- VIVAnews/Ikhwan Yanuar
Hari itu banjir membenam Jakarta. Ibukota dalam kondisi darurat.
Kombinasi ekstrem
Hujan deras mengguyur pekan lalu itu membuat debit air melonjak. Kanal Banjir Barat di Jalan Latuharhary, Menteng, tak kuat menahan arus. Tanggul buatan tahun 2002 itu pun jebol.
Itu sebabnya, air meluber di jalan utama Jakarta, dan menerjang sampai menyisakan tragedi di Gedung UOB itu.
Jalan Jenderal Sudirman dan MH Thamrin tenggelam. Kawasan Dukuh Atas hingga Sarinah menjadi 'sungai'. Gedung pencakar langit dikepung air bah. Lalu lintas lumpuh. Bahkan, air menorobos “ring 1” Istana Negara.
Menteri Koordinator Kesejahteraan, Agung Laksono, pun menyatakan Jakarta Siaga I. Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, menetapkan tanggap darurat bencana banjir sampai 27 Januari.
Selain menggasak jantung Ibu Kota, banjir melumpuhkan kawasan utara Jakarta. Waduk Pluit meluap merendam rumah warga. Sedikitnya 4.000 jiwa di Kelurahan Pluit kebanjiran. Begitu juga daerah elit Kelapa Gading. Jalan Boulevard Raya depan Mal Kelapa Gading terendam sekitar satu meter.
Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum, Muhamad Hasan, mengatakan banjir lima tahunan itu adalah kombinasi hujan ekstrem, dan kondisi sungai Ibukota yang tak lagi memadai.
Misalkan, kata dia, Rabu malam itu hujan turun sampai 218 milimeter. Itu mendekati puncak hujan pada 2007, yang mencapai 220 milimeter. Gawatnya lagi, kali ini durasinya lebih lama.
Di Depok, Bogor dan Puncak, hujan juga turun menggila, tiga hari mengucur dengan curah 100 milimeter. Di Pintu Air Katulampa, air membuncah. “Jakarta tak siap menerima beban itu," kata Hasan. Air kiriman itu pun lolos karena sistem drainase yang buruk. Sedimentasi yang parah, membuat sungai kian dangkal.
Hasan juga menjelaskan, sejumlah waduk juga tak berfungsi baik. Sebagian besar menjadi dangkal. Sedimen Kanal Banjir Barat kian tebal. Pintu air Manggarai turun mencapai 760 senti, masuk siaga tiga. Perbaikan permanen baru dilakukan jika turun mencapai 750 senti.
Jebolnya tanggul di Latuharhary adalah akibat daerah itu menjadi bagian hulu Kanal Banjir Barat. Terjangan air paling kuat di sana. "Selain itu, masih pakai tanggul tanah," ujar Direktur Sungai dan Pantai Direktorat Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum, Pitoyo Subandrio. Tanggul jebol itu, kata dia, akan segera diganti.