- VIVA.co.id/Zahrul Darmawan
"Kapasitasnya 9 juta ton per tahun untuk peleburan baja. Bahan baku perlu dua kalinya," ujar dia saat dihubungi VIVA.co.id, Jumat 23 Januari 2015.
Namun, industri peleburan anggota IISIA, hanya mampu memproduksi di kisaran 7 juta ton per tahun. Artinya, industri ini terpaksa harus mengimpor scrap dari Eropa, Afrika, India hingga Amerika Serikat.
"Pasar Maling"
Wajar bila Beni menganggap kecil omzet lima miliar rupiah. Terlebih, fakta bahwa kebutuhan scrap di Indonesia mencapai belasan juta ton per tahun. Bila diambil harga tengah Rp3.500/kg scrap, nilai pasar scrap Tanah Air kira-kira Rp52,5 triliun per tahun. Dengan asumsi kebutuhan scrap 15 juta ton.
Itu baru pasar scrap saja. Bagaimana dengan pasar barang bekas pakai. Padahal, barang bekas bukan saja besi tua. Taruh contoh, mal rongsokan milik Nurkholis Agi. Mal tersebut menjajakan barang bekas pakai mulai perkakas elektronik, furnitur, hingga perlengkapan olahraga.
Sedikitnya ada 30-40 ribu item produk yang terpajang di mal itu. Mal barang bekas pakai yang ada di Jalan Bungur Raya, Depok, Jawa Barat ini mampu meraup omzet Rp100 juta per bulan.
Penggagas Komunitas Memberi, Yuswohady, menilai kecerdasan konsumen dan perubahan gaya hidup turut mendongkrak pasar barang bekas pakai ini.
"Konsumen sudah pintar, mereka pilih barang bagus yang murah. Masyarakat kelas menengah kita mulai cinta lingkungan. Bagi mereka, beli barang baru berarti sampah bertambah," kata dia.
Dia memperkirakan pasar barang bekas potensinya cukup besar. Meski demikian, dia belum bisa mengestimasi besarannya. Memang, sejauh ini belum ada studi yang bisa menaksir nilai pasar barang bekas pakai.
Sebab, hampir di tiap kota di Indonesia, terdapat pusat penjualan barang bekas atau sering disebut "pasar maling". Silakan sebut pasar barang bekas di kota Anda. Dan, bila berminat hitung saja putaran uang di sana. (art)