- cfzaustralia.com
Kemudian saya pasang sekitar 10 kamera di beberapa titik, namun hasilnya nihil. Akhirnya, saya bersama teman saya Jeremy Holden sebagai teknisi kamera, memutuskan untuk mengumpulkan jenis satwa seperti burung yang terdapat di TNKS. Karena, orang TNKS tidak punya peta lokasi satwa di TNKS.
Sejak itu, saya berkeliling di sepanjang TNKS dan beberapa hutan lindung di pulau Sumatera. Maka bertemulah saya dengan Orang Pendek ini.
Seperti apa ciri-ciri Orang Pendek itu?
Badannya agak besar. Tinggi sekitar 130 cm. Warna kulitnya madu tua, bulu di kepala sedikit tebal. Perawakan wajahnya hampir sama dengan Orang Utan tapi tidak mirip dengan manusia.
Apakah yang Anda lihat sama dengan ciri-ciri yang disampaikan warga?
Hampir sama. Hanya saja yang saya lihat lebih kecil dari ciri-ciri yang disampaikan warga.
Apakah dia berjalan seperti manusia?
Bukan, jalannya sedikit berbeda dari manusia dan tidak sama dengan Orang Utan. Dia berjalan dengan kaki dua sangat lancar. Waktu itu saya lihat dia berjalan pelan dan hati-hati. Tangannya di kedepankan sambil menguak tumbuh-tumbuhan yang ada di depannya.
Dari sekian lama Anda meneliti, kira-kira apa makanan Orang Pendek?
Makannya sayur-sayuran, buah dan akar. Tapi sepertinya dia tidak makan cabai.
Menurut Anda, apakah Orang Pendek tergolong ke manusia atau bagaimana?
Oh, tidak. Mereka tergolong primata, bukan manusia.
Lebih dekat ke spesies apa pada jenis primata?
Asumsi saya dia lebih dekat ke Siamang. Mereka tidak berkelompok. Tapi tumbuh dalam keluarga kecil —satu ibu dan anak-anak tanpa pejantan.
Soal penemuan Orang Pendek oleh polisi hutan di Way Kambas, bagaimana menurut Anda?
Mereka boleh saja menemukan itu. Secara ciri-ciri, berbeda dengan yang pernah saya lihat. Di sini, lebih besar dari yang dilihat polisi hutan Way Kambas. Ingat, Way Kambas bukan taman nasional besar, teman-teman peneliti di sana menemukan Badak Sumatera, anehnya, masyarakat tidak tahu sebelumnya.
Kita tunggu saja hasil kamera tersembunyi mereka. Bisa jadi yang dilihat di sana memang berbeda dengan yang ada di Kerinci, karena Hutan Sumatera sangat kaya. Tanpa keinginan untuk membantah penemuan itu, tapi saya yakin yang ada di Way Kambas berbeda dengan yang di Kerinci.