SOROT 358

Berlomba Bangun Transportasi Berbasis Rel

Ilustrasi LRT
Sumber :
  • REUTERS/Charles Platiau

VIVA.co.id - Siang hari di akhir pekan ini, Jakarta terasa terik. Kemarau panjang membuat jalanan Ibu Kota kering dan berdebu, tak terkecuali di kawasan Bunderan Hotel Indonesia, Jakarta Pusat. Beragam kendaraan yang lalu lalang membuat debu beterbangan. Mobil-mobil berjubel dan pengemudinya berebut mencari jalan, membuat macet jalan yang terletak di jantung Jakarta ini.

Kemacetan memang sudah menjadi urat nadi Kota Jakarta, termasuk di Bunderan HI ini. Dan, beberapa bulan belakangan, ruas jalan di MH Thamrin ini semakin sesak dan padat dari biasanya. Di beberapa titik jalan terjadi penyempitan karena pembangunan proyek Mass Rapid Transit (MRT).

Pengendara yang lewat jalur protokol ini bisa melihat tumpukan besi, traktor dan alat berat lain di sepanjang jalan. Tak hanya itu, puluhan orang berseragam rompi dan mengenakan helm pengaman juga terlihat lalu lalang di tengah jalan yang disekat dengan seng.

Sebagian tampak sibuk memotong besi. Sementara yang lain sibuk mengangkut semen dan peralatan proyek. Para pekerja ini sedang membangun ruang bawah tanah untuk MRT. Panasnya Jakarta dan deru kendaraan yang lalu lalang seolah tak mengganggu aktivitas mereka.

Proyek pembangunan MRT ini dirancang dua struktur, ada layang dan dalam tanah.  Untuk pembangunan jalur dalam tanah di area transisi yang dekat patung pemuda Jalan Sudirman akan ditanam Tunnel Borring Machine, alat untuk menggali dan membuat terowongan. Menurut dia, ada dua TBM yang sudah disiapkan. Salah satunya akan diujicoba pada minggu ketiga September.

Untuk koridor tahap pertama, dari Lebak Bulus sampai Bunderan HI ada dua struktur, layang dan dalam tanah. Stasiun pertama bawah tanah untuk sisi selatan nantinya dinamai Stasiun Senayan. Jumlah keseluruhan ada 13 stasiun, 7 di atas dan 6 di bawah tanah.

“Untuk layang dari Lebak Bulus, Fatmawati, Cipete, Haji Nawi, Blok A, Blok M, Sisingamangaraja, terus turun, Senayan, Istora, Benhil, Setiabudi, Dukuh Atas, Bunderan HI. Untuk fase satu endingnya di Bunderan HI,” ujar Corporate Secretary PT MRT Jakarta TB Hikmat kepada VIVA.co.id, Jumat, 21 Agustus 2015.

PT MRT saat ini sedang fokus mengerjakan tahap satu. Nantinya akan ada fase dua dari Bunderan HI ke Kampung Bandan, atau ke arah utara.

SOROT MRT/LRT Perkembangan Pembangunan MRT di Kawasan Sudirman, Jakarta

Pembangunan fasilitas penunjang MRT di Kawasan Sudirman, Jakarta. Foto: ANTARA/Rivan Awal Lingga

Menurut Direktur Utama PT MRT Jakarta Dono Bustami, sampai saat ini pembangunan MRT sudah mencapai 25 hingga 30 persen. Proyek ditargetkan selesai pada 2018. Sejauh ini sudah tak ada masalah yang berarti, termasuk soal pembebasan lahan. “Sudah tak ada lagi, kan kita sudah rapat dengan Gubernur DKI. Itu sudah clear. Sudah gak ada masalah,” ujarnya kepada VIVA co.id, Kamis lalu.

Namun, pernyataan berbeda disampaikan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama. Pria yang akrab disapa Ahok ini mengatakan, pembebasan lahan masih menjadi kendala utama dalam pembangunan MRT. “Untuk bebasin lahan, ketika disurvei, dia yang punya lahan dimahal-mahalin karena tahu kita butuh,” ujarnya kepada VIVA.co.id, Rabu, 19 Agustus 2015.

