- VIVA.co.id/Purna Karyanto Musafirian
Gus Imam mengatakan, setiap santri mendapatkan jatah makan secara cuma-cuma. Mereka tak perlu mengeluarkan uang untuk makan selama belajar di pesantren.
Selain itu, pesantren tak menarik biaya untuk sekolah. Sebaliknya, setiap santri mendapatkan perlengkapan untuk belajar, mulai dari kitab hingga alat tulis.
“Pesantren tak menarik biaya sepeser pun dari siswa. Semuanya gratis,” ujarnya. Hal itu diamini kakaknya, Gus Abror. Menurut dia, pesantren yang ia pimpin membebaskan santrinya dari segala biaya.
Menurut dia, selain makan dan alat tulis, pesantren juga membagikan perlengkapan mandi secara cuma-cuma. Menurut dia, pesantren hanya membebankan orangtua atau wali santri untuk menitipkan uang Rp60 ribu ke pesantren untuk uang jajan.
“Uang itu akan ditampung pengurus dan nanti dikembalikan kepada santri. Itu pun kalau mampu. Kalau tidak, ya sudah kami handle juga,” ujarnya seraya tertawa.
Gus Abror mengatakan, ia membebaskan santri dari segala biaya karena mereka tidak mampu. “Pertimbangan paling mendasar kenapa kami tidak menarik biaya sepeser pun, karena rata-rata mereka tidak mampu. Maka kami nggak menarik apa pun kepada mereka,” dia beralasan.
![]()
Muhammad Abror atau Gus Abror, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda. Foto: VIVA.co.id/Purna Karyanto Musafirian
Ahmad Muhsin Al Akhbar (14) membenarkan. Salah satu santri di Ponpes Nurul Huda ini mengatakan, ia tak pernah ditarik biaya oleh pesantren. Meski demikian, semua kebutuhannya dipenuhi oleh pengelola Ponpes Nurul Huda.
“Gratis. Dapat makan, alat tulis dan perlengkapan mandi,” ujar santri asal Cilacap, Jawa Tengah yang menginjak kelas satu SMP ini.
Komentar senada disampaikan Zaenal Azis (16). Santri asal Bumiayu, Brebes ini mengatakan, ia sudah hampir tiga tahun nyantri di Ponpes Nurul Huda. Namun, selama belajar di pesantren, ia tak pernah ditarik bayaran.
“Selain sekolahnya gratis, masih dapat makan dan uang saku,” ujarnya.
Pesantren yang menginspirasi Zona Bombong, sebuah komunitas yang peduli dengan kerja-kerja sosial ini tak pernah menolak santri. Siapa pun bisa menjadi santri asal memenuhi syarat. “Kriterianya yatim, piatu, dhuafa dan ada surat keterangan dari desa,” ujar Gus Abror.