- www.balikpapan.go.id
VIVAnews - Balikpapan bebas debu. Ini mungkin salah satu penilaian kunci sehingga kota yang berjarak 3 jam perjalanan dari Samarinda itu masuk daftar atas kota layak huni di Indonesia.
Penilaian itu diambil dari survei yang dilaksanakan Ikatan Ahli Perencana Indonesia (IAPI). Kota dengan slogan Beriman itu mengalahkan Yogyakarta untuk urusan kenyamanan.
Perang terhadap debu ini menjadi kebijakan pemerintah setempat. Caranya, melarang galian di wilayah yang berbatasan dengan Kutai Kartanegara. Peraturan lainnya adalah, mengharamkan segala bentuk pertambangan yang tentu saja kurang populer bagi kalangan pengusaha. Mahfum, pertambangan selain menambah pendapatan daerah, namun di sisi lain, ada efek negatifnya. Masalah lingkungan.
Dampak larangan aktivitas penggalian di wilayah berpenduduk 600 ribu jiwa itu adalah kawasan bebas debu di hampir seluruh sudut kota. Tanpa debu, aktivitas akan terasa menyenangkan.
Tentu, ini bukan satu-satunya indikator bahwa Balikpapan layak huni. Hal yang menonjol lain adalah adalah tempat wisata yang berserakan di beberapa titik tak jauh dari kota. Sebut saja kawasan pantai Manggar yang terdapat di kecamatan Balikpapan Timur.
Tempat lainnya adalah Kemala Beach. Kawasan pantai yang berada di belakang kompleks rumah perwira Polda Kaltim itu juga relatif nyaman untuk dikunjungi. Ada warung-warung di pinggir pantai ala Bali tetapi menawarkan jajanan khas Kaltim.
Tak terlalu jauh dari pantai, ada juga kawasan wisata yang berdekatan dengan pelabuhan. Ini kawasan wisata yang menawarkan view kapal-kapal minyak yang sandar di pelabuhan. Kawasan Melawai ini hanya buka malam hari. Terletak di pinggir jalan dan bersebelahan dengan pelabuhan.
Selain itu kota dengan ikon Beruang Madu itu berjejal kawasan teduh yang berfungsi sebagai hutan kota. Tepat di jantung kota Balikpapan terdapat kawasan hutan kota yang dianggap sakral untuk didirikan bangunan di atas lahannya. Hutan kota Telagasari mulai diresmikan sejak 1996.
Ketika awal diresmikan hutan kota tersebut memiliki luas 29,4 hektare. Namun karena dikelilingi kawasan penduduk, hutan kota penyangga udara warganya itu kini tersisa 8 hektare saja. Pemkot Balikpapan terus berupaya mempertahankan luas wilayah hutan kota tersebut.
Selain Telagasari, Balikpapan juga memiliki hutan lindung yang namanya sudah mendunia, Hutan Lindung Sungai Wain atau HLSW. Kawasan HLSW yang luasnya mencapai 10 ribu hektare itu masih terdapat binatang langka yang menjadi ikon Balikpapan, Beruang Madu.