Dari Dosen Hingga Mantan Menteri

VIVAnews –  BANGUNAN berdinding keramik putih dengan kusen merah di Jalan RM Harsono, kawasan Ragunan, Jakarta Selatan, itu tampak sepi pada Selasa sore 17 Maret 2009.

Wartawan VIVAnews yang datang ke gedung yang berdiri pada lahan seluas sekitar 2.000 meter persegi itu hanya melihat seorang petugas keamanan bernama Badrun. Pensiunan tentara itu menjelaskan, ada tiga jenis kegiatan di gedung ini.

Lantai satu digunakan sebuah perusahaan perkayuan. Tak ada penerima tamu di lobi. Suasana perkantoran tak terasa di sini. Di ruang tamu ada sejumlah rak yang berantakan. "Perusahaan itu sudah bangkrut," kata Badrun.

Kehidupan hanya tampak di lantai dua dan tiga. Di sinilah markas Tim Sukses Gerindra dan Institut Garuda Nusantara. Itulah sebabnya, di halaman gedung ini sering parkir puluhan mobil Mitsubishi Strada double cabin berlogo Gerindra.

Menjelang kampanye legislatif, Badrun hanya sesekali melihat Letnan Jenderal (Purnawirawan) Prabowo Subianto ikut rapat di institut yang didirikannya awal 2008 itu.

Institut tersebut, kata Prabowo, didirikan bersama Hashim S. Djojohadikusumo. Hashim adalah adik Prabowo, putra begawan ekonomi Sumitro Djojohadikusumo. Hashim telah malang melintang sebagai pemain di industri migas di beberapa belahan dunia.

Prabowo dan Hashim menjadikan institut ini sebagai salah satu pusat pemikiran. Di sinilah Prabowo mengumpulkan orang-orang yang dianggap jago, selanjutnya diberi nama Tim Merah Putih. "Saya minta tolong orang pintar agar saya dapat kepintarannya," kata Prabowo di Semarang, Minggu 15 Maret 2009.

Di lembaga tersebut Prabowo menunjuk Rachmat Pambudy sebagai Direktur Eksekutif. Garis penghubung antara Prabowo dan Rahmat adalah Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI). Di organisasi ini Prabowo adalah Ketua Umum HKTI periode 2004-2009, dan Rachmat menjabat sekretaris jenderal.

Rachmat memang tak asing dengan dunia pertanian. Alumni Institut Pertanian Bogor ini seorang pengusaha peternakan. Di almamaternya ia seorang dosen, namanya sempat masuk dalam bursa pemilihan rektor pada 2007.

Di pemerintahan, Rachmat pernah menjadi staf Menteri Pertanian, Bungaran Saragih, masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid dan berlanjut ke pemerintahan Megawati Soekarnoputri. Bersama Bungaran, dia mengurus Pusat Studi Pembangunan IPB.

Rachmat juga memiliki akses ke kelompok Nahdlatul Ulama, namanya masih tercatat sebagai Ketua Pimpinan Pusat Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama.
Sedangkab untuk posisi Sekretaris Eksekutif, Prabowo menunjuk  Endang S. Thohari.

Masalah pertanian juga yang menautkan Endang. Dia adalah Kepala Divisi Perbankan di HKTI sejak 2000 hingga sekarang.  Prabowo sering membanggakan perempuan itu. “Dia adalah doktor jebolan dari Prancis,” katanya.

Endang memang menyelesaikan program doktor dibidang Sosial Ekomoni di Universitas Montpellier, Prancis, pada 1990. Ibu satu anak ini menimba ilmu di Prancis sejak 1982. Sama dengan Rachmat, Endang juga adalah alumni IPB. Dia juga pernah menjabat sebagai Direktur Permodalan dan Perkreditan, Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Departemen Pertanian, masa Bungaran Saragih menjadi menteri.

Jadi tak heran jika Prabowo juga mengundang Bungaran ikut dalam rapat Institut Garuda. “Rachmat dan Endang adalah mahasiswa saya di IPB,” kata Bungaran. Keduanya kuliah di Fakultas Peternakan IPB pada 1973.

Guru besar IPB itu membantah masuk dalam tim ekonomi Prabowo. Dia mengaku hanya akrab dengan calon presiden dari Gerindra itu karena memang sama-sama di HKTI. Doktor Bidang Ekonomi lulusan North Carolina State Universyty pada 1980 itu adalah Ketua Dewan Pembina HKTI.

Bungaran banyak menulis buku tentang pertanian dan agribisnis. Antara lain; Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian (1998) merupakan sebuah karya yang mengintisarikan perubahan ekonomi dengan pemberdayaan pertanian.

Buah fikiran Bungaran ini kemudian menjadi salah satu konsep ukuran-ukuran ekonomi serta kesejahteraan yang diusung Prabowo. "Keampuhannya belum diketahui sampai benar-benar dilaksanakan,” katanya.

Selain menggaet kelompok IPB dan HKTI, Prabowo juga menggandeng Rauf Purnama. Kiprah Rauf juga tak jauh-jauh dengan pertanian. Dia adalah bekas Presiden Direktur PT Asean Aceh Fertilizer, dan Direktur Utama Petrokimia Gresik.

Jebolan Institut Teknologi Bandung inilah yang membidani kelahiran pupuk majemuk phonska, yang kini sebagai obat mujarab untuk meningkatkan produksi beras. 

Di luar masalah Pertanian, dalam tim ekonominya Prabowo merekrut Widya Purnama. Meski bernama belakang sama dengan Rauf, tetapi mereka tak ada hubungan darah. Widya adalah pria kelahrian Pare-pare, Sulawesi Selatan, pada 1954, sedangkan Rauf kelahiran Garut, Jawa Barat, pada 1943.

Kesamaannya, Widya dan Rauf pernah menimba ilmu di ITB. Widya menyelesaikan magister management di ITB usai menamatkan sarjananya di Institut Teknologi Surabaya. Jabatan terakhirnya adalah Direktur Utama PT Pertamina (2004-2006).  Sebelumnya dia berkarier di PT Indosat, mulai dari karyawan biasa hingga menjadi direktur utama.

Dari kalangan ekonom, yang sering disebut-sebut namanya oleh Prabowo adalah Kwik Kian Gie. Tapi, menurut Kwik, “Saya ini bukan orang Gerindra. PDIP tetap rumah saya.”

Dia mengaku telah beberapa kali bertemu Prabowo. “Saya datang ke rumah dia untuk diskusi, konsultasi dan memberikan masukan-masukan,” kata mantan Menko Ekonomi di masa presiden Abdurrahman Wahid.

Ia juga telah memberikan buku karyanya tentang platform presiden 2009 kepada Prabowo. “Banyak program dia yang sama pandangannya dengan pemikiran dengan saya,” kata mantan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua Bappenas di era Megawati itu.

Selain itu, ada juga nama Prasetyantoko, dosen Unika Atmajaya. “Saya juga sering diundang diskusi, tetapi tak punya ikatan khusus,” katanya. Menurut Prasetyanto, ekonom lain yang sering diundang bersamanya adalah Imam Sugema dan Sri Edi Swasono.

Imam Sugema adalah pengamat ekonomi dari Tim Indonesia Bangkit yang pernah masuk dalam tim ekonomi Megawati. Sedangkan Sri Edi Swasono, kakak kandung Sri Bintang Pamungkas, adalah guru besar ekonomi di Universitas Indonesia.

Dari pemikiran orang-orang itulah, kata Prabowo, ia menyusun buku berjudul "Membangun Kembali Indonesia Raya, Haluan Baru Menuju Kemakmuran."