Alat dan SDM Pemantau Gempa Sudah Bagus

Kepala PVMBG, Kasbani di Pos Pengamatan Gunungapi Agung di Bali.
Kepala PVMBG, Kasbani di Pos Pengamatan Gunungapi Agung di Bali.
Sumber :

Kalau sesuai pemetaan PVMBG, patahan-patahan sesar yang cukup rawan itu di mana?
Begini, karena gempa ini juga tidak bisa diprediksi kapan terjadinya gempa, maka untuk mengantisipasinya kami sudah membuat Peta Kawasan Rawan Bencana Gempa Bumi. Kalau terjadi gempa kira-kira dampaknya akan seperti apa di daerah tersebut. Pemetaan itu tentunya berdasarkan pada kondisi struktur geologinya di wilayah sekitar. Ada juga sejarah masa lalunya, jenis batuannya. Karena kalau batuannya keras agak sedikit teredam, tapi kalau batuannya lunak atau tidak terkonsolidasi itu akan menambah atau memperbesar efek guncangan. Jadi itu semua ada di Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB). Dan itu sudah kita siapkan. 

Bagaimana mitigasinya?
Ini juga salah satu mitigasi, untuk menyiapkan diri jika terjadi gempa di daerah-daerah tersebut kira-kira potensinya berapa besar sih? Jadi peta KRB itu sudah kita siapkan baik untuk skala regional maupun nasional.

Terakhir BMKG sempat menyatakan bahwa di selatan Jawa itu berpotensi gempa megathrust dan berpotensi tsunami juga. Apa benar demikian?
Iya itu tadi. Kan memang kondisi tektoniknya di Indonesia seperti itu. Ada jalur di sebelah barat Sumatera, di selatan Jawa, di selatan Pulau Nusa Tenggara, di sebelah timur Sulawesi Utara, daerah-daerah itu memang zona produksi. Zona produksi inilah yang dinamakan zona megathrust. Dan situ memang ada potensinya. Dan itu lah negara kita. 

Kita juga sebenarnya sudah memetakan secara regional segmen-segmen megathrust dan potensi berapa besar kalau dia terjadi gempa. Ada sekitar 13 segmen di semua jalur itu. Dan masing-masing mempunyai potensi maksimal. Misalnya terjadi gempa di segmen A, itu dia punya potensi maksimal. Ada yang 8,1 SR, ada yang macam-macam lah skalanya. Dan memang potensi itu ada. Itu untuk kesiapsiagaan kita juga. Tetapi bukan berarti tiap saat akan terjadi gempa segitu. Jadi tergantung kondisinya juga. Nah, untuk menuju potensi gempa sebesar itu (8,1 SR), tentunya dibutuhkan semua komponen yang ada di sana itu bergerak, jadi seperti rangkaian yang bergerak sepotong-potong gitu.

Petugas Pos Pengamatan Gunung Merapi menunjukkan grafik seismograf letusan freatik Gunung Merapi

Termasuk yang terjadi di Lombok?
Iya. Semua di selatan Jawa, sebelah barat Sumatera, kemudian di selatan Nusa Tenggara itu kan daerah sesar. Jadi bukan baru sekarang ini saja. Itu sejak dulu, sejak jamannya mbah-mbah kita itu memang sudah ada riwayat seperti itu.

Kepala PVMBG, Kasbani di Pos Pengamatan Gunungapi Agung di Bali.

"Masyarakat tak perlu khawatir berlebihan. Pemerintah terus mempersiapakan mitigasi bencana dengan baik. Termasuk melakukan pencatatan dengan alat yang memadai di setiap pos penjagaan dan SDM yang berkualitas".

Apa yang perlu disiapkan pemerintah dan publik?
Yang terpenting itu mitigasinya sebetulnya. Untuk daerah-daerah yang rawan seperti itu, mitigasinya seperti apa. Tentunya dari sisi peningkatan kapasitas bagaimana kita memberikan pemahaman kepada masyarakat agar masyarakat bisa lebih peduli dalam antisipasi bencana. Kemudian yang kedua, bagaimana mitigasi itu bisa dilakukan secara fungsional dan struktural. Struktural itu seperti bagaimana bangunan-bangunan yang ada bisa tahan gempa. Kemudian bagaimana kita mempersiapkan tanggul-tanggul untuk mengantisipasi tsunami. Itu kan juga perlu dipersiapkan.

BNPB sebelumnya sempat menyatakan bahwa ada ribuan desa berpotensi terpapar tsunami. Jika melihat kondisi sesar, artinya itu mungkin terjadi?
Makanya, saat ini kita sudah persiapkan peta Kawasan Rawan Bencana. Peta ini dibuat berdasarkan struktur geologi setempat, kemudian sejarahnya di situ pernah terjadi atau tidak, karena kan kita bisa lihat, bisa dicek kembali daerah-daerah mana saja yang pernah mengalami tsunami, dan seberapa besar. Dan teman-teman kami sudah bisa dan itulah yang digunakan untuk peta Kawasan Rawan Bencana untuk tsunami. Di situ akan terlihat ada kawasan KRB tinggi, menengah, dan rendah. Kemudian yang tinggi ini jangkauannya sampai seberapa.

Maka yang itulah yang perlu diperhatikan jika terjadi gempa. Baik itu gempa megathrust, maupun gempa tektonik. Dan peta itu yang kemudian dapat digunakan untuk memprediksi, jika terjadi tsunami maka akan terpapar seberapa jauh, itu yang dipakai sebagai acuan untuk memitigasi kita. 

Artinya publik tak perlu khawatir berlebihan?
Iya. Karena sebenarnya untuk memitigasi bencana baik itu gunung meletus, gempa, tsunami, sebenarnya kita sudah memetakan daerah mana yang dapat berpotensi gempa. Daerah mana yang bisa berpotensi tsunami atau tidak. Kalau yang tidak, ya masyarakat juga tak perlu khawatir. Wilayah yang berpotensi terjadi tsunami inilah jika terjadi gempa, paling tidak sudah bisa diantisipasi.