- VIVA.co.id/Dyah Ayu Pitaloka
![]()
Juru Bicara BNPT Irfan Idris mengatakan, orang-orang yang ditangkap polisi memiliki keterkaitan ISIS. Foto: VIVA.co.id/Muhamad Solihin
ISIS Bukan Islam
Meski mengusung Khilafah Islamiyah, tak semua organisasi Islam radikal di Indonesia mendukung ISIS. Peneliti gerakan Islam radikal di Indonesia Muhamad Zaki Mubarok mengatakan, tak semua gerakan Islam radikal di Indonesia mendukung ISIS. Misalnya MMI.
Organisasi pimpinan Irfan S Awwas ini menyatakan ISIS bukan gerakan Islam yang harus didukung. Sebab, Al Bagdadi dinilai telah memanipulasi Khilafah Islamiyah untuk kepentingan sendiri. Hal yang sama juga dilakukan HTI. Meski memiliki tujuan yang sama, HTI tak mengakui Al Bagdadi.
Menurut Irfan, salah satu alasan mengapa banyak organisasi Islam tak mendukung ISIS, karena tingkat kekerasan yang dilakukan. Sebagian besar organisasi Islam menilai, kekerasan yang dilakukan ISIS sudah melampaui batas. Misalnya pemenggalan kepala dan membakar orang yang disiarkan ke publik.
Selain itu, ISIS membantai minoritas nonmuslim. “Apa yang dilakukan ISIS ini tak pernah dilakukan gerakan Islam di Tanah Air,” ujarnya kepada VIVA.co.id, Rabu, 25 Maret 2015.
Sebagian organisasi Islam radikal menilai, ISIS telah merusak Islam, karena masyarakat melihat Islam identik dengan kekerasan. Menurut dia, MMI, HTI, dan organisasi Islam lain juga memperjuangkan Khilafah Islamiyah dan ditegakkannya syariah. Namun, mereka tak menggunakan cara-cara kekerasan seperti yang dilakukan ISIS.
Zaki Mubarok menerangkan, sebagian besar organisasi Islam radikal goal-nya sama, yakni terwujudnya Khilafah Islamiyah. Namun, strategi dan cara yang dilakukan untuk mewujudkan cita-cita besar tersebut berbeda.
Negara Islam Indonesia (NII) misalnya. Organisasi besutan Kartosuwiryo ini hanya mengajak masyarakat untuk hijrah. Di luar itu mereka hanya sibuk mengumpulkan harta dari para pengikutnya.
Begitu pun dengan HTI. Meski giat mengampanyekan khilafah, organisasi ini tidak melakukan kekerasan. Ajakan pembentukan khilafah dilakukan dengan kampanye dan pendidikan. HTI tak melakukan aktivitas atau gerakan fisik dan bersenjata.
“Kalau ISIS kan tidak melakukan itu, tapi langsung gerakan bersenjata. Padahal, ideologinya sama,” ujar penulis buku Genealogi Islam Radikal di Indonesia ini.
Platform NII, Jamaah Islamiyah, Jamaah Ansorut Tauhid (JAT), HTI, dan MMI sama dalam konteks ideologi. Namun, cara dan strategi gerakan mereka berbeda. MMI misalnya.
MMI mengembangkan perjuangan dengan cara dakwah. Karena, MMI menilai, Indonesia bukan wilayah perang. Hal yang sama dilakukan HTI dan JAT. Namun, bagi JI, Indonesia merupakan wilayah perang.
“Sehingga ideologi serta platform antara JI dan ISIS ketemu,” ujarnya.
Sebagian besar, patron sejumlah organisasi Islam radikal ini sama, yakni Imam Hambali, Ibnu Taimiyah, dan Muhammad Bin Abdul Wahab. Banyak yang mengatakan, ISIS ini menganut Sunni Wahabi yang sebenarnya secara ideologi tak berbeda dengan Arab Saudi, yakni sesama pengikut Muhammad Bin Abdul Wahab yang mengedepankan puritanisme.
Musuh mereka juga sama, yakni orang-orang yang dianggap kafir dan syiah. “Makanya yang dibom ISIS masjid-masjid yang berafiliasi dengan syiah. Jadi, alurnya ketemu,” ujarnya.
Sementara itu, NII tak merujuk kepada tokoh mana pun. Sejauh ini, NII hanya berijtihad sendiri seperti yang dilakukan Kartosuwiryo. Mereka langsung merujuk Alquran dan hadits, kemudian ditafsirkan sendiri sesuai logika dan pemahaman mereka. Menurut Zaki, hal itu terjadi karena akses Kartosuwiryo terhadap bacaan berbahasa Arab sangat terbatas.
HTI menyatakan menolak deklarasi Abubakar Al Bagdadi. Mereka menilai, yang dilakukan Al Bagdadi tak sesuai dengan syar'i. Ismail Yusanto mengatakan, ada perbedaan mendasar antara HTI dengan ISIS.
Menurut dia, ISIS menganut paham tafkiri, yakni paham yang sangat mudah mengkafirkan orang lain. “Itu efeknya luar biasa karena semua dianggap kafir itu darahnya halal. Mereka tidak segan juga membunuh anggota HTI di Suriah,” ujarnya.
Menurut dia, HTI tak menganut paham takfiri. HTI sangat berhati-hati soal akidah. “Hizbut Tahrir itu ya Aswaja, Ahlusunnah Waljamaah. Kalo ISIS itu banyak orang menyebutnya Khawarij karena cirinya takfiri itu,” tuturnya.
Tak hanya HTI, MMI juga menolak ISIS. “Kami tegaskan, gerakan ISIS adalah gerakan Islam yang radikal dan kami menolak ajaran sesat ISIS,” ujar Ketua MMI, Irfan S Awwas.
Ia bahkan meminta pemerintah, organisasi, dan gerakan Islam perlu mewaspadai gerakan Daulah Al-Baghdadi yang menjadi proxy force (agen antara) gerakan takfiri, khawarij tersebut.
Meski demikian, bukan berarti ISIS sepi dukungan. Berbeda dengan Zaki Mubarok, pengamat terorisme Alchaidar mengatakan, ada beberapa organisasi yang mendukung ISIS. Di antaranya, Komando Mujahidin Indonesia Timur (KMIT) di Poso dan JAT.
"NII ada beberapa fraksi yang mendukung juga,” ujarnya. Senada dengan yang lain, Alchaidar mengatakan, ideologi ISIS berbeda dengan ideologi organisasi Islam radikal lain. Salah satu pembedanya adalah paham takfiri. “JI tidak mengkafirkan orang lain. Dan tidak melakukan pembakaran-pembakaran," katanya.
Meski sejumlah organisasi Islam radikal menolak ISIS, bukan berarti gerakan ini tak berbahaya. Pakar terorisme Sidney Jones mengingatkan agar pemerintah melakukan sejumlah langkah untuk mengantisipasi.
Ia mengatakan, saat ini ada ratusan orang Indonesia yang sudah bergabung dengan ISIS. Menurut dia, yang harus diwaspadai adalah saat orang-orang itu kembali ke Tanah Air dengan keterampilan yang lebih banyak, pengalaman berperang, adanya legitimasi dan ideologi yang sudah mendalam serta hubungan dengan dunia internasional yang lebih kuat.