Guna mengatasi hal itu, Ahok meminta bantuan pengadilan. Caranya, uang pembebasan lahan ia titipkan di pengadilan. “Istilahnya kita sita paksa. Harga hanya satu patokannya, harga berdasarkan appraisal. Sudah dapat harga itu kita tawarkan kepada yang punya, Anda mau ambil atau kami titip di PN. Kita konsinyasi kita ambil. Kita sita saja sudah. Jalur tak bisa belok lagi,” ujarnya.

Sejumlah kalangan menyambut baik upaya Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta membangun MRT. Alasannya, transportasi massal berbasis rel ini diyakini akan mampu mengurangi kemacetan dan kepadatan lalu lintas di Jakarta.

Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia Danang Parikesit menuturkan, setiap penambahan infrastruktur dan layanan angkutan umum akan berdampak positif terhadap mobilitas perkotaan. Pasalnya, masyarakat mempunyai lebih banyak pilihan.

Menurut dia, investasi perkeretaapian selain memberi peluang pertumbuhan juga bisa dimanfaatkan pemerintah untuk memperbaiki struktur tata ruang kota dan menciptakan kota yang nyaman. “Saya sudah pernah bicara dengan Presiden Jokowi yang menyatakan, beliau sangat percaya kereta api adalah kebutuhan untuk mobilitas perkotaan di Indonesia,” ujarnya.

Badan Perencanaan Nasional (Bappenas) menyatakan, arah kebijakan pengembangan transportasi perkotaan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 adalah mengembangkan sistem angkutan umum massal yang modern dan maju dengan orientasi kepada bus maupun rel. Salah satunya membangun MRT di Jabodetabek.

Menurut Direktur Transportasi Bappenas Bambang Prihartono, pemerintah pusat dan Pemprov DKI saat ini sedang berupaya mempercepat proses pembangunan angkutan umum massal khususnya di DKI sebagai bagian dari rencana pembangunan angkutan umum massal wilayah Jabodetabek. Ia mengatakan, keberadaan MRT sudah mendesak.

SOROT MRT/LRT

Perakitan back-up cars Tunnel Boring Machine di titik Patung Pemuda, Jakarta. Foto: twitter/@mrtjakarta


Selanjutnya... Mimpi LRT



Mimpi Light Rail Transit (LRT)

Bambang mengatakan, selain MRT, pemerintah juga sedang mendorong pembangunan Light Rail Transit (LRT). Moda transportasi massal ini merupakan salah satu jenis urban passenger transportation yang beroperasi di permukaan jalan ataupun elevated, baik memiliki jalur khusus maupun memakai jalur umum. LRT merupakan bagian dari Mass Rapid Transit (MRT) dengan cakupan wilayah yang lebih kecil dan bentuk armada yang lebih kompak dan ringan.

Presiden Jokowi mengatakan, pembahasan proyek ini sudah matang. Sebab, dia sudah empat kali menggelar rapat terbatas khusus membahas mega proyek tersebut.

"Sudah tiga empat kali kita bicara soal LRT dan terutama untuk Jakarta, Jabodetabek dan Palembang. Sebetulnya ini sudah matang tapi (rapat) ini untuk sinkronisasi saja," ujar Jokowi saat membuka rapat kabinet terbatas di Istana, Jakarta, Selasa, 18 Agustus 2015.

Jokowi berharap, rapat yang ia gelar hari itu merupakan rapat terakhir yang membahas soal rencana pembangunan LRT. "Moga-moga sudah tidak ada ratas lagi. Jadi sudah final tinggal pelaksanaan saja."

Presiden nantinya akan menerbitkan dua Peraturan Presiden sekaligus yakni mengenai LRT dan high speed train Jakarta Bandung. Menurut dia, Perpres tersebut akan segera diterbitkan karena Presiden akan serius membenahi infrastruktur.

Infrastruktur itu bukan hanya di Jawa, tapi juga di luar jawa. Oleh sebab itu, LRT juga tidak hanya dibangun di Jakarta, tapi juga di 8 kota yang lain. Jakarta akan dijadikan rule model, sehingga akan segera dilaksanakan pembangunannya, supaya nanti di Bandung, Surabaya, Medan, Jogja, Palembang, Semarang dan kota lainnya bisa dilakukan dengan cara yang sama.

Untuk memujudkan mimpi LRT, Pemprov DKI kini sedang menyiapkan pembangunannya untuk tujuh koridor. Selain DKI, pemerintah pusat juga akan ikut membangun LRT sebanyak dua koridor. Nantinya akan ada sembilan koridor yang menjadi ‘sabuk’ wilayah Jakarta. Pemrov DKI saat ini masih menunggu Perpres sebelum mulai mengerjakan proyek pengganti monorell tersebut. “Ini terlambat gara-gara Perpres,” ujar Ahok beberapa waktu lalu.

Ahok berjanji akan mengebut pembangunan LRT karena mengejar penyelenggaraan Asian Games. “Kita mau bangun dua dulu, koridor satu dan tujuh. Dari Kelapa Gading sampai Kebayoran Lama, dari Bandara sampai ke PRJ. Dua itu kita kejar untuk ngejar Asian Games. Targetnya 2019.”

Berdasarkan instruksi presiden, Staf Khusus Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Hadi Mustofa Djuraid memastikan proyek LRT akan dimulai tahun ini. Proyek ini sudah selesai dibahas dalam rapat kabinet.

“Nanti akan ada dua proyek LRT. Yang pertama proyek yang ada di Jakarta, dan proyek Jabodebek. Untuk yang Jakarta akan dikerjakan Pemprov DKI yang melibatkan BUMD. Sementara yang Jabodebek akan dikerjakan oleh pemerintah,” ujarnya kepada VIVA.co.id, Kamis, 20 Agustus 2015.

Dua koridor yang menjadi tanggung jawab pemerintah pusat akan dikerjakan BUMN Adhi Karya. Perusahan pelat merah ini sudah memperoleh penyertaan modal negara (PMN) sebesar Rp1,5 triliun. Adhi Karya akan membangun prasarananya, mencakup jalur, rel, stasiun. “Nantinya ada dua jalur lintasan yaitu Bekasi Timur sampai Dukuh Atas dan Cibubur sampai Grogol. Nanti titik temunya di Dukuh Atas,” ujarnya.

SOROT MRT/LRT

Miniatur kereta cepat buatan China dipamerkan di Jakarta. Foto: ANTARA/Rivan Awal Lingga

Untuk pembangunan LRT ini, Kemenhub tidak terlibat secara. Kemenhub hanya mengurusi masalah perizinan, baik izin jalur, spesifik teknis untuk sarananya. Namun, nanti saat prasarana selesai dibangun akan dibeli pemerintah melalui Kemenhub.

Pakar transportasi Darmaningtyas meminta, pemerintah mengkaji kembali rencana pembangunan LRT. Hal ini terkait dengan keberadaan moda transportasi yang sudah ada maupun yang sedang dalam proses perencanaan. Itu dilakukan agar jangan sampai terjadi tumpang tindih jalur sehingga saling mematikan.

Sebagai contoh, jalur LRT rute Kebayoran Lama – Kelapa Gading. Sebagian jalurnya beririsan dengan jalur KRL Jabodetabek Serpong – Tanah Abang – Kemayoran. Jalur Kelapa Gading – Kemayoran - Pesing- Bandara Soekarno-Hatta, sebagian rutenya beririsan dengan jalur kereta Duri – Soekarno-Hatta yang tengah dikerjakan PT KAI.

Selain itu, rute Pesing-Kelapa Gading dan Cempaka Putih – Ancol beririsan dengan jalur TransJakarta Koridor 2 dan 3, serta Koridor 10. Menurut dia, makin banyak rute LRT yang beririsan dengan moda transportasi massal lain yang telah ada, akan membuat pembangunan LRT kurang optimal.

“Karena ada dua kemungkinan, mematikan moda transportasi yang telah ada atau kurang diminati lantaran masyarakat tetap memilih moda transportasi yang telah ada.”

Ketua Institut Studi Transportasi ini menyarankan, alih-alih membangun LRT, Pemprov DKI Jakarta diminta fokus menyelesaikan MRT dan peningkatan armada atau layanan TransJakarta. Setelah dua hal itu bisa ditangani dengan baik, baru selanjutnya beralih ke LRT.

Selanjutnya... Kereta Cepat



Kereta Cepat

Selain MRT dan LRT, pemerintah juga berencana membangun high speed train atau kereta cepat. Direktur Transportasi Bappenas Bambang Prihartono mengatakan, kereta cepat ini masuk dalam RPJMN 2015-2019. Di dalam RPJMN, pemerintah akan mendukung penuh daerah yang pertumbuhannya cepat.

Ahok Anggap Jokowi Berperan Benahi Transportasi Jakarta

“Kita naik mobil ke Bandung sudah butuh waktu lebih dari 3,5 jam. Kereta api juga 3 jam. Kita butuh alternatif yang lebih baik,” ujarnya.

Ia mengatakan, sebenarnya kereta cepat itu rencananya akan dibangun untuk jalur Jakarta Surabaya. Namun, karena biayanya sangat besar, maka rutenya digeser jadi Jakarta-Bandung. “Kita lihat juga koridor pertumbuhan ekonomi di Jakarta- Surabaya untuk lima tahun ke depan sulit untuk mencapai US$1.000  per kapita. Kan syaratnya itu. Tapi kalau Jakarta Bandung bisa mencapai itu,” ujarnya.

Bambang menambahkan, pemerintah akan terus mengkaji transportasi massal yang sudah dibangun, apakah sesuai target atau sebaliknya. Ia mengakui, transportasi publik di Indonesia buruk dan terus terpuruk. Namun menurut dia, untuk membangun transportasi yang handal butuh waktu yang tidak sebentar. “Di Tokyo itu 50 tahun baru bisa seperti sekarang. Jadi kita perlu waktu juga.”

Darmaningtyas mengapresiasi rencana Pemprov DKI membangun LRT. Pasalnya, moda transportasi massal ini bisa mengangkut orang dari pinggiran seperti wacana sebelumnya dari Bekasi-Cawang, Cibubur-Cawang, dan Cawang-Kuningan. Selain itu juga bisa menghubungkan Bandara Soekarno-Hatta dan Kelapa Gading.

Namun menurut dia, hal itu tak bisa menyelesaikan masalah transportasi di Jakarta. Alasannya, jumlah penduduk di Ibu Kota terus membengkak sehingga menyebabkan peningkatan jumlah kendaraan pribadi. Menurut dia, transportasi dipengaruhi oleh jumlah penduduk, mobilitas, dan traffic. Makin banyak traffic, makin banyak kekacauan.

Seharusnya yang menjadi prioritas Jokowi adalah membangun infrastruktur di luar Jawa guna menciptakan pemerataan dan keadilan dalam pembangunan. Karena, ketimpangan antara Jawa dan luar Jawa semakin melebar.

Persoalan ketimpangan infrastruktur transportasi antara Jawa dengan luar Jawa itu merupakan prioritas yang perlu dipecahkan segera dalam lima tahun mendatang demi keutuhan NKRI. Sangat tidak adil bila APBN sebesar Rp150 triliun hanya untuk membangun kereta cepat di Jawa dan hanya menghubungkan dua kota. Padahal, infrastruktur transportasi lainnya sudah berlimpah.

Sementara di luar Jawa, mayoritas daerah mengalami defisit infrastruktur. Bahkan, jalan penghubung antarkabupaten banyak yang belum diaspal.

Darmaningtyas mengakui, di negara maju, moda transportasi ditopang oleh kereta api, atau berbasis rel. Itu sudah terbukti sangat efektif di banyak negara. Hanya, biaya yang dibutuhkan untuk membangun sangat besar. Tetapi manfaatnya juga sangat besar. “Jadi kalkulasinya dengan biaya yang besar, daya tampungnya juga besar.” (umi)

Usai Bom Sarinah, Pengerjaan Proyek MRT Dilanjutkan
Mengenal

Pembangunan Mendesak, DKI Alihkan Anggaran untuk MRT

Membebaskan 105 bidang lahan.

img_title
VIVA.co.id
2 Agustus 2016