SOROT 357

Elyas Pical, Legenda Tanpa Tanda Jasa

ellyas pical
Sumber :

Sempat mengalami depresi akibat kekalahannya dari Galaxy, Elly tak menyerah. Ia kembali merebut gelar yang pernah terikat di pinggangnya, kala mengalahkan kembali petinju Korea Selatan, yang juga berstatus juara bertahan, Tae-Ill Chang.

Kemunduran kariernya dimulai usai ia kalah dari petinju Kolombia, Juan Polo Perez, pada 1989. Dalam pertarungan yang digelar di Virginia, Amerika Serikat, itu, Elly harus rela menyerahkan gelarnya kepada petinju Kolombia tersebut.

img_title Autobots vs Decepticons Masuk Minecraft, Optimus Prime hingga Megatron Siap Beraksi



Babak Suram Kehidupan

Usai kekalahan dari Juan Polo, kehidupan suram legenda tinju Indonesia itu dimulai. Tidak memiliki tingkat pendidikan tinggi, membuat Elly kesulitan mencari pekerjaan layak. Berbagai profesi pernah ia jalani demi menyambung hidup, salah satunya menjadi tenaga keamanan di salah satu diskotek di Jakarta kala itu.

Namanya semakin tenggelam dan jadi cibiran, kala ia divonis 7 bulan penjara akibat tersandung kasus transaksi narkoba pada 2005. Beruntung baginya, Agum Gumelar yang kala itu menjabat Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), menjadi 'penyelamat' dengan menerima Elly bekerja sebagai stafnya.

Hingga saat ini, Elly masih menekuni profesi sebagai staf di KONI. Tiap hari, ia datang ke kantor di kawasan elite itu hanya dengan naik bus.

Di usia yang sudah tak muda lagi, legenda tinju Indonesia ini hanya mampu hidup pas-pasan. Namanya seakan tenggelam ditelan zaman. Ia pun bahkan sudah sulit untuk mengingat apa yang sudah pernah diraih, saat masih berada di masa emasnya.

"Saya ingat sedikit, tapi tahunnya saya tidak ingat. Saya ingat saya pernah ke Amerika (Serikat). Ya, saya pernah jadi petinju," katanya saat ditemui VIVA.co.id.

Tanpa Penghargaan
Melihat sosoknya sebagai juara dunia tinju yang dimiliki Indonesia pertama kali, pengamat tinju Indonesia, Mahfudin Nigara, berkomentar tentang sosok seorang Elyas Pical. Nigara memandang sosok seorang Elly sebagai petinju terbaik yang pernah dimiliki Indonesia.

Bahkan, menurutnya, andai Elly lahir dan besar di era sekarang, mungkin kualitasnya jauh di atas Chris John. "Dia itu punya masalah dengan pendengaran. Karena dulunya ia seorang penyelam mutiara. Tapi, dia punya potensi sangat besar, bahkan melebihi Chris John sekarang. Dia punya killing punch, dan itu tak semua petinju punya,” kata Nigara saat dihubungi VIVA.co.id.

Nigara juga merasa prihatin melihat kehidupan Elly saat ini. Menurutnya, pemerintah seharusnya bisa menjadikannya sebagai ikon tinju Indonesia dan bisa lebih menghargai apa yang pernah dicapainya di masa lalu.

“Kala itu, jika ada atlet profesional bertanding, pemerintah pasti ikut membantu. Karena, nama Indonesia dan bendera merah putih harus menyertai sang atlet ketika bertanding. Ini seharusnya yang sekarang diberikan oleh pemerintah kepadanya. Harusnya ia dijadikan ikon tinju Indonesia, karena dia adalah juara dunia pertama yang dimiliki oleh Indonesia,” Nigara melanjutkan.

“Ya, seharusnya pemerintah dalam hal ini Kemenpora bisa memperjuangkan kesejahteraannya. Karena soal itu tadi, dia itu pernah membawa nama Indonesia berjaya di dunia. Jadi  dia layak untuk disebut pahlawan,” imbuhnya.

Ellyas Pical adalah salah satu mantan atlet yang pernah membawa harum nama Indonesia di kancah internasional, tapi tersingkirkan di masa tuanya. Nama mantan atlet lainnya masih banyak yang punya nasib memprihatinkan seperti Elly.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pejuang yang Terabaikan

Mereka mengharumkan nama bangsa. Tapi, sayang, tak tersentuh negara.

img_title
VIVA.co.id
15 Agustus 2015
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut