Rupiah Dipotong?

Daftar harga di kedai makanan yang menyederhanakan angka ribuan menjadi satuan
Daftar harga di kedai makanan yang menyederhanakan angka ribuan menjadi satuan
Sumber :
  • VIVAnews/ Anhari Lubis

Penghapusan tiga angka nol, seperti yang dilakukan Faiz, Starbucks dan Burger King, itu ‘mirip’ dengan wacana yang dilontarkan Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution, pada 3 Agustus 2010 lalu.

Darmin menyatakan Bank Indonesia akan menyederhanakan penyebutan satuan harga atau nilai mata uang rupiah atau redenominasi.

Redenominasi adalah penyederhanaan penyebutan satuan harga maupun nilai mata uang. Maksudnya, pecahan mata uang disederhanakan tanpa mengurangi nilai dari uang tersebut. Nilai mata uang tetap sama meski angka nolnya berkurang. Misalnya, Rp1.000 menjadi Rp1, sedangkan Rp1 juta menjadi Rp1.000.

Secara sederhana, dia menjelaskan bahwa jika seseorang membeli barang dengan harga Rp300.000 menggunakan pecahan uang lama, nilainya akan sama dengan Rp300 dengan pecahan uang baru. “Jumlah barang yang diperoleh juga sama.”

Wacana tersebut dimunculkan karena harus dibicarakan sejak sekarang. Bank sentral, kata Darmin, mengaca pada kebijakan serupa yang sukses dilakukan beberapa negara. "Karena prosesnya perlu waktu 5-10 tahun."

Contoh sukses redenominasi memang pernah terjadi di Turki, Rumania dan Zimbabwe. Pada 2005, Turki memotong enam digit pada nominal mata uangnya. Saat itu, satu juta lira (uang Turki lama) sama dengan satu lira uang baru (YTL). Turki menyiapkan kebijakan ini sampai 10 tahun.

Tahun yang sama, Rumania meniru kesuksesan Turki. Pada 1 Juli 2005, Rumania memperkenalkan lei baru (RON) yang senilai 10 ribu lei lama (ROL). Negara itu mengeluarkan pecahan 100 lei baru yang menggantikan 1 juta lei, pecahan terbesar saat itu.

Halaman Selanjutnya
img_title