Usaha Ritel Masih Sangat Menjanjikan

Ketua Umum Aprindo, Roy N. Mandey.
Ketua Umum Aprindo, Roy N. Mandey.
Sumber :
  • Rochimawati / VIVA.co.id

VIVA –  Satu demi satu swalayan dan department store mengumumkan penutupan tokonya. Setelah Pasaraya, Lotus, belasan gerai Hero, awal Juli publik dikejutkan dengan pengumuman penetapan tutupnya enam gerai hypermarket Giant di berbagai wilayah DKI Jakarta. Tahun sebelumnya Giant dan Hero juga sudah mengumumkan tutupnya toko mereka. 

Kondisi ini mengundang pertanyaan, sebab pemerintah selalu mengatakan ekonomi negeri ini terus membaik. Lalu mengapa sejumlah hypermarket malah tutup. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicolas Mandey membantah bergugurannya gerai karena pembeli lebih senang belanja online atau daya beli menurun. Menurutnya, perubahan pola belanja konsumen berperan besar dalam proses gugurnya sejumlah hypermarket. 

Dalam wawancara dengan VIVA yang dilakukan di Jakarta pada Kamis, 4 Juli 2019, Roy dengan lancar menceritakan bagaimana perkembangan industri ritel saat ini. Ia bahkan menyebut situasi ritel saat ini berada dalam proses anomali industri.

Seperti apa anomali industri yang terjadi di industri ritel? Bagaimana perkembangan industri ritel di seluruh Indonesia saat ini? Apa saja yang dilakukan Aprindo untuk terus mengedukasi dan menjaga anggotanya? Kepada VIVA, Roy menuturkan banyak hal. Simak wawancara dengan Roy Nicolas Mandey di bawah ini:

Sejumlah swalayan berguguran, sementara ekonomi disebut membaik. Tanggapan Anda?
Apa yang terjadi saat ini di dalam industri ritel biasa disebut sebagai anomali industri, yaitu adanya suatu perubahan bentuk atau tipe dari yang sebelumnya menjadi tipe yang berbeda. Anomali industri ritel ini sebenarnya sudah terjadi sejak 3-4 tahun terakhir. Industri ritel kita atau toko modern yang masuk dalam anggota Aprindo seluruh Indonesia yang beranggotakan 40.000 toko dengan 600-an anggota dari Aceh sampai Jayapura itu sangat merasakan sekali perubahan atau anomali industri ritel ini.

Mengapa terjadi anomali pada industri ritel? 
Perubahan yang signifikan dalam industri ritel ini disebabkan beberapa faktor. Pertama adalah akibat globalisasi, yang berubah-ubah sesuai dengan jamannya. Mau tidak mau kita juga harus ikut berubah, sebab kita meyakini satu-satunya perubahan yang tidak berubah yaitu perubahan itu sendiri.

Kedua, akibat teknologi. Jadi globalisasi mendorong perubahan perilaku dari customer yaitu lebih mudah mendapatkan info dengan mengakses informasi lewat internet. Customer lebih cepat mendapatkan info segala sesuatu, di Indonesia maupun di luar Indonesia. Tren atau style itu begitu cepatnya, sehingga perubahan globalisasi yang didukung oleh teknologi dapat mengubah segala sesuatunya. Termasuk pola belanja konsumen. Sehingga ketika ritel mendapatkan kenyataan ini, tidak ada jalan lain ritel juga harus berubah.