- www.cbp.gov
![]()
Petani di China sedang melakukan aktivitas di ladang pertanian (Foto: REUTERS)
Jaminan Pembelian Komoditas
Saat ini hanya Thailand dan India yang mempertahankan kebijakan pembelian produk pertanian oleh pemerintah, di bawah program cadangan pangan. Berdasarkan kebijakan itu, India membeli gandum dan beras dengan harga lebih dari harga pasar, kemudian menjualnya dengan harga murah pada warga miskin.
India mengklaim kebijakannya itu diperlukan untuk mendorong petani agar terus menanam, sehingga tersedia pasokan yang cukup untuk kebutuhan nasional. Pemerintah juga memberikan subsidi dengan menjual gandum dan beras dengan harga murah.
India mengatakan pembelian produk pertanian itu menghabiskan $13,8 miliar, atau sekitar Rp169 triliun pada 2010. Jumlah itu, bagian dari total anggaran sebesar $56,1 miliar, atau hampir mencapai Rp690 triliun untuk mendukung pertanian.
Kebijakan serupa diterapkan Thailand pada 2011. Program pembelian beras dengan harga 50-60 persen di atas harga pasar berdampak positif ketika terjadi banjir yang menyebabkan banyaknya petani mengalami gagal panen pada 2011.
Namun tahun berikutnya menjadi masalah karena pemerintah tidak menetapkan batas pembelian, sehingga terjadi kelebihan stok beras. Sejumlah pihak juga mengambil keuntungan dengan menyelundupkan beras murah dari negara tetangga, lalu menjualnya pada pemerintah.
Program yang ditujukan untuk membantu petani miskin tidak berjalan, karena hanya seperlima dari total subsidi yang sampai ke petani miskin. Sisanya dinikmati oleh birokrat yang korup dan petani kaya yang mengalami surplus produksi.
Teknologi dan Infrastruktur
Sejak lama negara-negara maju seperti AS dan Eropa merubah metode produksi dengan modernisasi sistem dan peralatan, yang meningkatkan efisiensi dalam penggunaan lahan dan produksi. Serta meningkatkan kualitas produk.
Laporan PBB menyebutkan bahwa di negara-negara berkembang, lebih dari 40 persen sampah makanan berasal dari pertanian. Situasi yang kontras dengan negara maju yang hanya sekitar 1 persen.
"Di negara berkembang, sebagian besar sampah makanan ada pada tingkat produksi. Alasannya adalah buruknya infrastruktur," kata Ajay Nair, pakar hortikultura dari Universitas Iowa. Dia mencontohkan kondisi jalan yang buruk, menyebabkan kendala dalam pengiriman.
Ditambah lagi, kata Nair, kurangnya peralatan yang berguna untuk melakukan produksi secara efisien dan efektif. Hanya beberapa negara berkembang yang memberikan perhatian cukup besar di sektor pertanian.
Diantaranya pemerintah Thailand, yang memberikan insentif besar untuk meningkatkan produksi beras melalui investasi dalam pembangunan infrastruktur dan irigasi. Tidak sekedar membangun bendungan dan kanal, Thailand juga membuat kebijakan terkait riset dan industri mesin pertanian.
Pemerintah Hasilnya pada akhir 1990an, hampir dua juta traktor berhasil dibuat oleh industri kecil dalam negeri, satu juta pompa untuk irigasi, serta berbagai mesin pertanian lain. Kombinasi kebijakan di berbagai bidang menghasilkan peningkatan produksi secara signifikan.
Sementara Vietnam, memberikan contoh bagaimana inovasi dan pembangunan infrastruktur menjadi kunci majunya pertanian. Pada 1968, Vietnam mulai menanam beras IR-8 yang dikembangkan pada Institut Riset Beras di Filipina.
Tapi hasil dari penerapan inovasi yang bertujuan meningkatkan hasil produksi itu, baru terlihat setelah pemerintah membangun jalan yang secara signifikan meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani.