Direktur Utama AirNav, Novie Riyanto Rahardjo

Target Kita Melayani Bukan Keuntungan

Direktur Utama AirNav Indonesia, Novie Rianto Rahardjo.
Sumber :
  • Raden Jihad Akbar/VIVA.co.id

Karena itu ini membutuhkan suatu teknik pengontrolan keselamatan yang sangat presisi di situ, jadi pilotnya dituntut ATC nya juga dituntut, termasuk pelayanan navigasi dan komunikasi kita harus dipastikan sampai 100 persen dari ground to air. Jangan sampai ada blank spot, Alhamdulilah sekarang sudah tidak ada. 

img_title Industri Penerbangan Kompak Bangkit dari Keterpurukan

Namun, juga jangan lupa, yang ruang udara kita di atas, di timur ini juga banyak sekali. Contoh terbang dari Sydney ke Jepang, yang overflying ini sangat banyak, jadi yang namanya ACC Makassar juga sangat padat, ACC itu pengontrol udara di atas 24 ribu kaki. Ini juga kontribusinya sangat besar untuk keselamatan kita maupun pendapatan kita. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Direktur Utama AirNav Indonesia, Novie Rianto Rahardjo.

img_title Menteri Sandiaga Tegaskan Garuda Indonesia Harus Diselamatkan

Direktur Utama AirNav Novie Riyanto Rahardjo

Khusus wilayah timur, bagaimana AirNav meningkatkan pelayanan navigasi di sana?

img_title KKB Bakar Kawasan Bandara Sugapa, Kantor AirNav Dipastikan Aman

Terus terang kita sedang giat-giatnya, kita sangat konsisten dan intensif untuk bisa meningkatkan pelayanan navigasi di Papua. Kenapa? Karena setelah kita data, di Papua itu ada 109 titik yang menjadi target perbaikan. 

Di mana titik-titik itu satu-satunya untuk transportasi. Artinya tidak ada ada transportasi darat atau pun sungai, sehingga mereka hanya bergantung dengan udara. 

Nah untuk bisa memperbaiki koneksi ini harus ada navigasi yang baik, Jangan sampai pesawatnya nyasar, gak bisa landing nabrak gunung dan saling tabrakan. Kita konsentrasi ke sana, sehingga investasi kita di Papua kita tingkatkan, orang maupun peralatan. 

Teknologi apa yang dipakai untuk di Papua? 

Untuk peralatan, kemajuannya Alhamdulillah sangat banyak ya. Karena Indonesia sudah bisa memproduksi sendiri Automatic Dependent Surveillance-Broadcast (ADS-B). Yaitu radar sintetik yang dibuat BUMN juga, PT Inti dan dulu di riset dengan BPPT. 

Sekarang sudah bisa kita gunakan dengan harga yang murah, dan karena dibuat sendiri kan kita tahu apa saja permasalahannya. Jadi hal ini bisa mudah-mudahan bisa meningkatkan keselamatan penerbangan di Papua.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kontrol navigasi udara di Indonesia dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia seperti apa? 

Navigasi untuk penerbangan itu universal, standarnya satu di dunia. Kalau di Australia menerapkan standard x, otomatis di kita juga menerapkan standar itu, apalagi kita bertetangga.  Tidak boleh di Australia sangat presisi begitu masuk ke kita tidak. Ibaratnya di sana pakai tol, masuk ke kita gang. Jadi tidak boleh begitu. Jadi peralatannya sama, kemampuan orangnya sama dan prosedurnya juga sama. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut