- Truthnetmedia
Menurut penelitian yang dilakukan International Journal of Criminal Justice Sciences, kasus penembakan di AS 11 kali lebih banyak dibandingkan negara-negara lainnya.
Lebih dari 100 ribu warga AS terkena tembakan setiap tahunnya. Dari angka tersebut, 30 ribu di antaranya berujung tewas.
Hal ini sangat berbeda dengan yang terjadi di negara lain, seperti Inggris. Di negara tersebut, kasus penembakan terakhir terjadi pada 2010 silam. Seorang pria bernama Derrick Bird melepaskan tembakan secara acak ke segala arah.
Dalam peristiwa yang terjadi di wilayah Cumbria itu, 12 orang tewas dan 11 lainnya luka parah. Sebelumnya, kasus penembakan di Inggris terjadi pada 1996 di Sekolah Dunblane, Skotlandia. 16 pelajar dan satu guru menjadi korbannya.
Bebas Diperjualbelikan
Anggapan bahwa AS adalah surganya senjata api adalah benar adanya. Dari data International Journal of Criminal Justice Sciences, diketahui bahwa ada angka kepemilikan senjata api begitu besar di negara adidaya tersebut, mencapai 88 senjata per 100 warga.
Data lain dari organisasi Small Arms Survey (SAS) menyebutkan, AS menjadi eksportir dan importir senjata api terbesar di dunia. Mengalahkan Italia dalam hal ekspor dan Kanada dalam hal impor.
Tingginya kepemilikan senjata api di AS tidak lepas dari sejarah negara tersebut. Dilansir dari Washington Post, senjata berbentuk pistol umum dibawa-bawa oleh para koboi pada zaman dulu.
Hal itu terus berlanjut hingga tahun 1934. Ditemukannya fitur yang bisa memuntahkan banyak peluru dalam waktu singkat membuat senjata otomatis banyak disukai oleh para gangster seperti Al Capone, Pretty Boy Floyd serta Bonnie and Clyde.
Akhirnya, Franklin D Roosevelt sebagai Presiden AS saat itu mengeluarkan aturan soal kepemilikan senjata. Semua pembuatan dan transaksi tiap pucuk senjata harus membayar pajak sebesar US$200 (sekitar US$3.500 atau Rp47 jutaan untuk ukuran saat ini).
Empat tahun kemudian, aturan tersebut semakin diperketat. Setiap penjual wajib terdaftar secara hukum dan mendata semua orang yang membeli senjata di toko mereka.
![]()
Presiden AS John F Kennedy (kanan) dan Jacqueline Bouvier Kennedy (kiri) saat turun dari pesawat. (JFK Library/The White House/Cecil Stoughton)