SOROT 335

Pasar 45, Saksi Sejarah Manado

Pasar 45 di Manado
Sumber :
  • VIVA.co.id/Agustinus Hari

Kuliner Manado

Banyak makanan khas Manado dapat ditemui di Pasar 45. Tinutuan hanya salah satunya, makanan khas yang sangat populer dan oleh kebanyakan orang disebut sebagai bubur Manado.

Namun sebagai kota pantai, tentu saja Manado sangat kaya dengan makanan laut. Mau digoreng, bakar atau pakai kuah, semuanya punya rasa memikat. Satu yang harus dicoba adalah ikan Tude bakar, yang disajikan lengkap dengan dabu-dabu.

Cara masak yang khas di Manado adalah dengan dibakar, yang butuh kesabaran untuk menunggu hasilnya. Sebab tehnik membakarnya yang memang membutuhkan waktu.

Pembakaran menggunakan sabut kelapa, yang membuat ikan matang secara merata serta tidak hangus. Mau yang tidak biasa, maka coba Paniki atau kelelawar.

Di Pasar 45 hingga Boulevard yang merupakan kawasan wisata pantai, terdapat banyak penjual makanan, yang sayang rasanya jika tidak didatangi saat berada di Manado.

Bayangkan puncak kenikmatannya, menyantap masakan khas yang lezat sambil menatap Gunung Manado Tua, ditemani alunan suara ombak dan hembusan angin pantai.

Tapi kalau lidah Anda belum siap, tetap ada banyak pilihan makanan nusantara. Gado-gado, nasi goreng dan rendang, bisa di temui di Pasar 45. Selain makanan, juga terdapat kue dan minuman khas seperti gohu dan es kacang merah.

Untuk smokol, atau sarapan, nasi kuning khas Manado yang biasanya dibungkus dengan daun woka, adalah yang paling banyak dicari selain tinutuan. Tapi nasi kuning yang populer, lokasinya ada di luar Pasar 45.

Berbeda dengan di Jawa, nasi kuning Manado dimasak tidak dengan daun salam tapi daun pandan. Begitu juga lauk yang jadi pelengkapnya bukan irisan tempe, melainkan ikan cakalang dan daging sapi atau abon.

Salah satu rumah makan nasi kuning terkenal di Manado ada di Jalan Diponegoro, yaitu Nasi Kuning Saroja yang telah didirikan sejak 1970an oleh pasangan Abubakar dan Salma Simen.

Nama rumah makan itu sebenarnya merujuk pada nama anak-anak pasangan itu, yaitu Salma, Saidah, Rafiah dan Jafar, yang disingkat menjadi Saraja. Lalu dipadukan dengan lagu favorit Abubakar yang berjudul Seroja.

Tempat makan nasi kuning populer lainnya ada di Kampung Kodo atau Jalan Lawangirung. Uniknya, walau warung makan tertua di Manado yang buka sampai larut malam, namanya tetap Selamat Pagi.

Pada masa penjajahan Jepang, Selamat Pagi yang dirintis oleh Ahmad Sanusi ada di Pasar 45, kemudian dipindah ke Kampung Kodo pada 1974, saat usaha dilanjutkan oleh Jaber Hamadi, putra Sanusi.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title Bukan Pasar Biasa
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut