'Pisahkan Pemilu Nasional dan Daerah'

Pakar Hukum Tata Negara, Refly Harun saat berkunjung ke kantor VIVA di Jakarta.
Pakar Hukum Tata Negara, Refly Harun saat berkunjung ke kantor VIVA di Jakarta.
Sumber :
  • VIVA/Dhana Kencana

VIVA – Pemilu serentak yang baru pertama kalinya diselenggarakan di Indonesia, di satu sisi, dianggap sukses dari sisi penyelenggaraan. Para pemimpin dunia menyampaikan ucapan selamat kepada Indonesia karena Pemilu Serentak 2019 berjalan damai tanpa kerusuhan.

Tapi di sisi lain, Pemilu serentak ini dianggap ruwet dan melelahkan, bahkan berdampak fatal hingga merenggut nyawa ratusan petugas PPS dan aparat keamanan, diduga karena kelelahan. Proses pemungutan dan penghitungan suara di banyak TPS pada Pemilu Serentak ini memakan waktu sehari semalam non-stop, menguras waktu dan tenaga. Penggabungan memilih anggota DPRD Kota, DPRD Provinsi, DPD, DPR RI, dan Presiden dalam satu waktu kini dianggap banyak pihak tidak efektif.

Soal ini lah yang turut disinggung Pakar Hukum Tata Negara, Dr. Refly Harun, S.H., M.H., LL.M saat memberikan penjabaran detil tentang Pemilu 2019, dan Pemilu-pemilu sebelumnya. Termasuk bagaimana idealnya proses pemilihan legislatif dan pemilihan presiden. Sejumlah hal terkait pelaksanaan Pemilu tahun ini dia paparkan secara kritis. Ketika berkunjung ke kantor VIVA.co.id, mantan wartawan ini menyampaikan analisisnya yang mumpuni terkait pelaksanaan Pemilu. 

Bagaimana pandangan Refly Harun, yang pernah menjadi Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa di Universitas Gajah Mada soal Pemilu? Usulan apa saja yang ia miliki agar Pemilu berjalan lancar, adil, dan tidak melelahkan? Apa yang menjadi harapan pria kelahiran tahun 1970 itu terkait pelaksanaan Pemilu di negeri ini?

Berikut petikan wawancara VIVA dengan Refly Harun:

Bagaimana Anda melihat proses penyelenggaraan Pemilu 2019 ini?
Saya termasuk orang yang mengatakan bahwa pemilu era reformasi adalah pemilu yang penuh dengan kekurangan dan kecurangan. Tetapi kalau kekurangan dan kecurangan itu diorkestrasikan oleh hanya satu kekuatan saja, saya kira itu terlalu naif.

Semua kekuatan itu pasti berlaku curang. Itu opini saya secara umum ya, boleh dong orang beropini. Dan saya tidak menuduh oknum tertentu atau orang tertentu yang berlaku curang.