- Kadispenum Puspen TNI
Kekuatan Serdadu Cyber
Sejumlah negara maju sadar, ancaman terhadap keamanan dalam negerinya kini cukup besar. Inggris dan Amerika sudah merasakannya. Meskipun, mayoritas pelayanan di negara maju dan sistem di perusahaan hingga pribadi sudah mengandalkan teknologi komputerisasi.
Pengamat Security IT, Ruby Alamsyah, mengatakan, Inggris sengaja membentuk Brigade 77 guna mengantisipasi ancaman cyber itu. “Mereka sangat tergantung terhadap sistem komputerisasi. Bila diserang mereka akan mengalami kerusakan dan kerugian besar,” ujarnya kepada VIVA.co.id, Jumat, 6 Februari 2015.
Ruby menuturkan, pemerintah dan TNI harus siap menghadapi serangan itu. Terutama untuk data rahasia dan objek vital. “Kita harus siap. Minimal mengimbangi,” ujar anggota High Technology Crime Investigation Association (HTCIA) ini.
Menurut dia, medsos sangat strategis karena mempunyai jangkauan luas. Selain itu, hampir semua orang menggunakan media ini. “Medsos untuk komersial saja terbukti efektif. Apalagi, untuk kepentingan pertahanan dan militer,” kata dia.
TNI bisa menggunakan medsos untuk propaganda dan counter informasi. Selain itu, wahana ini bisa untuk melacak berbagai kegiatan yang dianggap mengancam keamanan seperti terorisme. Sebab, selama masuk internet, semua bisa dilacak.
Ruby mencontohkan, penangkapan teroris di Indonesia selama ini juga mengandalkan teknologi ini. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) juga menggunakan teknologi ini untuk memantau keberadaan teroris, sehingga mereka bisa dilacak dan ditangkap. Medsos dengan segala kemampuannya bisa menjadi senjata tersendiri bagi TNI.
Senada dengan Muradi, Ruby juga mengusulkan agar pemerintah membentuk satu badan khusus yang isinya gabungan antara sipil dan militer. Kemudian, sistem informasinya bisa dibagikan dan saling mengisi, sehingga bisa disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.
Silvy W. Sumarlin, salah satu pemateri pelatihan mengatakan, seharusnya Indonesia memang memanfaatkan medsos untuk memperkuat kekuatan militer dan pertahanan. Sayangnya, Indonesia tak memiliki satelit mobile yang bisa digunakan untuk menunjang program itu.
Menurut dia, satelit yang dimiliki Indonesia jenisnya adalah broadcast, bukan mobile. “Indonesia sebenarnya mengerti akan bahaya media sosial dan hacker. Tapi, mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena tak ada dukungan baik biaya maupun regulasi,” ujarnya kepada VIVA.co.id, Kamis, 5 Februari 2015.
Chairlady Federasi Teknologi Informasi Indonesia (FTII) ini menambahkan, medsos lebih berbahaya daripada hacker karena ada ikatan yang kuat antarpara penggunanya. Selain itu, medsos sangat strategis. Melalui medsos, upaya deterrent (mencegah/menangkis) jika dikelola dengan baik akan membuat orang akan waspada. Negara lain akan berpikir dua kali untuk menyerang Indonesia.
Namun, sayangnya pelatihan yang digelar dua hari tersebut tak melatih personel TNI sampai ke sana. Pelatihan hanya terbatas pada diseminasi berita, yakni bagaimana TNI bisa memanfaatkan media sosial untuk "mempromosikan" keberhasilan TNI. Pelatihan tersebut tidak dimaksudkan memanfatkan medsos guna menghadapi perang nonkonvensional. “Hanya murni untuk diseminasi pemberitaan.” (art)