Alat dan SDM Pemantau Gempa Sudah Bagus

Kepala PVMBG, Kasbani di Pos Pengamatan Gunungapi Agung di Bali.
Kepala PVMBG, Kasbani di Pos Pengamatan Gunungapi Agung di Bali.
Sumber :

Bagaimana dengan fenomena likuifaksi seperti yang terjadi ketika gempa bumi dan tsunami di Palu?
Hampir semua gempa-gempa besar itu diikuti dengan likuifaksi. Cuma skalanya saja yang berbeda-beda. Dan itu tergantung kondisi tanah dan bebatuan di situ. Untuk terjadi likuifaksi ada persyaratannya, artinya tidak ujug-ujug terjadi pergeseran tanah atau likuifaksi itu. Likuifaksi itu kan karena ada peluruhan, harus ada material yang berupa pasir, lumpur, dan harus ada ceruk air di daerah itu. Gempa di Lombok juga diikuti likuifaksi, cuma skalanya kecil. Karena di sana itu,  di bawah permukaan tanah itu pasir, begitu digoncang gempa maka terjadilah peluruhan itu tadi. Di Aceh juga terjadi likuifaksi, cuma skalanya berbeda dengan yang terjadi di Palu.

Kalau di Palu, lembah di dalamnya ada sesar. Kemudian di pinggir-pinggir pulaunya itu banyak perbukitan sepanjang itu, dan bukit-bukit ini kan dengan material lepas. Berkumpul di bawah itu, airnya juga berkumpul di bawah situ. Jadi persyaratan untuk terjadinya likuifaksi itu sangat mungkin terjadi.

Begitu terjadi goncangan besar, kan terjadi peluruhan, dan kebetulan di sana juga sudah pernah dipetakan sebenarnya oleh Badan Geologi, salah satu peneliti air tanah itu, bahwa lokasi itu berpotensi terjadi likuifaksi di sana. Dan itu publish di tahun 2012. Kalau sampai terjadi ada bangunan atau rumah yang tenggelam itu karena memang kondisi bebatuan yang tercampur pasir dan air di bawah permukaan tanah itu yang berada di lereng-lereng itu tadi.

Kalau dari hasil analisis dan pemetaan PVMBG, potensi likuifaksi bisa terjadi di daerah mana saja?
Untuk sementara ini, dari hasil pemetaan yang kami sudah lakukan tidak ada. Belum ada potensi likuifaksi yang sebesar itu (Palu). Karena letak geografis tanahnya tidak ada yang seperti di Palu. Seperti di Lombok misalnya, itu kan hanya sumurnya yang kering. Karena memang tidak terlalu tebal potensi likuifaksinya. Terus kemudian di Aceh juga begitu, paling rumah-rumah yang miring lah kalau terjadi gempa besar, paling sumur-sumur kering. Kalau di Palu itu memang kondisi lereng-lereng pegunungannya sangat memungkinkan untuk terjadi seperti itu.

Bagaimana Anda melihat kemampuan mitigasi kita?
Kalau kita untuk identifikasi. Mitigasi di kami itu ada beberapa yang kami lakukan. Pertama kita melakukan identifikasi potensi melalui pemetaan, penelitian, sehingga menghasilkan pemetaan kawasan rawan bencana itu seperti apa. Kemudian kita juga melakukan monitoring atau pemantauan, terutama untuk gunung berapi. Kita juga turun ke lapangan jika terjadi bencana bersama stakeholder yang lainnya. Termasuk juga sosialisasi peta rawan bencana. Dan itu umumnya sudah kita lakukan.

Untuk gunung api, kita sudah petakan kawasan gunung-gunung api juga. Jadi daerah-daerah bahayanya juga sudah kita lokalisir. Daerah bahayanya itu jika terjadi erupsi besar, dan itu kita mengacu pada sejarah gunungnya juga. Peralatan yang tersedia sudah memadai, SDM juga sudah bagus. Banyak langkah yang sudah kita lakukan. Mulai dari penelitian, pemetaan, monitoring, kemudian tim tanggap daruratnya, dan juga sosialisasi daerah rawan bencana kepada masyarakat.

Tapi sosialisasinya tak menggema di publik?
Memang harus kita akui, untuk sosialisasi saat ini belum sangat masif kita lakukan. Misalnya kalau ada kasus-kasus tertentu baru sosialisasi kita lakukan. Karena wilayah atau negara kita ini kan luas sekali ya, dan juga untuk pemetaan KRB-nya sudah selesai semua. Sehingga yang lain, atau yang bisa kita lakukan dari sisi skala petanya yang kita lakukan.

Apa yang harus dilakukan pemerintah untuk menguatkan mitigasi yang dilakukan oleh PVMBG?
Mitigasi bencana ini kan untuk mengurangi atau meminimalisir dampak yang diakibatkan dari bencana yang terjadi, dan itu tidak bisa dilakukan hanya satu institusi saja. Kita memerlukan sinergitas sesuai dengan porsinya masing-masing. Kalau kita kan misalnya lebih banyak memberikan rekomendasi dari hasil penelitian kita, hasil monitoring kita, kemudian kita berikan rekomendasi. 

Nah, inilah harus disambung dengan instansi lainnya untuk membantu menginformasikan rekomendasi kita kepada masyarakat, dan itu bukan hal yang mudah. Menerjemahkan bahasa teknis kepada bahasa yang dimengerti oleh masyarakat. Makanya di gunung api ini selalu ada pengamatnya, karena pengamat ini yang setiap hari bisa berkomunikasi dengan masyarakat dan bisa menerjemahkannya.

Dan dia juga yang memastikan kalau alat itu berfungsi, dan juga kalau ada kerusakan dia langsung melaporkan. Makanya di internal kita juga saling terangkai sebenarnya, demikian juga dengan institusi lain, yang kita perlukan adalah sinergitas antara BNPB, atau BPBD untuk di daerah, kepala daerah, Muspida juga demikian. Jika ada rekomendasi dari kami, mereka yang bisa menindaklanjuti agar dapat meminimalisir dampak bencana atau korban.

Artinya sebenarnya bencana alam seperti erupsi gunung berapi, gempa bumi, tsunami sebenarnya itu sudah bisa diprediksi jauh-jauh hari ya? Artinya sebenarnya kita sangat mungkin untuk meminimalisasi jatuhnya korban jiwa?
Iya, bisa diprediksi sebenarnya. Tapi persisnya kapan kejadian itu, maka tidak bisa kita pastikan kapan. Tapi antisipasinya itu bisa kita persiapkan. 

Gunung di Indonesia kan kita monitoring, kita amati itu, pengamat kita itu kan selalu memberikan laporan hasil pengamatannya kepada kita, dan kita selalu melakukan evaluasi, dan memberikan rekomendasi kepada pihak-pihak terkait. Dan pengamat kita juga selalu berkoordinasi dengan BPBD, Muspida, baik unsur TNI, kepolisian itu kita lakukan untuk mengantisipasi terjadinya bencana dan meminimalisir korban.