Direktur Utama PT Indonesia Ferry Property, M Riza Perdana Kusuma

Pelabuhan Indonesia Bakal Jadi Tempat Menarik Seperti Mal

Presiden Direktur PT Indonesia Ferry Property (PT IFPRO) M Riza Perdana Kusuma
Sumber :
  • VIVA/Dhana Kencana

VIVA – Setiap Badan Usaha Milik Negara atau BUMN dituntut memberikan kontribusi bagi pembangunan di Tanah Air. Itu sebabnya hampir semua BUMN kini memiliki anak perusahaan yang didirikan khusus untuk mendukung kepentingan perusahaan induk.

Rambah Pasar Lebih Luas, ASDP Bina Pelaku UMKM di Labuan Bajo

Begitu pula dengan PT ASDP Indonesia Ferry. Perusahaan yang tugas utamanya adalah melayani pelayaran dalam negeri ini juga dituntut untuk memberikan kontribusi.

Pilihan ASDP Indonesia Ferry jatuh pada keinginan memanfaatkan lahan tidur mereka untuk diolah, dan menghasilkan keuntungan. Tapi ASDP Indonesia Ferry tak melayani bisnis properti untuk memanfaatkan lahan tidur tersebut. Maka dibentuklah anak perusahaan PT Indonesia Ferry Property atau IFPRO. 

ASDP Layani 45,6 Juta Penumpang Kapal Ferry Selama 2023

IFPRO bertugas 'menghidupkan' lahan tidur milik ASDP, yang kini mengelola 35 pelabuhan di seluruh Indonesia. Sebagai operatornya, ASDP Indonesia Ferry lalu merekrut M. Riza Perdana Kusuma, mantan direktur Operasional dan Komersial PT Angkasa Pura Solusi, anak perusahaan PT Angkasa Pura II.

Riza, begitu alumni Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia ini dipanggil, diminta mengelola IFPRO. Penulis buku 'Cahaya di Tirai Sakura' yang berpengalaman mengelola 'tempat rusak' hingga menjadi baik dan menghasilkan ini menerima tantangan baru itu.

ASDP Imbau Pengguna Jasa Beli Tiket H-1 Saat Libur Isra Miraj-Imlek

Tanpa rombongan, Riza melangkah. Ia bahkan merekrut sendiri karyawan yang akan membantunya di IFPRO.

Mantan Senior Manager Pre and Post Journey Services dan General Manager PT Garuda Indonesia Tbk (Persero) di Nagoya, Jepang, Hong Kong, dan Taiwan ini akhirnya berhasil mendapatkan 18 orang yang bersedia bekerja dengannya, bahkan meski awalnya mereka tak paham, perusahaan apa yang dipromosikan Riza saat mewawancarai mereka. 

Sekitar sembilan bulan lalu IFPRO dibentuk. Riza langsung berlari mewujudkan keinginan ASDP Indonesia Ferry. Kini, proyek besar itu sudah mendekati untuk dioperasionalkan. Pelabuhan itu di Merak dan Bakauheni, satu lagi di Labuan Bajo.

Awal Desember 2018, hasil karya Riza segera bisa dinikmati oleh publik. Seperti apa Riza bergerak memotivasi timnya hingga menghasilkan proyek raksasa, diceritakan Riza pada VIVA yang meminta waktu untuk berbincang.

Di kantor mungil yang nyaman dan terasa di rumah sendiri, Riza menerima VIVA dan melayani berbagai pertanyaan. Berikut petikan wawancara dengan Riza, yang kini posisinya adalah presiden direktur Indonesia Ferry Property. 

Apa yang membuat Anda tertarik menggarap perusahaan ini?
Saya merasa tertarik karena perusahaan ini benar-benar mulai dari nol. Jadi benar-benar seperti kertas putih, bagaimana saya harus mewarnai. Saya sewaktu di Garuda (perusahaan tempat Riza bekerja sebelumnya), sering kali diminta mengerjakan proyek dari nol, dari tak ada sampai menjadi ada. Tapi ini mandiri, dan di luar zona saya tadi. 

Jadi ini benar-benar dari nol? Sudah terhitung berapa bulan?
Ini bulan kesembilan. Benar-benar mulai dari nol. Perizinan, dan rekrutmen itu paralel. Dan saya tidak bawa gerbong. Semua rekrutmen saya lakukan sendiri, melalui Instagram. Saya keluar dari anak perusahaan AP II itu bulan Juni, dan perusahaan ini secara legal dibikin pada Oktober.

Jadi selama tiga bulan saya pelajari, saya buat feasibility studies, saya pelajari market-nya, gimana proyeknya berada, dan saya uji coba. Waduh, saya bilang waktu itu, saya prediksi ini akan terbentuk dua bulan lagi, tapi saya belum ada orang, bagaimana saya akan bekerja?

Lalu bagaimana Anda merekrut orang?
Akhirnya saya iseng mempublikasikan pengumuman mencari orang melalui Instagram dan FB saya, bahkan meski tidak ada nama perusahaannya. Jadi yang saya jual adalah nama saya sendiri. Saya sampaikan bahwa saya mendapat proyek baru, saya jelaskan perusahaan ini bergerak di bidang apa, bla bla bla, tapi belum ada namanya.

Itu sebenarnya saya uji coba, memang IG saya itu saya bangun untuk membangun rasa percaya orang terhadap saya. Makanya saya uji coba. Ternyata yang masuk banyak. Jadi saya langsung lakukan walk in interview selama dua hari. 

Anda turun sendiri melakukan perekrutan? 
Iya. Ya, enggak ada orang, enggak ada pilihan. Bahkan kalau mereka nanya, nama perusahaannya apa, saya belum tahu. Jadi mereka ini adalah orang-orang yang percaya, dan mereka itu juga tidak semuanya follower saya di Instagram.

Ada yang tahu dari temannya, ada yang dari saudaranya, tapi mereka percaya. Mereka siap membangun rasa percaya pada saya. Jadi ini semua pelajaran bagi saya, bahwa kemampuan mengelola media sosial itu penting banget.

Berapa lama proses perekrutan, dan bagaimana prosesnya?
Dalam dua hari, ada 80 cv yang masuk. Tapi yang direkrut cuma 10. Buat saya, semua yang saya lakukan, dan apa yang saya alami dalam hidup saya adalah universitas. Di mana pun saya berada, saya tak pernah menjadikan itu sebagai tempat kerja, tapi saya posisikan sebagai sebuah sekolah.  

Jadi setiap hari saya harus mendapatkan pelajaran. Jadi ketika ada cv yang masuk, saya belajar menjadi seorang human resources, saat melakukan wawancara, saya belajar juga menjadi marketing PR, sebab saya memasarkan pada mereka, sesuatu, yang barangnya belum ada. 

Lalu sekarang saya belajar juga menjadi leader, bagaimana men-deliver culture, bagaimana mengikat mereka. Loyalitas integritas akan terbangun saat kepercayaan terbangun. Waktu di Garuda, saya sering dikirim ke kantor cabang yang ‘rusak’, saya memang membangun, tapi membangun sesuatu yang sudah ada dan sudah besar. Nah perusahaan ini, saya membangun dari nol. Buat saya ini menarik, cerita tentang membangun sebuah perusahaan. 

Bagaimana proses awalnya Indonesia Ferry Property berdiri?
Awalnya, pemerintah, dalam hal ini Presiden, Kementerian Perhubungan, BUMN dan segala macam, keliling Indonesia. Mereka kemudian berkumpul dengan direksi ASDP dan PT PP.

Dibicarakan banyak hal bahwa BUMN itu perlu diberdayakan. Nah, di era sekarang, BUMN sekarang itu kan harus untung. Mereka harus bisa berkontribusi, mereka harus keluar dari zona yang sebenarnya.

Bisa dikatakan ASDP ini sudah terlambat dibandingkan BUMN yang lain, karena BUMN lain sudah punya anak perusahaan. Padahal ASDP ini punya 35 perusahaan dan punya lahan yang menganggur dan belum termanfaatkan.

Jadi keberadaan anak perusahaan BUMN itu adalah bagaimana anak perusahaan bisnis di luar core business induk, tetapi tujuan utamanya adalah mendukung bisnis induk tersebut. Nah buat ASDP, ini adalah yang pertama. Perusahaan ini dibangun dengan dana 51 persen dari ASDP dan 49 persen dari PP. PP juga sudah punya enam sampai tujuh perusahaan. 

Itu alasan kenapa ASDP Indonesia Ferry punya Indonesia Ferry Property (IFPRO). Karena IFPRO ini diharapkan bisa memanfaatkan lahan menganggurnya si induk ini.

