuh.
Bagaimana kerasnya kehidupan kaum transseksual dan transgender ini, dengan tepat digambarkan film ‘Boys Don’t Cry’, pemenang Academy Award 1999. Film itu terinspirasi kisah tragis Brandon Teena – seorang perempuan yang hidup sebagai laki-laki. Dia terlahir sebagai bayi perempuan, bernama Teena Renae Brandon pada 21 Desember 1972.