- VIVA.co.id/Wahyudi A Tanjung
VIVA.co.id – Di atas meja, berjejer wadah-wadah bulat berisi makanan yang terlihat menggiurkan. Ada rendang daging campur ubi kayu, gulai tunjang (kikil), gulai ikan, teri balado, ayam goreng, ayam bakar, ayam lado hijau, itiak lado hijau, goreng belut, rendang ayam, gulai sayur, dan gulai usus. Silih berganti orang-orang mengantre melewati satu demi satu wadah seukuran panci besar itu, memelototi makanan-makanan khas Minangkabau itu.
Seorang pria dengan cekatan menggunakan sendok panjang membungkus-bungkus makanan yang dipilih seorang pembeli, seorang ibu-ibu berjilbab. Si ibu dengan cekatan menunjuk makanan-makanan yang hendak dibawanya pulang. Tidak ada makan di tempat karena gerai ini memang khusus dibuka untuk jamuan berbuka puasa atau disebut sebagai Pabukoan dalam Bahasa Minang.
Itulah gerai Nasi Kapau Nita di Pasar Pabukoan Ramadan, Pasar Raya Padang. Setiap bulan puasa datang, Nasi Kapau Nita hanya berjualan di Pasar Pabukoan ini. Di luar Ramadan, mereka meladeni penggemar di kedai nasinya sudah ada sejak tahun 1991 di Jalan Sawahan, Padang.
Nita adalah nama panggilan dari perempuan pemilik kedai nasi ini, Ernita (52 tahun). Bersama suaminya, M Rizal, mereka bahu-membahu membesarkan kedai nasi yang membawa nama besar Kapau, nagari asal mereka.
Merek “Kapau” bagi orang Minang seperti jaminan masakan berkualitas. Rizal menyatakan selalu berusaha menjaga cita rasa asli masakan Kapau walau dengan begitu membuat harganya per porsi lebih mahal dari kebanyakan restoran masakan Minang lainnya. M Rizal mematok harga lauk-pauk hasil olahan istrinya rata-rata Rp15.000 per potong.
Rizal membuka rumah makan ini sejak 1991, banting setir dari bisnis lamanya jual beli mobil bekas. Dengan modal Rp5 juta, istri Rizal sendiri yang menjadi juru masak utamanya. Cuma beberapa tahun, berkat informasi dari mulut ke mulut, Kedai Nasi Nita pun ramai dikunjungi pembeli. Dari awalnya per porsi hanya Rp700, kini minimal Rp15 ribu.
![]()
Namun usaha M Rizal ini sempat kalang-kabut ketika krisis moneter melanda di tahun 1998. Omzet terjun bebas hingga 60 persen. Namun Rizal tak mau bersiasat dengan menurunkan mutu atau kuantitas demi tetap menjaga pemasukan.