Nah begitu dibangun, kami sudah memiliki tiga proyek yang masih fokus dengan arahan itu. Pertama di Labuan Bajo itu ada tanah dua hektare, tanah di sekitar pelabuhan.

Pelabuhan itu hanya melayani perjalanan satu kali sehari, dari Bajo ke Sape, perjalanan selama 14 jam. Karena jadwal perjalanan hanya sekali dalam sehari, maka ada lahan menganggur, dan itu bisa dimanfaatkan.

Perusahaan induk kan tidak bisa fokus memanfaatkan lahan menganggur, akhirnya dibentuklah kami. Jadi tugas kami pertama yaitu adalah membangun kawasan itu menjadi kawasan turisme. Karena memang Labuan Bajo sudah mengarah ke pariwisata.

Presiden Direktur PT Indonesia Ferry Property (PT IFPRO) M Riza Perdana Kusuma

Apa yang dilakukan IFPRO di Labuan Bajo?
Ada empat bisnis besar yang ada di situ, adalah pembangunan pelabuhan Marina atau Marina Port. Jadi Marina itu akan jadi tempat parkir yacht, kapal pribadi, kapal pesiar segala macam. Itu dibangun untuk kapal pribadi yang sampai 75 meter, segala macam. Dan itu memang targetnya internasional, selain lokal.  

Kemudian yang kedua adalah membangun hotel bintang empat. Di situ ada 150 lebih kamar. Lalu ada komersial area, dan satu lagi adalah beach club. Ada dua area utama di Labuan Bajo, jalan Soekarno-Hatta. Keuntungannya, Labuan Bajo itu kan sudah jadi tempat wisata. Areanya adalah island hopping, jadi kami buat pintu untuk keluar masuk itu dari pelabuhan kita. 

Di mana lagi selain Labuan Bajo?
Ada lagi di Merak dan Bakauheni. Kalau ini awalnya ketika Presiden menyeberang, bisa ditempuh dalam waktu satu jam. Padahal umumnya, lama penyeberangan adalah tiga sampai tiga setengah jam. Nah Presiden Jokowi lalu bilang, kalau begitu, dibikin satu jam.  

Lalu apa yang dibangun IFPRO di Merak dan Bakauheni?
Nanti pelabuhan ini ada dua zona, zona yang reguler dan zona yang punya kelebihan, di mana schedule-nya harus fix, kemudian secara fasilitas, ada tempat menunggu yang nyaman, pembelian tiket, dan lain lain.

Akhirnya dari bangunan yang diberikan ke kami, kami sudah terima bangunannya. Kita coba breakdown, executive terminal itu seperti apa sih dari sisi layanannya? Nah kita juga ambil dari sisi airport. Mulai dari memastikan keberangkatan yang sesuai jadwal, ada meeting room, ada garbarata, dan lain sebagainya. 

Bakauheni dan Merak juga memanfaatkan lahan sendiri?
Lahan sendiri. Iya, jadi di Bakauheni dan Merak itu lahannya ASDP, di atas pelabuhan. Di Merak ada 7 dermaga, Bakauheni ada tujuh dermaga. Kalau yang di Merak kita ada di dermaga 6, yang Bakauheni di dermaga 7.

Jadi di sana akan ada bangunan empat lantai, nanti ada stasiun KAI, ada pintu masuk. Ini lahan sendiri, dan berdasar konsepnya, peruntukannya kita ubah jadi mal, juga pelabuhan bukan hanya untuk penyeberangan.

Bagaimana bisa sampai terpikir ke sana?
Selama ini, memang seolah-olah pelabuhan itu tidak tersentuh ya. Dan kalau kita mau lihat tempat pelabuhan yang nyaman itu hanya ada di luar negeri. Nah kenapa di Indonesia enggak seperti itu?

Jadi nanti di ruang tunggunya, harapannya ada lounge-nya, dan tidak tertutup seperti bandara. Tetapi orang bisa seperti working space, nongkrong di sini, dan pemandangannya adalah lalu lintas ferry, itu indah banget. Ini harapannya berkembang, ada garbarata.

Kapal juga direncanakan untuk bisa jalan dua jam sekali. Jadi jelas, bagaimana fungsi bangunan, dan bagaimana ini kapal juga akan direnovasi. Tapi itu bukan wilayah kita. Kapalnya itu dimiliki oleh ASDP. Karena itu core business-nya ASDP.  

Rencananya kapal ini akan jalan dua jam sekali, di awal Desember nanti. Harapannya tiket bisa dibeli di mana pun convenience store di website, Online segala macam. Dan ini adalah bangunan yang hampir sempurna.  Hal yang seru itu adalah di sini langsung keluar ferry, langsung ditangkap pintu tol Sumatera. Ini seru banget. Tol ini Bakauheni ke Palembang terus ke Aceh. 

Jadi mengusung konsep awal sebagai sebuah mal?
Iya. Kenapa mal? Karena secara demografi itu memungkinkan, secara lokasi juga. Harapannya, dua pelabuhan ini akan menjadi semacam centre of interest atau pusat yang menarik, dari orang-orang sekitar.

Tempat di mana orang bisa bikin beragam aktivitas di situ. Jadi kita ingin membuat pelabuhan yang bisa menjadi tempat kegiatan lain. Ada tempat yang proper-lah untuk menciptakan itu. Jadi kita bangun tanpa mengurangi misi kita. 

Bagaimana dampak sosialnya?
Kita udah jembatani itu. Sebetulnya, kita sudah punya strategi untuk menyelesaikan itu, tidak harus semua kaki lima ditampung semua di situ. Enggak bisa juga. 

Kapan akan dioperasikan?
Rencananya 1 Desember. 

Wah, mudik akan nyaman banget?
Iya, termasuk Natal dan tahun baru.

Berapa nilai investasinya? 
Investasi itu, kita hampir mendekati angka Rp900 miliar, untuk dua itu. Itu sudah termasuk 30 persen modal sendiri, dari dua induk, ASDP dan PP. Kemudian dari perbankan 70 persen. 

Sudah dengan Labuan Bajo? 
Itu udah semua, untuk tiga itu. 800 sekian lah ya angka pastinya. Tapi kurang lebih sekitar itu. 

#Riza lalu memutarkan video proyek IFPRO di Labuan Bajo. Ia juga menjelaskan seperti apa konsep yang bangun di sana. Ia juga menjelaskan dengan detail, lokasi Marina, Beach Club, Hotel, Area Komersial, Function Room yang mampu menampung hingga 1.000 orang. Termasuk area untuk menggelar aktivitas kesenian, open theatre, dan piazza. Juga ada Rooftop, hingga wedding stage. Karena aktivitas ferry di Labuan Bajo hanya sekali sehari, maka konsep property di Labuan Bajo berbeda dengan konsep di Merak-Bakauheni. Di akhir video terlihat logo Patra Jasa dicantumkan juga.#

Presiden Direktur PT Indonesia Ferry Property (PT IFPRO) M Riza Perdana Kusuma

Di sini Patra Jasa sebagai apa? 
Sebenarnya sebagai penggagas awal ya. Terus ini mereka mau masuk lagi untuk share sahamnya. Mereka sharing saham, dan nanti rencananya hotel di Labuan Bajo akan dikelola oleh Patra Jasa, dan ini adalah bentuk sinergi antar BUMN.

Patra Jasa di Merak dan Bakauheni? 
Kita, Merak-Bakauheni itu konsep awalnya sebetulnya adalah konsep hotel, tapi transit. Nah kita juga minta mereka untuk menangani itu, tapi cuma 30-40 kamar. Kita juga masih berpikir apakah konvensional kamar atau pakai hotel capsul. 

Kembali ke proyek. Berapa lama proses pembangunannya? 
Hanya delapan bulan. Properti itu kan sebenarnya best practice-nya itu 1,5 hingga dua tahun. Tapi ini kurang lebih 10 bulan sampai satu tahun lah. 

Ini kan proyek besar, bagaimana support dari pemerintah dan BUMN lain? 
Alhamdulillah, support terasa. Seperti perbankan, itu kita sudah involve dari awal. Kemudian tidak hanya dari pemerintah pusat, dari BUMN dari pemerintah daerah juga memberi dukungan dengan baik, maka kita muncul dengan sebuah solusi. Karena kita come up dengan sebuah solusi yang juga, maka kita sudah siap menjawab.

Bagaimana Anda membangun semangat karyawan untuk bekerja dengan pesat?
Kami punya strategi, agak unik, ada tiga Si. Si yang pertama itu terdiri dari dua S I, S I nya itu efisiensi, jadi efisiensi karena memang kita startup, kan, jadi segala sesuatu kita memang harus efisien. Contohnya, SDM kita di tiga project cuma 18 orang, sangat efisien.

Kedua, kita punya strategi maksimalisasi, yaitu bagaimana memaksimalkan sumber daya yang kita miliki. Kemudian ketiga adalah aktivasi, what next after launching, itu adalah bagaimana mengaktivasi.

Karena kalau Merak-Bakauheni, itu adalah daerah yang sebetulnya orang tidak interest, tapi membuat itu menjadi interest kan. Bagaimana memikat orang, termasuk bagaimana kita mengembangkan jaringan ke semua yang kompeten di situ. Kita aktif melakukan komunikasi dengan siapa saja. 

Apa yang akan ditawarkan di pelabuhan ini?
Karena saya berlatar belakang airline waktu itu, adi tiga proyek ini sebetulnya dibangun dengan beban pendanaan yang cukup besar.

Nah, kita punya tantangan bagaimana mengembalikan modal. Secara otomatis, saya tidak bisa bawa konsep layanan penuh maskapai, di mana permintaannya semua harus kelas bintang lima. 

Lalu bagaimana menyiasatinya?
Saya coba rombak ke arah Low Cost Carrier.  Artinya seluruh poin yang ada, kita terbuka untuk kerja sama dengan siapa pun selama menghasilkan uang.

Kalau perlu seragamnya front liner harus dicap untuk komersial, apa promosinya, boleh. Jadi sudah sejauh itu. Bangunan kita branding, apa kita kerja sama kan, ini semua dalam proses.

Jadi selama itu menghasilkan uang, kita akan coba jalan kan. Makanya saya meeting itu bisa sampai Sabtu Minggu tidak pernah berhenti. Business card saya dari Garuda saya bawa semua, saya blast semua.

Ternyata ada saja hasilnya. Oh, ini ada dari sini, yang enggak kebayang kerja sama, jadi kerja sama. 

Apa kiat Anda untuk tetap mengelola tim?
Ada tiga 'C' lain. Pertama adalah collaboration. Jadi bisnis kami itu dalam FS itu ada empat, ada hotel, kemudian komersial, ritel, Kemudian ada marina, juga ada advertising-lah.

Sekarang dengan collaboration ini kita set up ada sekitar 20 sampai 21 bisnis bentuknya, nah kolaborasi ini menunjukkan kita mencari rekan kerja yang profesional, punya kapabilitas di bidang nya, punya expertise tentang apa pun yang terkait dengan bisnis itu kita kembangkan bersama. Jadi kita terbuka kepada siapa pun. 

Kemudian C berikutnya adalah cooperation, waktu kita masuk ke Labuan Bajo, kita bukan yang pertama dari sekian kamar resort hotel bisnis yang sudah mapan di situ. Kalau kita datang sebagai pendatang baru, pasti mereka melihat seperti kompetitor.

Nah, kita masuk dengan sebuah konsep yang agak unik, jadi kita menciptakan bisnis dengan kita menjual bersama-sama. 

Nah kemarin baru Minggu lalu kita sosialisasi dan kita welcome. Nah, cooperation itu adalah bagaimana bergerak bersama pesaing, tapi kepentingan bersama dan kita jadi otaknya, dan itu berhasil. 

Kemudian C terakhir adalah co creating, itu adalah menciptakan sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Menciptakan yang kurang menjadi lebih baik atau menciptakan sesuatu yang benar-benar baru. Anggaplah saat ini kami sedang creating new value. Nah itu semua kita jalankan berbarengan dengan proses pembangunan. Alhamdulillah walhasil sudah ready

Proyek Labuan Bajo yang Anda gambarkan tadi sangat modern, berkelas internasional. Bagaimana mengatasi kesenjangan dengan warga sekitar?
Saya begitu lihat, melakukan feasibility studies, baca segala macam. Memang Labuan Bajo itu hidup karena aktivitas di laut, jadi orang ke sana itu menariknya adalah ke pulau-pulau itu, Kemudian nginep di pinisi-pinisi itu, Kemudian di hotel itu cuma semalam untuk transit dan pergi lagi ke daerah.

Sementara di pulaunya itu tidak ada yang menarik, beda dengan di Bali. Jadi bahkan dalam FS-nya itu banyak sekali unemployment, jadi sebetulnya kalau kita mengembangkan bisnis ini di darat, kita seolah-olah jadi pionir sih. 

Berarti proses yang akan dilakukan, membuat tamu lebih banyak di darat?
Kita akan menjadikan mereka yang dari daerah datang ke Jakarta melalui jalur darat, longstay bisa lebih tertata. Hidup di darat lebih banyak, dan secara otomatis lingkungan juga hidup. Dan keberadaan kita dengan empat proyek ini menampung unemployment yang ada, atau mengurangi lah.

Alhamdulillah tidak timbul kesenjangan, karena sosialisasi kita cukup rapi. Dua minggu yang Lalu kita baru kembali sosialisasi dengan asosiasi. Dengan tadi co creation dan coopetition itu soft sebetulnya. 

Presiden Direktur PT Indonesia Ferry Property (PT IFPRO) M Riza Perdana Kusuma
Apa yang akan dilakukan untuk melibatkan warga sekitar?
Ada dua sisi juga. Di bangunan tadi saya sebutkan juga ada piazza, ada theatre, itu sebetulnya saya dan tim mencoba menjembatani apa sih sebetulnya yang bisa diberdayakan dari sisi seni, kebudayaan, dan penampilan segala macam.

Saya bermimpi area kami yang terbuka itu akan digratiskan untuk mereka, tapi dengan jadwal yang benar, dengan aktivitas yang benar. Bahkan kalau perlu ada kursus nari kayak di Ubud itu lho. Saya bisa kerja sama dengan sekolah untuk bikin ekstra kurikuler. Di tempat saya, itu kan menjadi daya tarik, kalau itu menjadi dan bisa menjadi performance secara reguler, saya yakin bisa bisnis berjalan. 

Kemudian kekhawatiran kami akan merchandise karena banyak merchandise di sana tapi asalnya dari tempat lain. Maka kita punya breaktrough dengan program CSR, nanti akan gunakan kurator desainer untuk mengecek semua merchandise bahkan di luar Flores pun saya buka. 

Kenapa begitu? 
Karena orang di sana dengan keterbatasan ada pemicunya, sesuatu dari luar. Jadi kita akan kombinasikan untuk dikerjakan bersama. Nanti akan kita pajang di galeri. Kita punya galeri, gratis. Jadi pendapatan akan kembali ke mereka. 

Ada kemungkinan mereka menjadi gegar budaya?
Gegar budaya atau shock culture, enggak. Karena sebetulnya, di sana sudah banyak hotel dan beberapa rumah musik sudah ada di sana. Kemudian restoran juga sudah ada. Jadi kami melakukan hal yang sama di sana tapi lebih proper. Bangunan dan area ini menjadi yang paling proper di sana. Mana ada di situ pedestrian delapan meter, enggak ada. Kemudian Marina di situ akan mengedukasi sisi kebersihan karena Marina butuh air yang bersih, lingkungan yang bersih. 

Kenapa pilihannya Merak-Bakauheni dan Labuan Bajo? 
Merak-Bakauheni itu menjadi pelabuhan tersibuk pertama bagi ASDP. Jadi kalau sering dengar puncak liburan, maka Merak-Bakauheni menjadi pusatnya. Untuk Labuan Bajo, itu karena menjadi salah satu dari empat destinasi yang sedang dijagokan pemerintah di luar Bali. Dan kebetulan ASDP punya lahan di situ. Jadi pilihan lebih ke alasan itu. 

Kapal ferry identik dengan menengah bawah, tapi proyek yang dibangun seperti untuk menengah atas?
Jadi gini, keberadaan terminal itu pasti akan menjadi jembatan, yang bawah ke atas, yang atas enggak turun ke bawah. Yang di atas tetap berada di situ. Harapan kami memang akan mendobrak market baru, menengah ke atas, karena harganya pasti akan berbeda kan.

Tapi karena terminal ini, bukan terminal bandara, sehingga dia captive untuk pelayanan yang menyeberang, hanya kepada mereka yang tadi menggunakan tiket eksekutif, tapi kalau untuk pelayanan keseluruhan terbukti untuk semua. 

Jadi, meski dari mereka ada yang menengah ke bawah, menyeberang bukan pakai kapal eksekutif, maka tetap bisa singgah di situ, bisa parkir di situ. Orang yang tidak nyebrang pun bisa parkir di situ. Karena ada malnya. Jadi itu akan menjadi tempat menunggu yang representatif buat siapa pun. 

