- http://2.bp.blogspot.com/-0dtDQA0zQJU/Uy_75ln2JOI/AAAAAAAAAj0/PNi5TaY_fJc/s1600/Aeroponik+Sistem.jpg
![]()
Urban Farm di Pasona Tokyo menciptakan fasilitas urban farming dalam gedung yang terintegrasi.
Â
Datangkan Pendapatan
Beranjak ke Amerika Serikat (AS), Negeri Paman Sam juga tak ketinggalan menggarap pertanian di kota. Kali ini, gerakan bercocok tanam dilakukan di atas gedung di New York City. Diprakarsai sekelompok orang menamakan diri Brooklyn Grange.
Mereka pertama kali bercocok tanam di atas sebuah gedung tua, Northern Boulevard di Long Island City. Gedung berusia 95 tahun itu dipilih karena memiliki atap beton yang kokoh.
Tomat, salad, kale, wortel, hingga tumbuhan herbal terhampar di atap seluas 43.000 kaki persegi. Standar organik diterapkan. Sampah-sampah organik didaur ulang. Hasilnya, dijadikan kompos untuk menyuburkan tanah.
Selain menginspirasi warga New York membuat kebun sendiri, pertanian di atas gedung juga berperan dalam penghematan energi. “Ada beberapa penghematan energi untuk bangunan dengan atap ramah lingkungan, " ujar kepala pertanian, Ben Flanner, kepada NY1 News.
Kata dia, pertanian di atas gedung bisa bertindak sebagai sekat. Tanaman serta tanah lembap mencegah sinar matahari langsung menerpa permukaan atap. Secara tidak langsung terjadi penghematan energi dalam hal pendinginan gedung.
Produk –produk yang dihasilkan dari Brooklyn Grange dijual ke restoran-restoran di kota. Mereka juga membuka pasar di gedung setiap hari Selasa dan Kamis.
Selain Brooklyn Grange, terdapat kelompok lainnya yang juga aktif bercocok tanam di atas gedung. Mereka adalah Gotham Greens. Pada tahun 2010, Gotham Greens membangun rumah kaca hidroponik di atas sebuah gedung di Brooklyn.
Sebanyak 100 ton sayuran segar setiap tahunnya dihasilkan dari atap seluas 15.000 kaki persegi tersebut. Sistem sirkulasi irigasi yang digunakan tidak sembarangan. Dengan sistem ini, air ditampung untuk kemudian digunakan kembali. Tanaman pun bebas dari bahan kimia berbahaya. Adapun kontrol biologis diterapkan dengan menggunakan serangga.
Untuk menjalankan pertanian ini, mereka menggunakan panel surya 60 kilowatt, lampu LED, tirai termal, ventilasi pasif, kaca canggih. Alhasil, kebutuhan listrik dan pemanas bisa dipangkas. Seperti Brooklyn Grange, Gotham Greens juga sudah menjual hasil pertaniannya ke berbagai ritel, seperti Whole Foods dan FreshDirect.
Seperti dilansir laman New York Times, munculnya pertanian komersial tersebut memiliki manfaatan tambahan bagi kota. Pertanian di atas atap berpotensi menampung jutaan galon air hujan dan mengalihkannya dari sistem saluran pembuangan yang dapat meluap saat hujan.Â
Meski demikian tak semua atap gedung bisa digunakan untuk bercocok tanam. Nasr dari Ryerson University menuturkan, atap harus cukup kuat untuk menahan berat tanah atau rumah kaca.
Selain itu akses menuju atap juga menjadi tantangan. Sebab, tidak semua bangunan memiliki banyak tangga atau lift menuju atap. Tidak semua atap juga memperoleh sinar matahari penuh karena terhalang oleh bangunan yang berada di sebelahnya.
AS dan Jepang bukan satu-satunya negara yang mulai menggalakkan urban farming. Inggris, Rusia, Kuba, Belanda, China, Thailand, Indonesia, hingga Prancis pun tengah melakukan hal serupa. Di Paris, Prancis bahkan terdapat salah satu restoran yang seluruh bahannya berasal dari kebun mereka sendiri di atas gedung.
Melansir Independent.co.uk, hasil kebun tersebut mereka gunakan untuk dijadikan menu makanan di restorannya. Hal ini dilakukan sebagai bentuk ramah lingkungan serta menjamin makanan yang benar-benar sehat untuk dikonsumsi untuk pelanggan mereka karena hasil olahan sendiri.
Konsep lahan hijau di atas gedung memang tengah menyebar di seluruh Prancis. Konsep tersebut sejalan dengan meningkatnya kepedulian masyarakat tentang dari mana makanan yang mereka santap berasal. (ren)