SOROT 431

Hoax Bikin Galau Sedunia

Warga membubuhkan cap tangan saat aksi
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha

Kepada VIVA.co.id, Jumat 13 Januari 2017, Guru Besar Universitas Airlangga, Henry Subiakto, mengungkapkan kebebasan berekspresi sepanjang tidak melanggar undang-udang tidak ada masalah.

img_title Situs Penyebar Berita Palsu Bakal Distempel oleh Polisi

Bahkan, menurut dia, kebebasan berpendapat tidak ada hubungannya sama sekali dengan hoax. “Kebebasan berpendapat itu hak konstitusional setiap warga negara. Tapi lucunya, di negara semaju dan sebebas AS justru menjadi ‘korban’ kebebasan mereka sendiri,” kata Henry.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ia mengatakan, saat Pilpres AS tahun lalu, hoax begitu gencar menyerang Hillary Rodham Clinton. Hasilnya, elektabilitas Hillary anjlok, sedangkan Trump naik signifikan. Pelaku peretasan dan penyebar berita hoax diketahui berasal dari luar negeri.

img_title Startup Ini Ajari Anak Identifikasi Hoax

Nahas. Rusia kena getahnya sebagai biang keladi peretasan. Mantan negera adidaya itu disinyalir melakukan aksi tersebut atas perintah Presiden Vladimir Putin. “Repotnya lagi, hoax juga dipercaya oleh warga AS yang jelas lebih terdidik ketimbang masyarakat kita,” tutur Henry.

Akibatnya, berita hoax Trump ini mengalahkan jumlah berita ‘asli’ dari media utama. Warga AS juga gusar terhadap pemberitaan palsu ini. Ditambah lagi, laporan CIA, Biro Federal Investigasi (FBI) dan Badan Keamanan Nasional (NSA), meyakinkan bahwa pembuat berita hoax berasal dari elemen asing, dalam hal ini Rusia.

img_title Ini Cara Kerja Badan Anti-Hoax Pemerintah

“Hoax itu mengaburkan fakta kebenaran dengan isi propaganda kebohongan dan kepalsuan. Jika masyarakat mempercayainya maka dengan mudah muncul pikiran tidak rasional, yang ujung-ujungnya, memusuhi orang lain yang sikapnya berseberangan,” papar dia.

Lantas, bagaimana cara meredam hoax agar tidak memasung demokrasi dan kebebasan berekspresi? Menurut Henry, yang utama adalah gerakan literasi antihoax. Kemudian, lakukan pemblokiran namun hanya berlaku bila isinya benar-benar melanggar UU.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Itu pun bukan situs atau portal media, karena tidak berlaku pemblokiran. Menurut Paul Horner, maestro pencipta dan penyebar berita hoax asal AS, maraknya hoax diakibatkan dari kesalahan manusia itu sendiri dalam memfilter berita.

“Sejujurnya, manusia sekarang sangat bodoh. Mereka menyebar berita apa saja, tanpa ada cek dan ricek lagi. Itulah mengapa akhirnya Trump terpilih,” terang Horner, seperti dikutip situs Washington Post. Ia melanjutkan, apa yang disampaikannya adalah semua orang langsung percaya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut