SOROT 306

Bandung, Melestarikan Status "Parisj van Java"

Gedung Sate Bandung.
Sumber :
  • bdg.co.id

VIVAnews - Julukan sebagai kota "Parijs van Java" masih dilekatkan orang pada Kota Bandung. Sebutan itu tentunya masih relevan bagi banyak orang, terutama setelah Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAPI) memasukan Kota Bandung sebagai salah satu dari tujuh kota di Indonesia yang layak huni.

Pun bagi sebagian warga Jakarta, Bandung masih menjadi tujuan wisata favorit. Saban akhir pekan, ribuan warga Jakarta dan sekitarnya masih berbondong-bondong ke sana. Meski harus berjibaku dengan kemacetan.

Tapi, bagi sebagian penduduk Kota Kembang, julukan Parijs van Java mungkin sudah tidak berlaku lagi jika melihat problematika yang terjadi baik menyangkut masalah lingkungan, tata kota maupun fasilitas publik seperti jalan dan lainnya yang dihadapi Kota Bandung.

Bandung di sebagian titik memang masih menunjukan identitasnya sebagai miniaturnya Kota Paris. Di Bandung industri kreatif tumbuh dan berkembang pesat. Industri jasa dan hiburan pun terus menggeliat di tengah kebijakan jam malam yang diterapkan Pemkot Bandung dan Polrestabes Bandung.

Namun, bagi warga aslinya, Bandung sepertinya terus berubah dan mulai menanggalkan julukan Parijs Van Java. Tata ruang kota yang semrawut, ruang terbuka hijau yang kian berkurang, infrastruktur jalan yang tak seimbang dengan volume kendaraan hingga menimbulkan masalah kerusakan jalan dan kemacetan. Ditambah kasus kriminalitas yang bisa dikatakan tinggi seperti aksi kejahatan geng motor.

Lalu masalah lingkungan seperti belum optimalnya upaya penanganan Sungai Cikapundung yang kian hari makin keruh dan kotor terkontaminasi sampah serta limbah. Kemudian buruknya drainase, yang kerap menimbulkan persoalaan banjir Cileuncang, jadi sekelumit PR Kota Bandung di bawah kepemimpinan Wali Kota Ridwan Kamil.

Kang Emil, begitu orang nomor satu di Bandung itu disapa, bukan tanpa menyadari masalah yang dihadapi Kota Bandung. Sejumlah terobosan dilakukannya untuk membenahinya. Di awal masa kepemimpinannya, Kang Emil cenderung fokus pada pembenahan yang bersifat lingkungan.

Meski masih menuai kritikan, namun Kang Emil santai menjalankan program-programnya yang relatif menyentuh dan dapat dirasakan serta melibatkan langsung warganya. Seperti pengadaan bus sekolah gratis, taman tematik, program untuk membuat Kota Bandung yang lebih melek teknologi dan membuka cakrawala dunia lewat fasilitas wi-fi gratis, pengelolaan parkir dengan menggunakan sistem prabayar meski baru diterapkan di satu titik yakni Jalan Braga.

Lalu, menggelorakan aktivitas yang sifatnya kebudayaan dalam bentuk festival seperti Braga Culinary Night dan kampanye urban farming yang menyasar warganya untuk tekun memanfaatkan lahan kosong untuk berkebun.

Untuk masalah lingkungan, selain ingin membenahi Sungai Cikapundung dan menggalakan program pungut sampah, Kang Emil pun menyoroti kian tercemarnya udara Kota Bandung. Salah satunya dengan menggalakan penanaman pohon. “Jika ingin Bandung sejuk kembali, tidak panas, berarti harus menanam pohon, oksigen dari pohon bisa menurunkan adrenalin sehingga orang bisa berpikir lebih jernih,” ungkapnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title Punya Lahan Sempit di Rumah? 7 Tanaman Hidroponik Ini Bisa Jadi Ladang Cuan
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut