- VIVA.co.id/Nur Faishal
Butuh Peran Ulama
Padepokan Dimas Kanjeng, Satrio Aji dan Gatot Brajamusti telah menjadi fenomena hangat di Indonesia. Ketiganya terbukti menipu. Ada yang menawarkan kekayaan dan ada juga yang menawarkan kesenangan dengan penggunaan narkoba.
Menurut Arthur, penyelesaian masalah munculnya kasus penipuan bermodus padepokan ini memang pelik. Selain para korbannya yang enggan melapor dan terbuka. Secara eksternal, kelompok ini memang menutup diri dari lingkungan masyarakat.
Mereka cenderung menempatkan kelompoknya di tempat terpencil atau sulit dijangkau. Sehingga sulit dicium publik. Kalau pun ada masalah itu akan muncul ke permukaan ketika ada ketidakpuasan di dalam kelompok tersebut.
Arthur mencontohkan kasus Padepokan Dimas Kanjeng dan Satrio Aji. Dimana terbongkarnya praktik penipuan ini justru karena ada kasus pembunuhan terhadap pengikutnya. Jika saja tidak ada kasus itu maka akan sulit muncul ke permukaan.
Ia menyarankan agar publik mewaspadai setiap munculnya kelompok seperti itu kepada masyarakat. "Masyarakat harus mencari informasi sebanyak mungkin sebelum masuk ke dalamnya. Selain itu butuh pengawasan lembaga pemerintah termasuk masyarakat," katanya menambahkan.
Tak cuma itu, mengingat munculnya kasus penipuan padepokan ini bermotif keagamaan. Maka seharusnya juga membutuhkan peran pemuka agama untuk memproteksi ini kepada masyarakat. Terkhusus untuk agama Islam misalnya, perlu diperkuat bahwa hal-hal yang berbau janggal di luar ajaran Islam harus diawasi. Entah itu berkaitan dengan kekayaan secara cepat seperti yang ditawarkan Padepokan Dimas Kanjeng dan Satrio Aji.
Atau juga mungkin yang berkaitan dengan unsur ketenangan seperti Padepokan yang dipimpin oleh Gatot Brajamusti. "Ulama-ulama kita juga harus bicara menjelaskan kepada masyarakat.Bahwa tidak ada kesuksesan itu didapat dengan cara cepat."
Pendapat serupa juga dilontarkan oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Said Aqil Siradj. Ia mengatakan, pimpinan padepokan-padepokan itu tak lebih sebagai Khowas, yakni orang yang mengaku dirinya seperti Tuhan.
Ia menegaskan, Islam tidak pernah mengajarkan hal itu. "Masyarakat jangan mudah dibohongi seperti itu. Pengawasan di padepokan-padepokan harus ditingkatkan," ujarnya.
(mus)