Bagaimana konsep menghadapi mudik mendatang?
Pada intinya kapal ini nanti kan memang ada setiap dua jam sekali uji coba, kemudian ke dua me-running sebuah fasilitas yang terkait dengan kepentingan publik yang cukup besar. Pengalaman saya di airport Terminal 3 dan lain sebagainya waktu itu, saya masuk itu kan memang bangunan itu sudah jadi. Tapi di sini, kita harus memperbaiki segala macam. Dan tuntutan dari pemerintah yang memang harus cepat memang. Ini sosialisasi kita memang sangat halus. Memang kita tidak sosialisasi besar-besar. 

Mengapa tak sosialisasi besar-besaran?
Karena ini kan fasilitas publik, sehingga sosialisasinya juga tidak jorjoran, tapi aktivitas program tiga bulan untuk menghidupkan di situ. Aktivasi sudah kita rencanakan.  

Jadi nanti ada acara kayak misalnya ada bazar, ada musik festival apa segala macam kita sudah set up seperti itu. Tapi dalam promosi kita tidak bisa promosi dalam skala besar, karena memang budget promosi kita tidak terlalu besar. 

Harapannya adalah fasilitas publik dan perusahaan yang dibiayai negara, harapannya menggulirkan promosi ini akan lebih cepat. Di luar itu kita juga maksimalkan aktivitas social media yang sekarang mungkin lebih menjanjikan dibanding lini yang lain.

Jadi yang kita lakukan ini adalah kita mengambil, pertama, adalah momentum peak season nanti, yang Natal dan tahun baru. Kemudian aktivitas social media sudah kita lakukan dari sekarang. Lalu networking b to b sudah kita jalankan bersama. 

Dengan kapal baru bagaimana biaya yang akan dikeluarkan penumpang? 
Ketentuan tarif itu persetujuan dari Kementerian Perhubungan. Jadi langkahnya masih cukup panjang sampai dengan 1 Desember. Harus ada persetujuan dari Kementerian Perhubungan bahwa ini layak. Kemudian nanti setelah penilaian dinyatakan oke, baru menentukan tarif. Kemudian ada perhitungan induk terkait dengan subsidi BBM, apakah mau dicabut atau tidak. Jadi tarif ini yang menentukan adalah induk. Sampai detik ini prosesnya masih bergulir. 

Apakah proyek Merak-Bakauheni dan Labuan Bajo akan mengajak UKM berpartisipasi? 
Kalau UKM itu sebetulnya kita kemarin dengan sosialisasi, lambat laun nanti akan kita sebarkan melalui website. Pendekatan pada mereka melalui pemerintah lokal. Kita tidak menargetkan yang pasti karena dengan konsep kurator atau kurasi, maka proses perputaran uangnya bisa tinggi dan terus terang kami bukan yang akan mengambil untung.

Kita startup, oleh karena itu kita harus efisiensi dari sisi pengeluaran. Ini bukan menjadi hal utama kita, tapi kita mempersiapkan ini untuk menjadi jembatan, sehingga pada saat kita buka seluasnya orang masuk. Kita pun tidak targetkan berapa minimal, karena kembali lagi ini terkait dengan produk dan kami tidak mau asal-asalan.

Tugas kurator profesional itu nanti akan mendongkrak nilai komersialnya. Jadi kita ingin mendorong supaya begitu dipajang, dagangan mereka lalu. Kita bisa siapkan galerinya. Mungkin konsep ini belum pernah ada di tempat lain. 

Hal yang sama akan dilakukan di tiga tempat itu?
Kita akan ciptakan tiga galeri di tiga tempat itu. Tapi bisa jadi malah meluas. Kalau sekarang ada anak muda bikin kerajinan di mana gitu, kan sering kali jadi liar.  Nah, jadi saya akan buka seluas-luasnya untuk siapa pun mau mendukung di situ. Nah trigger ini adalah untuk mendorong pengusaha lokal dan tradisional untuk termotivasi. Jadi kita enggak melulu Labuan Bajo. 

Strategi pemasaran lainnya apa?
Strategi saya yang lain yang agak menarik adalah seperti Gambir dan Terminal 3. Itu sebetulnya kalau mau promosi gampang, tanpa biaya besar. Kita mau menyiapkan packaging khusus, plastik khusus yang di situ tulisannya Labuan Bajo, I love  Labuan Bajo since bla bla bla, apa gitu.

Dan begitu orang bawa itu, mereka senang dan bawa ke bandara atau segala macam. Orang akan tahu. Saya kasih website-nya aja. Selesai. Jadi co creating itu adalah promosi itu dilakukan bersama. Bahkan konsumen kami pun ikut promosi. 

Konsep begini, pendapatan perusahaan diperkirakan dari mana? 
Saya belajar itu dari airport juga, eranya agak sedikit tertukar. Airport zaman dulu, pendapatannya itu selalu bertumpu pada aeronautical, harga parkir, landing, take off, kemudian fasilitas yang ada di situ dan sebagainya. Dulu 70 persen dari aeronautical, Kalau non aero autical itu hanya pemanis aja, sekitar 30 persen saja sudah bagus.

Sekarang kayak Changi dan Kanada itu berubah, mereka menargetkan non aeronautical itu 70 persen. Kenapa Changi sering bikin event, sales segala macam.

Jadi arahnya saya ke situ. Penginnya nanti aktivitas nanti bisa menyumbang lebih banyak terhadap core-nya kita. Maunya seperti itu. Kenapa kita pengin Low Cost Carrier, masukan di situ, kenapa kita ingin 21 bisnis di situ. Karena kalau drop bisnis main kita ada pendamping, sih sebenarnya. 

Kapal ASDP sudah siap di tanggal 1 Desember? 
Kita itu kan sebenarnya melayani ASDP, jadi tanggal yang dimaui itu adalah dari ASDP. Kita hanya ikuti saja. Enggak mungkin kita jalan duluan kapalnya enggak ada. Tanggal itu adalah dari induk. Konsep awal itu adalah bahwa kita akan memberi dukungan dari induk dalam track itu. 

Tadi dikatakan investasi ini butuh 70 persen pinjaman dari perbankan, apa yang dijadikan jaminan? 
Itu sebetulnya proses sudah lewat, tinggal menentukan banknya yang mana. Ini kita belum proses ke situ. Tapi semuanya udah rapi. Yang dijaminkan adalah karena kami berada di dua induk.

Memang ada semacam guarantee dari induk sih. Kemudian ada BOT dari proses bisnis. Karena kan tanah punya kami. Bisnis yang ada di atasnya dengan BOT dengan jaminan dari induk itu, itulah yang akan dijadikan dasarnya.

Administrasi masih sama. Kita memang untuk anak perusahaan yang menjalankan kita, bukan yang nomor satu. Jadi bank seharusnya sudah enggak perlu bertanya-tanya lagi. Karena ini sudah applicable di tempat lain karena anak

Perusahaannya sudah menggunakan dana perbankan untuk menghidupi proses bisnisnya. Jadi kita jaminkan itu tadi. Tapi yang paling besar adalah dari induk. Kan memang induk kami adalah BUMN besar yang cukup bagus secara nama. 

Target mulai ada revenue
Tanggal 1 Desember. Tapi Alhamdulillah ini mimpi saya dulu. Bagaimana ada revenue sebelum proyeknya kelar. Jadi saya pakai ilmu di AP 2 kemarin. Di bangunan kami nanti kan pasti ada aktivitas kebersihan, parkir, apa saja ada segala macam. Kita sudah konsepkan itu.

Tapi kalau nunggu jalan kan lama. Maka kita jual proyek-proyek itu ke induk dan alhamdulillah udah jalan. Jadi per dua bulan yang Lalu. Kita sudah mulai dapat pendapatan sih. Gitu

Target kembali modal?
Saya masih pakai target perbankan. Masih pakai situs bersama-sama, tidak terlalu kepedean lah dalam hal ini. 

Saya masih pakai angka 10 sampai 15 tahun karena BOT kita kan 30 tahun ya. Jadi saya masih pakai yang sangat konvensional. Kita pakai yang sangat pesimis walaupun effort saya sudah tidak pesimis lagi. Saya sangat optimis ke arah itu. 

Wilayah yang dikembangkan sering terjadi gempa. Seperti NTT sering tsunami bagaimana antisipasinya? 
Secara standar baku dari pembangunan apa segala macam kan itu sudah yang membangun, kan ada PP dalam hal ini. Kita sudah mengalami tahapan itu. Jadi secara administrasi secara checking kualitas dan kendala jika terjadi bencana itu sudah dilalui.

Jadi go ahead. Kalau itu jadi kendala ya lama-lama Indonesia enggak bangun. Semua hidup di Kalimantan. Jadi masalah bencana itu ya tetap dipertimbangkan, dan enggak menjadi kendala sih buat ki

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya