- ANTARA FOTO/Akbar Nugroho
Meski sudah memiliki beberapa BUMN yang bergerak dalam bidang industri strategis, nyatanya hingga saat ini Indonesia masih menjajaki kerja sama impor alutsista dengan negara-negara lain. Pada Maret 2015 lalu, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu bertemu Menhan Jepang, Gen Nakatani, di Tokyo. Pertemuan itu menghasilkan nota kesepahaman (MoU).
"Kedua negara sudah bertemu dua kali, bahkan sudah terbentuk MoU kerja sama pertahanan. Salah satu isi dari MoU ini mengenai kerja sama pembelian alutsista," ungkap Konselor Bidang Politik Kedutaan Besar Jepang di Jakarta, Takonai Susumu, pada Juni 2016.
![]()
Presiden Joko Widodo didampingi KSAD Jenderal TNI Gatot Nurmantyo berjalan menuju tank Leopard pada Pameran Alutsista TNI AD, kawasan Silang Monas, Jakarta, 17 Desember 2014. (ANTARA/Widodo S. Jusuf)
Dalam lawatannya ke Rusia tahun lalu, Presiden Jokowi juga sempat membahas mengenai kerja sama bidang pertahanan dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin. Sebelumnya, Indonesia pernah membeli senjata dan peralatan militer seperti tank dan pesawat tempur. "Kami harap, ada pembelian alutsista lainnya di lain kesempatan," kata Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Mikail Y Galuzin, Mei 2016 silam.
Hal ini tentu memicu pertanyaan, apakah alutsista yang dimiliki Indonesia saat ini masih kurang? Dan mengapa kita masih mengandalkan produk luar negeri untuk mempertahankan negara?
Menurut Kusnanto, alutsista Indonesia bisa dikatakan meningkat. Namun, hal itu berdasarkan jumlah, bukan kemampuan operasionalnya.
“Misalnya, kita punya mobil 10. Padahal, tidak semuanya itu bisa jalan,” tuturnya. Terkait kemampuan operasional, ia mencontohkan patroli sesuai dengan jadwal tertentu di tempat-tempat strategis. “Bisa enggak kita melakukan penangkapan terhadap pelaku illegal fishing dan seterusnya? Nyatanya masih sedikit juga,” ungkapnya.
“Kalau mau dikaitkan dengan potensi terjadinya konflik, sebenarnya kekuatan yang kita miliki itu masih minim,” ujarnya menambahkan.
Soal menggunakan produk alutsista dalam negeri, Kusnanto mengaku ragu. “Memang, ada Anoa, amfibi dan lain sebagainya. Tapi, itu jumlahnya masih sedikit. Dan belum tentu akan digunakan,” kata dia
Selain itu, kata dia, pasar ekspor alutsista juga tidak sebesar yang dibayangkan. “Kalau produk militer, tidak semua negara bisa beli dari Indonesia. Baik karena negara itu berteman dengan negara lain, maupun karena sudah ada supplier dari negara lain,” tuturnya.