SOROT 135

Bagaimana Merpati China Datang?

Direktur Utama Merpati Kapten Sardjono Jhony Tjitrokusumo
Sumber :
  • ANTARA/Prasetyo Utomo

img_title Pelaku Penembakan 3 ASN Dinas Pertanian Sudah Diburu, Polisi Tebalkan Pasukan di Jayawijaya

VIVAnews–Masa buram itu masih hinggap di ingatan. Jhony Sardjono Tjitrokusomo. Didapuk menjadi Direktur Utama Merpati 27 Mei 2010, ketika perusahaan itu sedang terbang ke titik nadir. Jhony membedah situasi. Dari pesawat hingga karyawan. Semua buram.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Merpati cuma punya tujuh pesawat. Itu pun bukan pesawat baru. Pesawat andalan mereka, ATR 72, sudah lumpuh. Beberapa pesawat CN-235 yang sudah lama beroperasi, teronggok di sejumlah tempat. Dua di Medan. Empat di Surabaya.

img_title Ciri-ciri Pelaku Penembakan 3 ASN Dinas Pertanian Hingga Tewas di Papua Terkuak! Polisi Juga Sita Selongsong Peluru

Pembukuan juga buram. Membuka hitung-hitungan keuangan hanya membuat kepala pening. "Waktu itu hutang dan tunggakan kami bejibun,” kata Jhony kepada VIVAnews, Kamis  12 Mei 2011. Hutang Merpati saat itu  tak kurang dari US$24,88 juta.

Hutang segunung, setoran cicilan terseok-seok. Sejumlah perusahaan penyewa pesawat sudah naik pitam. Mengumbar ancaman. Menarik pesawat jika setoran seret terus-terusan.

Jhony mengisahkan, saat itu dua tim dari Jetscape aviation, lessor atau perusahaan yang menyewakan pesawat kepada Merpati, sudah bersiaga di Hotel Sheraton Bandara Sukarno Hatta Jakarta. Mereka siap mengangkut pesawat yang pembayarannya lama menunggak.

img_title 21.400 Batang Ganja Ditemukan di Yahukimo Papua, Diduga Terkait Aktivitas OPM

Keuangan perusahaan terus tersuruk. Dan penderitaan itu lengkap sudah sebab gaji karyawan sulit dibayar. Tiga bulan tersendat. Jumlah karyawan 1400. Gaji mereka sepanjang Maret, April dan Mei 2010 terpaksa dicicil dua kali.

Suatu ketika Jhony membaca dokumen perjanjian kontrak MA-60 dan mengaduk-aduk sejumlah dokumen di kantornya. Dia menemukan addendum. Kontrak pembelian 15 pesawat Xian MA60 dengan suku bunga yang ringan. Buru-buru Jhony membaca dan mengecek isi kontrak itu. Ternyata izin prinsip maupun skema pembiayaan sudah tersedia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Peluang di depan mata itu langsung disambar. Direktur Utama ini memanggil tim legal. Meminta opini dari sisi hukum. Tim itu menegaskan bahwa kontrak itu belum mati. Jhony girang bukan kepalang. Siapa tahu pembelian MA-60 itu bisa menjadi malaikat penyelamat Merpati, yang keuangannya terus menukik menurun.


Itu kisah yang dituturkan Jhony. Sejumlah sumber lain menuturkan versi yang berbeda soal pengadaan pesawat dari negeri tirai bambu itu. Lengkap dengan cerita soal jaringan makelar di belakangnya. Yang menempel ketat pengambil keputusan. Berujung pada mahalnya harga pesawat. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut